Rabu, 24 Desember 2014

FRAKTUR FEMUR 1/3 PROKSIMAL



1)   Apakah definisi dari fraktur? Apa saja jenis fraktur?
Jawab         : Fraktur atau sering disebut sebagai adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian (Chairudin Rasjad, 1998 dalam buku (Muttaqin, 2008)). Biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang (Sylvia A. Price, 1999 dalam buku (Muttaqin, 2008)). Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan, terutama tekanan membengkok, memutar dan menarik (Chairudin Rasjad, 1998 dalam buku (Muttaqin, 2008)).
Klasifikasi fraktur menurut Chairudin Rasjad (1998):
a.    Fraktur traumatik (trauma tiba-tiba)
b.    Fraktur patologis (akibat patologis penyakit misal tumor)
c.    Fraktur stress (trauma yang terus menerus)
Klasifikasi fraktur menurut Charles A Rockwood secara radiologis:
a.    Lokalisasi/letak fraktur : diafisis, metafisis, intra-artikular, dan fraktur dengan dislokasi
b.    Konfigurasi/sudut patah dari fraktur
·      Fraktur transversal (garis patahnya tegak lurus dengan sumbu panjang tulang)
·      Fraktur oblik (sepanjang garis tengah tulang)
·      Fraktur spiral (memuntir seputar batang tulang)
·      Fraktur kominutif (tulang pecah menjadi beberapa fragmen)
·      Fraktur segmental (dua fraktur berdekatan pada satu tulang)
·      Fraktur impaksi atau fraktur kompresi (dua tulang menumbuk tulang ketiga yang berada diantaranya)
c.    Menurut ekstensi
·      Fraktur total
·      Fraktur tidak total (fracture crack)
·      Fraktur buckle atau torus
·      Fraktur garis rambut
·      Fraktur greenstick (salah satu tulang patah, sedangkan sisi lainnya membengkok)
·      Fraktur avulsi (memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun ligamen)
·      Fraktur sendi
Klasifikasi Fratur secara umum:
1.    Fraktur tertutup (simple fracture). Fraktur yang fragmen tulangnya tidak menembus kulit sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan/tidak mempunyai hubungan dnegan dunia luar.
2.    Fraktur terbuka (compound fracture). Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from without (dari luar).
Sedangkan pengertian dari fraktur femur atau patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan kondisi tertentu, seperti degenarasi tulang atau osteoporosisi. Dan fraktur femur 1/3 proksimal adalah fraktur yang terjadi di paha bagian atas.
Sumber
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. (P. E. Karyuni, Ed.). Jakarta: EGC.

2)   Apa saja tahapan penyembuhan fraktur dan faktor-faktor penyembuhnya?
Jawab         :
Tahapan penyembuhan tulang:
1.    Tahap inflamasi (72 jam)
Tempat cidera diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar) yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri.
2.    Tahap polimerasi sel (3 hari sampai 2 minggu)
Hematom akan mengalami organisasi, terbentuk benang-benang fibril dalam jendalam darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast.
3.    Tahap pembentukan kalus (3-10 hari)
Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat matur
4.    Tahap penulangan (osifikasi) (3-10 minggu)
Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar telah bersatu dengan keras.
5.    Tahap menjadi tulang dewasa (remodeling)
Meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi  tulang baru ke susunan struktural sebelumnya.
Sumber
Faktor penyembuh Fraktur:
1.         Usia penderita
2.         Lokalisasi dan konfigurasi fraktur
3.         Pergeseran awal fraktur
4.         Vaskularisasi pada kedua fragmen
5.         Reduksi serta imobilisasi
6.         Waktu imobilisasi
7.         Ruangan di antara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lunak
8.         Faktor adanya infeksi dan keganasan total
9.         Cairan sinovial
10.     Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak
Faktor lain yang mempercepat penyembuhan fraktur adalah:
1.    Nutrisi yang baik
2.    Hormon-hormon pertumbuhan
3.    Tiroid
4.    Kalsitonin
5.    Vitamin D
6.    Steroid anabolik


