1)
Apakah definisi dari fraktur? Apa saja jenis fraktur?
Jawab :
Fraktur atau sering disebut sebagai adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang
rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian (Chairudin Rasjad, 1998 dalam
buku (Muttaqin, 2008)). Biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Fraktur
lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan fraktur tidak lengkap
tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang (Sylvia A. Price, 1999 dalam buku (Muttaqin, 2008)). Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan
tekanan, terutama tekanan membengkok, memutar dan menarik (Chairudin Rasjad,
1998 dalam buku (Muttaqin, 2008)).
Klasifikasi
fraktur menurut Chairudin Rasjad (1998):
a.
Fraktur
traumatik (trauma tiba-tiba)
b.
Fraktur
patologis (akibat patologis penyakit misal tumor)
c.
Fraktur
stress (trauma yang terus menerus)
Klasifikasi fraktur menurut Charles A Rockwood secara radiologis:
a.
Lokalisasi/letak
fraktur : diafisis, metafisis, intra-artikular, dan fraktur dengan dislokasi
b.
Konfigurasi/sudut
patah dari fraktur
· Fraktur transversal (garis patahnya tegak lurus dengan sumbu
panjang tulang)
· Fraktur oblik (sepanjang garis tengah tulang)
· Fraktur spiral (memuntir seputar batang tulang)
· Fraktur kominutif (tulang pecah menjadi beberapa fragmen)
· Fraktur segmental (dua fraktur berdekatan pada satu tulang)
· Fraktur impaksi atau fraktur kompresi (dua tulang menumbuk tulang
ketiga yang berada diantaranya)
c.
Menurut
ekstensi
· Fraktur total
· Fraktur tidak total (fracture crack)
· Fraktur buckle atau torus
· Fraktur garis rambut
· Fraktur greenstick (salah satu tulang patah, sedangkan sisi lainnya
membengkok)
· Fraktur avulsi (memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi
tendon ataupun ligamen)
· Fraktur sendi
Klasifikasi Fratur secara umum:
1.
Fraktur
tertutup (simple fracture). Fraktur yang fragmen tulangnya tidak menembus kulit
sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan/tidak mempunyai hubungan
dnegan dunia luar.
2.
Fraktur
terbuka (compound fracture). Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar
melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari
dalam) atau from without (dari luar).
Sedangkan pengertian dari fraktur femur atau patah tulang paha
adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh
trauma langsung, kelelahan otot, dan kondisi tertentu, seperti degenarasi
tulang atau osteoporosisi. Dan fraktur femur 1/3 proksimal adalah fraktur yang
terjadi di paha bagian atas.
Sumber
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan
Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. (P. E. Karyuni, Ed.). Jakarta: EGC.
2)
Apa saja tahapan penyembuhan fraktur dan faktor-faktor
penyembuhnya?
Jawab :
Tahapan
penyembuhan tulang:
1.
Tahap
inflamasi (72 jam)
Tempat
cidera diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar) yang akan membersihkan
daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri.
2.
Tahap
polimerasi sel (3 hari sampai 2 minggu)
Hematom
akan mengalami organisasi, terbentuk benang-benang fibril dalam jendalam darah,
membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast.
3.
Tahap
pembentukan kalus (3-10 hari)
Fragmen
patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang
serat matur
4.
Tahap
penulangan (osifikasi) (3-10 minggu)
Mineral
terus menerus ditimbun sampai tulang benar telah bersatu dengan keras.
5.
Tahap
menjadi tulang dewasa (remodeling)
Meliputi
pengambilan jaringan mati dan reorganisasi
tulang baru ke susunan struktural sebelumnya.
Sumber
Faktor
penyembuh Fraktur:
1.
Usia
penderita
2.
Lokalisasi
dan konfigurasi fraktur
3.
Pergeseran
awal fraktur
4.
Vaskularisasi
pada kedua fragmen
5.
Reduksi
serta imobilisasi
6.
Waktu
imobilisasi
7.
Ruangan
di antara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lunak
8.
Faktor
adanya infeksi dan keganasan total
9.
Cairan
sinovial
10.
Gerakan
aktif dan pasif pada anggota gerak
Faktor
lain yang mempercepat penyembuhan fraktur adalah:
1.
Nutrisi
yang baik
2.
Hormon-hormon
pertumbuhan
3.
Tiroid
4.
Kalsitonin
5.
Vitamin
D
6.
Steroid
anabolik
Sumber
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan
Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. (P. E. Karyuni, Ed.). Jakarta: EGC.
3) Apa
yang dimaksud dengan ORIF?
Jawab : ORIF adalah Metode penata pelaksanaan patah
tulang dengan cara pembedahan reduksi terbuka dan fiksasi internal dimana
insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cedera dan ditemukan sepanjang
bidang anatomik tempat yang mengalami fraktur.
Sumber
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan
Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. (P. E. Karyuni, Ed.). Jakarta: EGC.
4) Bagaimana
prosedur penyembuhan dengan ORIF dan efek samping ORIF?
Jawab :
1.
DAMPAK
ORIF
Keuntungan perawatan fraktur dengan pemasangan ORIF (Operasi) antra
lain:
a.