Sumber
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. (P. E. Karyuni, Ed.). Jakarta: EGC.
3)   Apa yang dimaksud dengan ORIF?
Jawab         : ORIF adalah Metode penata pelaksanaan patah tulang dengan cara pembedahan reduksi terbuka dan fiksasi internal dimana insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan ditemukan sepanjang bidang anatomik tempat yang mengalami fraktur.
Sumber
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. (P. E. Karyuni, Ed.). Jakarta: EGC.
4)   Bagaimana prosedur penyembuhan dengan ORIF dan efek samping ORIF?
Jawab         :
1.      DAMPAK ORIF
Keuntungan perawatan fraktur dengan pemasangan ORIF (Operasi) antra lain:
a.       Ketelitian reposisi fragmen-fragmen fraktur
b.      Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf di sekitarnya.
c.       Stabilitas fiksasi yang cukup memadai dapat dicapai
d.      Perawatan di RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi
e.       Potensi untuk mempertahankan fungsi sendi yang mendekati normal serta kekuatan otot selama perawatan fraktur.
Kerugian yang potensial juga dapat terjadi antara lain :
a.       Setiap anastesi dan operasimempunyai resiko komplikasi bahkan kematian akibat dari tindakan tersebut.
b.      Penanganan operatif memperbesar kemungkinan infeksi dibandingkan pemasangan gips atau traksi.
c.       Penggunaan stabilisasi logam interna memungkinkan kegagalan alat itu sendiri
d.      Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak, dan struktur yang sebelumnya tak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi.
PERUBAHAN PATOLOGI SETELAH DILAKUKAN OPERASI ADALAH :
1.      Oedema
Oedema dapat terjadi karena adanya kerusakan pada pembuluh darah akibat dari incisi, sehingga cairan yang melewati membran tidak lancar dan tidak dapat tersaring lalu terjadi akumulasi cairan sehingga timbul bengkak.
2.      Nyeri
Nyeri dapat terjadi karena adanya rangsangan nociceptor akibat incisi dan adanya oedema pada sekitar fraktur.
3.      Keterbatasan LGS
Permasalahan ini timbul karena adanya rasa nyeri, oedema, kelemahan pada otot sehingga pasien tidak ingin bergerak dan beraktivitas.Keadaan ini dapat menyebabkan perlengketan jaringan dan keterbatasan lingkup gerak sendi (Apley, 1995).
4.      Potensial terjadi penurunan kekuatan otot
Pada kasus ini potensial terjadi penurunan kekuatan otot karena adanya nyeri dan oedema sehingga pasien enggak menggerakkan dengan kuat. Tetapi jika dibiarkan terlalu lama maka penurunan kekuatan otot ini akan benar-benar terjadi
5.      Komplikasi
Pada kasus ini jarang sekali terjadi komplikasi karena incisi relatif kecil dan fiksasi cenderung aman. Komplikasi akan terjadi bila ada penyakit penyerta dan gangguan pada proses penyambungan tulang.

Sumber



5)   Kapan ORIF dilakukan?
Jawab         :
Iindikasi tindakan ORIF :
1.    Fraktur intra-artikular, misalnya fraktur maleolus, kondilus, olekranon patela
2.    Reduksi tertutup yang mengalami kegagalan, misalnya fraktur radius dan ulna disertai mal posisi yang hebat (fraktur yang tidak stabil)
3.    Bila terdpat interposisi jaringan di antara kedua fragmen
4.    Bila diperlukan fiksasi rigid, misalnya pada fraktur leher femur
5.    Bila terdapat kontraindikasi pada imobilisasi eksterna, sedangkan diperlukan mobilisasi yang cepat, misalnya fraktur pada orang tua
6.    Fraktur avulasi, misalnya pada kondilus humeri
Sumber
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. (P. E. Karyuni, Ed.). Jakarta: EGC.
6)   Pada bagian apa ORIF dilakukan?
Jawab         : pada daerah patah tulang yang membutuhkan penyatuan fragmen kembali
7)   Mengapa dilakukan ORIF?
Jawab         : karena tulang yang patah harus segera di reposisi kembali agar dapat menyatu dan sejajar
8)   Apa yang dimaksud dengan debridement?
Jawab         : Debridement adalah proses pengangkatan jaringan avital atau jaringan mati dari suatu luka.
Sumber
 http://bedahminor.com/index.php/main/show_page/235#sthash.wUs3BME1.dpuf
9)   Bagaimana prosedur dari debridement?
Jawab         :
1.      Tindakan a dan antiseptik
2.      Anestesi infiltrasi sekitar luka
3.      Luka dicuci sampai bersih
4.      Identifikasi jaringan nekrotik dan struktur neuro vaskular.
5.       Jepit jaringan nekrotik dengan pinset, gunting
6.      Ulangi langkah 5 sampai semua/sebagian besar jaringan terbuang. Sampai jaringan sehat terlihat (sudah ada perdarahan normal)
7.      Jika luka tertutup darah, cuci kembali dengan NaCl 0.9 %, lalu kembali identifikasi jaringan nekrotik.
8.      Selanjutnya tergantung tipe luka dapat dijahit primer atau dilakukan perawatan luka terbuka atau tindakan definitif lainnya.
Sumber
10)    Mengapa dilakukan debridement?
Jawab       :
Tujuan dilakukan debridement adalah
1.    Mengevakuasi bakteri kontaminasi
2.    Mengangkat jaringan nekrotik sehingga dapat mempercepat penyembuhan
3.    Menghilangkan jaringan kalus
4.    Mengurangi resiko infeksi local
11)    Bagaimana proses dan efek samping debridement?
Jawab         :
Terdapat 4 metode debridement, yaitu autolitik, mekanikal, enzimatik dan surgikal. Metode debridement yang dipilih tergantung pada jumlah jaringan nekrotik, luasnya luka, riwayat medis pasien, lokasi luka dan penyakit sistemik.
1.    Debridement Otolitik
Otolisis menggunakan enzim tubuh dan pelembab untuk rehidrasi, melembutkan dan akhirnya melisiskan  jaringan nekrotik. Debridement otolitik bersifat selektif, hanya jaringan nekrotik yang dihilangkan. Proses ini juga tidak nyeri bagi pasien. Debridemen otolitik dapat dilakukan dengan menggunakan balutan oklusif atau semioklusif yang mempertahankan cairan luka kontak dengan jaringan nekrotik. Debridement otolitik dapat dilakukan dengan hidrokoloid, hidrogel atau transparent films.

Indikasi
    • Pada luka stadium III atau IV  dengan eksudat sedikit sampai sedang.
Keuntungan:
    • Sangat selektif, tanpa menyebabkan kerusakan kulit di sekitarnya.
    • Prosesnya aman, menggunakan mekanisme pertahanan tubuh sendiri untuk membersihkan luka debris nekrotik .
    • Efektif dan mudah
    • Sedikit atau tanpa nyeri.
Kerugian:
    • Tidak secepat debridement surgikal.
    • Luka harus dimonitor ketat untuk melihat tanda-tanda infeksi.
    • Dapat menyebabkan pertumbuhan anaerob bila hidrokoloid oklusif digunakan.
2.    Debridement Enzymatik:
Debridement enzimatik meliputi penggunaan salep topikal untuk merangsang debridement, seperti kolagenase. Seperti otolisis, debridement enzimatik dilakukan setelah debridement surgical atau  debridement otolitik dan mekanikal. Debridement enzimatik direkomendasikan untuk luka kronis.
Indikasi
    • Untuk luka kronis
    • Pada luka apapun dengan banyak debris nekrotik.
    • Pembentukan jaringan parut
Keuntungan
    • Kerjanya cepat
    • Minimal atau tanpa kerusakan jaringan sehat dengan penggunaan yang tepat.

Kerugian:
    • Mahal
    • Penggunaan harus hati-hati  hanya pada jaringan nekrotik.
    • Memerlukan balutan sekunder  
    • Dapat terjadi inflamasi dan rasa tidak nyaman.
3.    Debridement Mekanik
Dilakukan dengan menggunakan balutan seperti anyaman yang melekat pada luka. Lapisan luar dari luka mengering dan melekat pada balutan anyaman. Selama proses pengangkatan, jaringan yang melekat pada anyaman akan diangkat. Beberapa dari jaringan tersebut non-viable, sementara beberapa yang lain viable. Debridement ini nonselektif karena tidak membedakan antara jaringan sehat dan tidak sehat. Debridement mekanikal memerlukan ganti balutan yang sering.
Proses ini bermanfaat sebagai bentuk awal debridement atau sebagai persiapan untuk pembedahan. Hidroterapi juga merupakan suatu tipe debridement mekanik.Keuntungan dan risikonya masih diperdebatkan.
Indikasi
    • Luka dengan debris nekrotik moderat.
Keuntungan:
    • Materialnya murah (misalnya tule)
Kerugian:
o   Non-selective dan dapat menyebabkan trauma jaringan sehat atau jaringan penyembuhan
o   Lambat
o   Nyeri
o   Hidroterapi dapat menyebabkan maserasi jaringan. Juga penyebaran melalui air dapat menyebabkan kontaminasi atau infeksi. Disinfeksi tambahan dapat menjadi sitotoksik.
4.    Debridement Surgikal
Debridement surgikal adalah pengangkatan jaringan avital dengan menggunakan skalpel, gunting atau instrument tajam lain Debridement surgikal merupakan standar perawatan untuk mengangkat jaringan nekrotik. Keuntungan debridement surgikal adalah karena bersifat selektif; hanya bagian avital yang dibuang. Debridement surgikal dengan cepat mengangkat jaringan mati dan dapat mengurangi waktu. Debridement surgikal dapat dilakukan di tempat tidur pasien atau di dalam ruang operasi setelah pemberian anestesi.
Ciri jaringan avital adalah warnanya lebih kusam atau lebih pucat(tahap awal), bisa juga lebih kehitaman (tahap lanjut), konsistensi lebih lunak dan jika di insisi tidak/sedikit mengeluarkan darah. Debridement dilakukan sampai jaringan tadi habis, cirinya adalah kita sudah menemulan jaringan yang sehat dan perdarahan lebih banyak pada jaringan yang dipotong.
Luas dan radikalitas debridemet dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Indikasi
o   Luka dengan jaringan nekrotik yang luas
o   Jaringan terinfeksi.
Keuntungan:
o   Cepat dan selektif
o   Efektif
Kerugian :
    • Nyeri
    • Mahal, terutama bila perlu dilakukan di kamar operasi
Sumber
 http://bedahminor.com/index.php/main/show_page/235#sthash.W64R5jnZ.dpuf
12)    Apa definisi dari osteomyelitis?
Jawab       : Osteomyelitis adalah proses inflamasi akut atau kronik pada tulang dan struktur sekundernya karena infeksi oleh bakteri piogenik.
Sumber
ikextx.weebly.com/uploads/4/6/9/3/469349/osteomyelitis_ind.doc
13)    Mengapa bisa terjadi osteomyelitis?
Jawab       : osteomyelitis dapat disebabkan oleh organisme piogenik, walaupun berbagai agen infeksi lain juga dapat menyebabkannya. Infeksi dapat terjadi secara:
1.      Hematogen, dari fokus yang jauh seperti kulit, tenggorok.
2.      Kontaminasi dari luar yaitu fraktur terbuka dan tindakan operasi pada tulang
3.      Perluasan infeksi jaringan ke tulang di dekatnya.
Sumber
http://referensikedokteran.blogspot.com/2010/10/osteomielitis.html
14)    Dibagian mana terjadi osteomyelitis?
Jawab       : tulang dan sum sum tulang
Sumber
http://somelus.wordpress.com/2009/03/13/osteomyelitis/
15)    Kapan fraktur bisa dikatakan osteomyelitis?
Jawab       : ketika fraktur terbuka mengalami infeksi yang disebabkan oleh virus maupun bakteri
Berdasarkan lama infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu:
1.      Osteomielitis akut, yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis akut ini biasanya terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa dan biasanya terjadi sebagai komplikasi dari infeksi di dalam darah (osteomielitis hematogen)
Osteomielitis akut terbagi lagi menjadi 2, yaitu:
1.    Osteomielitis hematogen, merupakan infeksi yang penyebarannya berasal dari darah. Osteomielitis hematogen akut biasanya disebabkan oleh penyebaran bakteri darah dari daerah yang jauh. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak-anak. Lokasi yang sering terinfeksi biasa merupakan daerah yang tumbuh dengan cepat dan metafisis yang bervaskular banyak. Aliran darah yang lambat pada daerah distal metafisis menyebabkan thrombosis dan nekrosis local serta pertumbuhan bakteri pada tulang itu sendiri. Osteomielitis hematogen akut mempunyai perkembangan klinis dan onset yang lambat.
2.    Osteomielitis direk, disebabkan oleh kontak langsung dengan jaringan atau bakteri akibat trauma atau pembedahan. Osteomielitis direk adalah infeksi tulang sekunder akibat inokulasi bakteri yang disebabkan oleh trauma, yang menyebar dari fokus infeksi atau sepsis setelah prosedur pembedahan. Manifestasi klinis dari osteomielitis direk lebih terlokalisasi dan melibatkan banyak jenis organisme.
2. Osteomielitis sub-akut, yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 1-2 bulan   sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul.
3. Osteomielitis kronis, yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak infeksi pertama atau sejak penyakit pendahulu tim
Sumber
http://somelus.wordpress.com/2009/03/13/osteomyelitis/
16)    Bagaimana penanganan osteomyelitis?
Jawab       :
1.    Terapi Antibiotik
2.    Debridement
Sumber
17)    Apa yang dimaksud dengan osteoarthritis?
Jawab       : Osteoartritis merupakan gangguan persedian yang ditandai dengan adanya nyeri dan kekakuan sendi yang biasanya banyak terjadi pada usia lanjut.
Sumber
http://piolayananmasyarakat.wordpress.com/2012/08/26/osteoartritis-nyeri-sendi/
18)    Apa penyebab dan gejala osteoarthritis?
Jawab       :
Penyebab osteoarthritis
Osteoartritis disebabkan beberapa faktor. Selain faktor usia, osteoartritis juga disebabkan karena kondisi lain seperti kegemukan, cedera, abnormalitas pada saat dilahirkan, penyakit diabetes dan gout, serta penyakit hormon lainnya.
Sumber
http://piolayananmasyarakat.wordpress.com/2012/08/26/osteoartritis-nyeri-sendi/
Gejala osteoarthritis
1.    Nyeri sendi
2.    Kekakuan
3.    Hambatan gerakan sendi
4.    Bunyi gemeretak
5.    Pembengkakan sendi
6.    Perubahan cara berjalan
Gejala osteoarthritis berat:
1.    Nyeri yang menetap pada sendi yang terkena 
2.    Kekakuan pada sendi setelah bangun tidur atau setelah duduk beberapa lama
3.    Bengkak atau nyeri pada perabaan pada satu atau lebih sendi yang terkena. 
4.    Krepitus atau suara berderak yang terjadi bila sendi digerakkan 
5.    Panas, kemerahan atau nyeri saat perabaan
6.    Nyeri  tidak selalu ada Hanya sepertiga penderita dengan gambaran Rosen OA mengeluh nyeri atau keluhan lainnya.  (Wachjudi, Dewi, & Parmudyo, 2007)
Sumber
Wachjudi, R. G., Dewi, S., & Parmudyo, R. (2007). Osteoarthritis alias Pengapuran Sendi. Bandung.

19)    Dimana terjadinya osteoarthritis?
Jawab       :
1.      Osteoartriris sendi lutut.
2.      Osteoartritis sendi panggul.
3.      Osteoartritis sendi-sendi kaki.
4.      Osteoartritis sendi bahu.
5.      Osteoartritis sendi-sendi tangan.
6.      Osteoartritis tulang belakang
Sumber
Wachjudi, R. G., Dewi, S., & Parmudyo, R. (2007). Osteoarthritis alias Pengapuran Sendi. Bandung.




20)    Kapan sendi dikatakan terkena osteoarthritis?
Jawab       : Bila merasakan nyeri atau kaku saat menggerakkan sendi-sendi, dan keluhan itu menetap dalam 6 bulan
21)    Bagaimana penanganan osteoarthritis?
Jawab       :
A.  Intervensi non farmakologis
1.      Pendidikan penderita (perawatan sendiri, konsep nyeri)
2.      Latihan (olah raga) aerobik, penguatan otot, perbaikan lebar jangkauan gerakan.
3.      Kontrol terhadap faktor resiko : penurunan berat badan, alas kaki yang sesuai, pengaturan kegiatan, tongkat, alat-alat pembantu, splin.
4.      Pengobatan fisik lokal : panas, dingin, rangsangan elektrik.
B.   Pengobatan lokal dan sistemik
1.      Krim tropikal : anti radang nonsteroid, Capsaicin
2.      Suntikan sendi: steroid (anti radang), Hyaluronan (pelumas)
3.      Obat-obat peroral : Analgesik, OAINS, Amytriptyline dosis rendah, dan obat penghambat OA (DMOAD).
C.  Tindakan operasi
1.      Intervensi fisik invasiv : artroskopi, irigasi, distensi kapsular (pinggul).
2.      Operasi : Osteotomi, penggantian sendi.
Sumber
Wachjudi, R. G., Dewi, S., & Parmudyo, R. (2007). Osteoarthritis alias Pengapuran Sendi. Bandung.

22)    Apa saja ciri-ciri seseorang dikatakan menopause?
Jawab       : menopause adalah penghentian permanen menstruasi (haid) dari seorang wanita yang berarti pula akhir dari reproduktif.
Ciri-ciri:
1.    Kulit menjadi ,erah dan hangat disertai keringat yang kelebihan (hot flashes) biasanya akan terjadi selama 1 tahun atau lebih
2.    Vagina menjadi ekring karena penipisan jaringan pada dinding vagina
3.    Gejala psikis dan emosional seperti mudah lelah, mudah tersinggung, susah tidur, dan gelisah yang disebabkan oleh berkurangnya kadar estrogen
4.    Sering berkeringat pada malam hari-hari yang menyebabkan gangguan tidur sehingga kelelahan semakin memburuk dan semakin mudah tersinggung
5.    Pusing, kesemutan dan palpitasi (jantung berdebar)
6.    Hilangnya kendali terhadap kandung kemih (beser)
7.    Peradangan kandung kemih atau vagina
8.    Osteoporosis (pengeroposan tulang)
Sumber
23)    Apa saja penyebab terjadinya menopause?
Jawab       :
1.    Usia haid pertama kali (menarche)
2.    Faktor psikis
3.    Jumlah anak
4.    Usia melahirkan
5.    Pemakaian kontrasepsi
6.    Merokok
7.    Sosial ekonomi
Sumber
24)    Bagaiaman prosedur pelaksanaan X-Ray?
Jawab       :
1.    Pengaturan penderita (obyek)
2.    Pengatauran sinar
3.    Pengaturan film (asesoris)
4.    Pengaturan factor ekpos ( factor penyinaran)
Sumber

25)    Bagaimana patofisiologis luka?
Jawab       :
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1.    Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2.    Respon stres simpatis
3.    Perdarahan dan pembekuan darah
4.    Kontaminasi bakteri
5.    Kematian sel
Mekanisme terjadinya luka :
1.      Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
2.      Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3.      Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4.      Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5.      Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat.
6.      Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
7.      Luka Bakar (Combustio)
8.      Decubitus/luka tekan
karena proses tertekan yang lama di area tertentu bagian tubuh. Tekanan tersebut menyebakan gangguan sirkulasi, memperberat nekrosis, timbulnya lecet kemerahan.
o   Luka stasis vena = biasanya di ekstremitas bawah. Merupakan respon local hipoksia yang dialami oleh bagian tubuh tertentu
o   Luka diabetik + pasien dg dekubitus
Sumber
s1-keperawatan.umm.ac.id/files/file/konsep%20luka.pdf

26)    Bagaimana mobilisasi pasien fraktur?
Jawab       :
1.    Memindahkan pasien dari tempat tidur ke brankar
2.    Memindahkan pasien ke kursi roda
3.    Body alignment
a.    Posisi fowler
b.    Posisi semi fowler
c.    Posisi sims
d.    Posisi trendelenburg
e.    Posisi genu pectoral
f.      Posisi supinasi
g.    Posisi pronasi
h.    Posisi orthopneu
i.      Posisi lateral
4.    Teknik napas dalam dan efektif
Sumber
http://daengr.blogspot.com/2012/05/teknik-mobilisasi-pada-pasien-fraktur.html
27)    Pus (+) itu seperti apa?
Jawab       : luka tersebut positif mengeluarkan nanah
28)    Apa saja kontraindikasi dan bagaimana efek samping dari obat allupurinol, ceftriaxone, gentamycin, tramadol, dan metroindazole?
Jawab       :
1.    Allupurinol
A.     Farmakologi
Allopurinol dan metabolitnya oxipurinol (alloxanthine) dapat menurunkan produksi asam urat dengan menghambat xanthin-oksidase yaitu enzim yang dapat mengubah hipoxanthin menjadi xanthin dan mengubah xanthin menjadi asam urat. Dengan menurunkan konsentrasi asam urat dalam darah dan urin, allopurinol mencegah atau menurunkan endapan urat sehingga mencegah terjadinya gout arthritis dan urate nephropathy.

B.     Indikasi
Hiperurisemia primer : gout Hiperurisemia sekunder : mencegah pengendapan asam urat dan kalsium oksalat. Produksi berlebihan asam urat antara lain pada keganasan, polisitemia vera, terapi sitostatik.
C.     Kontra Indikasi
Penderita yang hipersensitif terhadap allopurinol Keadaan serangan akut gout
D.    Dosis
Terdapat 2 macam sediaan untuk allopurinol, tablet 100 mg ; 300 mg dan suntikan 500 mg/vial.
Dosis dewasa :
Tablet
·        Serangan asam urat (gout) ringan                  : 200 – 300 mg per hari.
·        Serangan asam urat (gout) sedang / berat      : 400 – 600 mg per hari.
·        Hiperurisemia karena obat antikanker          : 600 – 800 mg per hari, dimulai 1
– 2 hari sebelum kemoterapi
·        Dosis minimal                                               : 100 – 200 mg per hari.
·        Dosis maksimal                                             : 800 mg per hari.
·        Terdapat penyesuaian dosis sesuai dengan fungsi ginjal.
Dosis anak :
Tablet
·        Hiperurisemia : 10 mg/kg/hari dibagi menjadi 2 kali pemberian ; maksimal 600 mg / hari.
·        Hiperurisemia karena obat antikanker :
Usia < 6 tahun            : 150 mg / hari dibagi menjadi 3 kali pemberian.
Usia 6 – 10 tahun        : 300 mg / hari dibagi menjadi 3 – 4 kali pemberian.

E.     Penderita gangguan fungsi ginjal
Jumlah dan interval pemberian perlu dikurangi disesuaikan dengan hasil pemantauan kadar asam urat dalam serum. Untuk pasien dewasa berlaku dosis sebagai berikut:
Bersihan kreatinin : 2 - 10 ml/menit 
Dosis : 100 mg sehari atau dengan interval lebih panjang.
Bersihan kreatinin : 10 - 20 ml/menit Dosis : 100 - 200 mg sehari.
Bersihan kreatinin : > 20 ml/menit Dosis : Dosis normal.
Dosis yang dianjurkan pada penderita dialisa : allopurinol dan metabolitnya dikeluarkan dengan dialisis ginjal. Jika dialisis perlu dilakukan lebih sering, dapat dipertimbangkan pemberian allopurinol dengan dosis alternatif 300 - 400 mg segera setelah dialisa tanpa pemberian lagi diantara interval waktu.
F.      Efek Samping
Gejala hipersensitifitas seperti ekspoliatif, demam, limfodenopati, arthralgia, eosinofilia
Reaksi kulit : pruritis, makulopapular Gangguan gastrointestinal, mual, diare Sakit kepala, vertigo, mengantuk, gangguan mata dan rasa
Gangguan darah : leukopenia, trombositopenia, anemia hemolitik, anemia aplastik
Efek samping lain seperti nyeri sendi, kelainan darah, kelainan elektrolit, kelainan jantung, buang air kecil dengan darah, keracunan hati, gatal – gatal, sampai sindrom steven johnson juga pernah ditemui.
G.    Over Dosis
Pernah dilaporkan penggunaan sampai 5 g dan 20 g allopurinol. Gejala dan tanda-tanda keracunan adalah pusing, mual dan muntah. Dianjurkan minum yang banyak sehingga memudahkan diuresis allopurinol dan metabolitnya. Jika dianggap perlu dapat dilakukan dialisa.
H.    Peringatan dan perhatian
Efek allopurinol dapat diturunkan oleh golongan salisilat dan urikosurik, seperti probenesid. Hentikan penggunaan bila timbul gejala kemerahan pada kulit atau terjadi gejala alergi. Hindari penggunaan pada penderita kelainan fungsi ginjal atau penderita hiperurisemia asimptomatik. Pada penderita kerusakan fungsi hati, dianjurkan untuk melakukan tes fungsi hati berkala selama tahap awal perawatan. Keuntungan dan risiko penggunaan allopurinol pada ibu hamil dan menyusui harus dipertimbangkan terhadap janin, bayi atau ibunya. Allopurinol dapat menyebabkan kantuk. Hati-hati penggunaan pada penderita yang harus bekerja dengan konsentrasi penuh termasuk mengemudi dan menjalankan mesin. Sebaiknya allopurinol diminum setelah makan untuk mengurangi iritasi lambung. Dianjurkan untuk meningkatkan pemberian cairan selama penggunaan allopurinol untuk menghindari terjadinya batu ginjal. Bila terjadi gatal - gatal, anoreksia, serta berkurangnya berat badan, harus dilakukan pemeriksaan fungsi hati.
I.       Interaksi Obat
Allopurinol dapat meningkatkan toksisitas siklofosfamid dan sitotoksik lain. Allopurinol dapat menghambat metabolisme obat di hati, misalnya warfarin. Allopurinol dapat meningkatkan efek dari azathioprin dan merkaptopurin, sehingga dosis perhari dari obat-obat tersebut harus dikurangi sebelum dilakukan pengobatan dengan allopurinol. Allopurinol dapat memperpanjang waktu paruh klorpropamid dan meningkatkan risiko hipoglikemia, terutama pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal. Efek allopurinol dapat diturunkan oleh golongan salisilat dan urikosurik,seperti probenesid.
J.      Penyimpanan
Simpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, pada suhu 15-30°C.
Sumber

2.    Cefriaxone
A.     Indikasi
Infeksi-infeksi yang disebabkan oleh patogen yang sensitif terhadap Ceftriaxone, seperti: infeksi saluran nafas, infeksi THT, infeksi saluran kemih, sepsis, meningitis, infeksi tulang, sendi dan jaringan lunak, infeksi intra abdominal, infeksi genital (termasuk gonore), profilaksis perioperatif, dan infeksi pada pasien dengan gangguan pertahanan tubuh.
B.     Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap cephalosporin dan penicillin (sebagai reaksi alergi silang).
C.     Dosis
Dewasa dan anak > 12 tahun dan anak BB > 50 kg : 1 - 2 gram satu kali sehari. Pada infeksi berat yang disebabkan organisme yang moderat sensitif, dosis dapat dinaikkan sampai 4 gram satu kali sehari.
Bayi 14 hari : 20 - 50 mg/kg BB tidak boleh lebih dari 50 mg/kg BB, satu kali sehari.
Bayi 15 hari -12 tahun : 20 - 80 mg/kg BB, satu kali sehari. Dosis intravena > 50 mg/kg BB harus diberikan melalui infus paling sedikit 30 menit.
D.    Lamanya pengobatan
Lamanya pengobatan berbeda-beda tergantung dari penyebab penyakit seperti pengobatan dengan antibiotik pada umumnya, pemberian obat harus diteruskan paling sedikit sampai 48 - 72 jam, setelah penderita bebas panas atau pembasmian kuman tercapai dengan nyata.
E.     Instruksi dosis khusus
Meningitis : Bayi dan anak-anak : pengobatan dimulai dengan dosis 100 mg/kg BB, (jangan melebihi 4 gram) sekali sehari. Segera setelah organisme penyebab telah diketahui dan sensitivitas ditentukan, dosis dapat diturunkan. Lama pengobatan :
·         Neisseria meningitidis 4 hari.
·         Haemophilus influenzae 6 hari
·         Streptococcus pneumoniae 7 hari
·         N. gonorrhoeae (strain penghasil penisilinase dan bukan penghasil penisilinase) dosis tunggal 250 mg intramuskular.
·         Pencegahan perioperatif : Tergantung dari resiko infeksi : 1 - 2 gram dosis tunggal diberikan 30 - 90 menit sebelum operasi.
·         Gangguan fungsi ginjal dan fungsi hati : Pada kasus payah ginjal preterminal (bersihan kreatinin < 10 mL/menit), dosis tidak boleh melampaui 2 gram sehari. Tidak perlu pengurangan dosis selama fungsi salah satu ginjal atau hati masih baik.
F.      Peringatan dan perhatian
Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat, kadar plasma obat perlu dipantau. - Sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil (khususnya trimester I).
Tidak boleh diberikan pada neonatus (terutama prematur) yang mempunyai resiko pembentukan ensephalopati bilirubin.
Pada penggunaan jangka waktu lama, profil darah harus dicek secara teratur.
G.    Interaksi obat
Kombinasi dengan aminoglikosid dapat menghasilkan efek aditif atau sinergis, khususnya pada infeksi berat yang disebabkan oleh P.aeruginosa & Streptococcus faecalis.
H.    Penyimpanan
Simpan pada suhu < 25oC, lindungi dari cahaya. Obat yang sudah dilarutkan sebaiknya digunakan segera. Larutan ini boleh disimpan maksimum 8 jam pada suhu < 25°C atau 7 hari di dalam lemari es.
I.       Kelebihan cefriaxone
Spektrum aktivitas anti bakteri nya luas, mencakup bakteri gram negatif dan gram positif dengan masa kerja yang panjang dimana efek bakterisidal (membunuh bakteri) dapat bertahan selama 24 jam. Ceftriaxone cepat berdifusi ke dalam jaringan dan cairan tubuh. Ceftriaxone dapat menembus sawar darah otak sehingga dapat dicapai kadar obat yang cukup tinggi dalam cairan serebrospinal.
Sumber
http://www.hexpharmjaya.com/page/ceftriaxone.aspx
3.      Gentamicin
A.     Indikasi
Untuk pengobatan infeksi kulit primer maupun sekunder seperti impetigo kontagiosa, ektima, furunkulosis. pioderma, psoriasis dan macam-macam dermatitis lainnya.
B.     Kontra indikasi
Alergi terhadap gentamisina.
C.     Cara Kerja Obat:
Gentamisina merupakan suatu antibiotika golongan aminoglikosida yang efektif untuk menghambat kuman-kuman penyebab infeksi kulit primer maupun sekunder seperti Staphylococcus yang menghasilkan penisilinase, Pseudomonas aeruginosa dan lain-lain.
D.    Posologi:
Oleskan pada lesi kulit 3 - 4 kali sehari.
E.     Cara Penggunaan:
Obat luar.
F.      Peringatan dan Perhatian:
Penggunaan antibiotika topikal kadang-kadang menyebabkan suburnya pertumbuhan mikroorganisme yang tidak sensitif terhadap antibiotika, seperti jamur.
Bila hal ini terjadi atau terdapat iritasi, sesitisasi atau superinfeksi, pengobatan dengan Gentamisina harus dihentikan dan harus diberi terapi pengganti yang tepat.
·      Gentamisina tidak untuk pengobatan mata.
·      Obat-obat bakterisid tidak efektif terhadap infeksi kulit yang disebabkan virus dan jamur.
·      Karena keamanan pemakaian Gentamisina pada wanita hamil secara absolut belum dipastikan, tidak boleh digunakan pada wanita hamil dalam jumlah yang banyak atau periode waktu yang lama.
G.    Efek Samping:
Iritasi ringan, eritema dan pruritus.
H.    Cara Penyimapanan:
Dalam wadah tertutup rapat. Terlindung dari pengaruh panas yang berlebihan.
Jenis: Salep
Sumber
4.    Tramadol
A.     Farmakologi :
Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat. Tramadol mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga menghambat sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri. Disamping itu tramadol menghambat pelepasan neurotransmiter dari saraf aferen yang sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat. Tramadol peroral diabsorpsi dengan baik dengan bioavailabilitas 75%. Tramadol dan metabolitnya diekskresikan terutama melalui urin dengan waktu 6,3 – 7,4 jam.
B.     Cara kerja obat:
Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat.
Tramadol mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga mengeblok sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri.
Di samping itu tramadol menghambat pelepasan neurotransmitter dari saraf aferen yang sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat.
C.     Indikasi:
Efektif untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca pembedahan. 
D.    Posologi:
Dewasa dan anak di atas 16 tahun:
E.     Dosis umum:
Dosis tunggal 50 mg. Dosis tersebut biasanya cukup untuk meredakan nyeri, apabila masih terasa nyeri dapat ditambahkan 50 mg setelah selang waktu 30-60 menit.
F.      Dosis maksimum:
400 mg sehari. Dosis sangat tergantung pada intensitas rasa nyeri yang diderita.
G.    Penderita gangguan hati dan ginjal dengan "creatinine clearances" <30 ml/menit:
50-100 setiap 12 jam, maksimum 200 mg sehari.
H.    Peringatan dan perhatian:
·        Pada penggunaan jangka panjang dapat terjadi ketergantungan, sehingga dokter harus menentukan lama pengobatan.
·        Tramadol tidak boleh diberikan pada penderita ketergantungan obat.
·        Hati-hati penggunaan pada penderita trauma kepala, meningkatnya tekanan intrakranial, gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat atau hipersekresi bronkus, karena dapat mengakibatkan meningkatnya resiko kejang atau syok.
·        Penggunaan bersama dengan obat-obat penekanan SSP lain atau penggunaan dengan dosis berlebihan dapat menyebabkan menurunnya fungsi paru.
·        Penggunaan selama kehamilan harus mempertimbangkan manfaat dan resikonya baik terhadap janin maupun ibu.
·        Hati-hati penggunaan pada ibu menyusui, karena tramadol diekskresikan melalui ASI.
·        Tramadol dapat mengurangi kecepatan reaksi penderita, seperti kemampuan mengemudikan kendaraan ataupun mengoperasikan mesin.
·        Depresi pernapasan akibat dosis yang berlebihan dapat dinetralisir dengan nalokson, sedangkan kejang dapat diatasi dengan pemberian benzodiazepin.
·        Meskipun termasuk antagonis opiat, tramadol tidak dapat menekan gejala "withdrawal" akibat pemberian morfin.
I.       Efek samping
Efek samping yang umum terjadi seperti pusing, sedasi, lelah, sakit kepala, pruritus, berkeringat, kulit kemerahan, mulut kering, mual, muntah. Dispepsia dan obstipasi.
Efek samping yang berupa ketergantungan sangat jarang terjadi.
J.      Indikasi
Untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca pembedahan.
K.    Kontraindikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap Tramadol atau Opiat dan penderita yang mendapatkan pengobatan dengan penghambat MAO, intoksikasi akut dengan alkohol, hipnotika, analgetik atau obat-obat yang mempengaruhi SSP lainnya.
L.     Interaksi obat:
Efek analgesik dan sedasi tramadol ditingkatkan pada penggunaan bersama dengan obat-obat yang bekerja pada SSP seperti tranquiliser, hipnotik.
Sumber
5.    Metronidazole
A.  Indikasi:
Metronidazole efektif untuk pengobatan :
1.    Trikomoniasis, seperti vaginitis dan uretritis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.
2.    Amebiasis, seperti amebiasis intestinal dan amebiasis hepatic yang disebabkan oleh E. histolytica.
3.    Sebagai obat pilihan untuk giardiasis.
B.  Kontra Indikasi:
Penderita yang hipersensitif terhadap metronidazole atau derivat nitroimidazol lainnya dan kehamilan trimester pertama.
C.  Cara Kerja:
Metronidazole adalah antibakteri dan antiprotozoa sintetik derivat nitroimidazoi yang mempunyai aktifitas bakterisid, amebisid dan trikomonosid.
Dalam sel atau mikroorganisme metronidazole mengalami reduksi menjadi produk polar. Hasil reduksi ini mempunyai aksi antibakteri dengan jalan menghambat sintesa asam nukleat.
Metronidazole efektif terhadap Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica, Gierdia lamblia. Metronidazole bekerja efektif baik lokal maupun sistemik.
D.  Dosis:
Trikomoniasis:
Pasangan seksual dan penderita dianjurkan menerima pengobatan yang sama dalam waktu bersamaan.
Dewasa : Untuk pengobatan 1 hari : 2 g 1 kali atau 1 gram 2 kali sehari.
Untuk pengobatan 7 hari : 250 mg 3 kali sehari selama 7 hari berturut-turut.
Amebiasis:
Dewasa : 750 mg 3 kali sehari selama 10 hari.
Anak-anak : 35 - 50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 3, selama
10 hari.
Giardiasis:
Dewasa : 250 - 500 mg 3 kali sehari selama 5 - 7 hari atau 2 g 1 kali
sehari selama 3 hari.
Anak-anak: 5 mg/kg BB 3 kali sehari selama 5-7 hari.
E.   Efek Samping:
Mual, sakit kepala, anoreksia, diare, nyeri epigastrum dan konstlpasi.


F.   Interaksi Obat:
Metronidazole menghambat metabolisme warfarin dan dosis antikoagulan kumarin lainnya harus dikurangi.
Pemberian alkohol selama terapi dengan metronidazole dapat menimbulkan gejala seperti pada disulfiram yaitu mual, muntah, sakit perut dan sakit kepala.
Dengan obat-obat yang menekan aktivitas enzim mikrosomal hati seperti simetidina, akan memperpanjang waktu paruh metronidazole.
G.  Perhatian:
Metronidazole tidak dianjurkan untuk penderita dengan gangguan pada susunan saraf pusat, diskrasia darah, kerusakan hati, ibu menyusui dan dalam masa kehamilan trimester II dan III. Pada terapi ulang atau pemakaian lebih dari 7 hari diperlukan pemeriksaan sel darah putih.
Sumber
http://www.dechacare.com/Metronidazole-250-mg-P583.html