Ketelitian
reposisi fragmen-fragmen fraktur
b.
Kesempatan
untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf di sekitarnya.
c.
Stabilitas
fiksasi yang cukup memadai dapat dicapai
d.
Perawatan
di RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi
e.
Potensi
untuk mempertahankan fungsi sendi yang mendekati normal serta kekuatan otot
selama perawatan fraktur.
Kerugian yang potensial juga dapat terjadi antara lain :
a.
Setiap
anastesi dan operasimempunyai resiko komplikasi bahkan kematian akibat dari
tindakan tersebut.
b.
Penanganan
operatif memperbesar kemungkinan infeksi dibandingkan pemasangan gips atau
traksi.
c.
Penggunaan
stabilisasi logam interna memungkinkan kegagalan alat itu sendiri
d.
Pembedahan
itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak, dan struktur yang sebelumnya
tak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama
tindakan operasi.
PERUBAHAN PATOLOGI SETELAH DILAKUKAN OPERASI ADALAH :
1.
Oedema
Oedema dapat terjadi karena adanya kerusakan pada pembuluh darah akibat dari incisi, sehingga cairan yang melewati membran tidak lancar dan tidak dapat tersaring lalu terjadi akumulasi cairan sehingga timbul bengkak.
Oedema dapat terjadi karena adanya kerusakan pada pembuluh darah akibat dari incisi, sehingga cairan yang melewati membran tidak lancar dan tidak dapat tersaring lalu terjadi akumulasi cairan sehingga timbul bengkak.
2.
Nyeri
Nyeri dapat terjadi karena adanya rangsangan nociceptor akibat incisi dan adanya oedema pada sekitar fraktur.
Nyeri dapat terjadi karena adanya rangsangan nociceptor akibat incisi dan adanya oedema pada sekitar fraktur.
3.
Keterbatasan
LGS
Permasalahan
ini timbul karena adanya rasa nyeri, oedema, kelemahan pada otot sehingga
pasien tidak ingin bergerak dan beraktivitas.Keadaan ini dapat menyebabkan
perlengketan jaringan dan keterbatasan lingkup gerak sendi (Apley, 1995).
4.
Potensial
terjadi penurunan kekuatan otot
Pada
kasus ini potensial terjadi penurunan kekuatan otot karena adanya nyeri dan
oedema sehingga pasien enggak menggerakkan dengan kuat. Tetapi jika dibiarkan
terlalu lama maka penurunan kekuatan otot ini akan benar-benar terjadi
5.
Komplikasi
Pada kasus ini jarang sekali terjadi komplikasi karena incisi relatif kecil dan fiksasi cenderung aman. Komplikasi akan terjadi bila ada penyakit penyerta dan gangguan pada proses penyambungan tulang.
Pada kasus ini jarang sekali terjadi komplikasi karena incisi relatif kecil dan fiksasi cenderung aman. Komplikasi akan terjadi bila ada penyakit penyerta dan gangguan pada proses penyambungan tulang.
Sumber
5)
Kapan ORIF dilakukan?
Jawab :
Iindikasi
tindakan ORIF :
1.
Fraktur
intra-artikular, misalnya fraktur maleolus, kondilus, olekranon patela
2.
Reduksi
tertutup yang mengalami kegagalan, misalnya fraktur radius dan ulna disertai
mal posisi yang hebat (fraktur yang tidak stabil)
3.
Bila
terdpat interposisi jaringan di antara kedua fragmen
4.
Bila
diperlukan fiksasi rigid, misalnya pada fraktur leher femur
5.
Bila
terdapat kontraindikasi pada imobilisasi eksterna, sedangkan diperlukan
mobilisasi yang cepat, misalnya fraktur pada orang tua
6.
Fraktur
avulasi, misalnya pada kondilus humeri
Sumber
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan
Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. (P. E. Karyuni, Ed.). Jakarta: EGC.
6) Pada
bagian apa ORIF dilakukan?
Jawab : pada daerah patah tulang yang
membutuhkan penyatuan fragmen kembali
7)
Mengapa dilakukan ORIF?
Jawab :
karena tulang yang patah harus segera di reposisi kembali agar dapat menyatu
dan sejajar
8)
Apa yang dimaksud dengan debridement?
Jawab : Debridement adalah proses pengangkatan jaringan avital atau jaringan mati
dari suatu luka.
Sumber
http://bedahminor.com/index.php/main/show_page/235#sthash.wUs3BME1.dpuf
9)
Bagaimana prosedur dari debridement?
Jawab :
1. Tindakan a dan antiseptik
2. Anestesi infiltrasi sekitar luka
3. Luka dicuci sampai bersih
4. Identifikasi jaringan nekrotik dan struktur neuro vaskular.
5. Jepit jaringan nekrotik dengan
pinset, gunting
6. Ulangi langkah 5 sampai semua/sebagian besar jaringan terbuang. Sampai
jaringan sehat terlihat (sudah ada perdarahan normal)
7. Jika luka tertutup darah, cuci kembali dengan NaCl 0.9 %, lalu kembali
identifikasi jaringan nekrotik.
8. Selanjutnya tergantung tipe luka dapat dijahit primer atau dilakukan
perawatan luka terbuka atau tindakan definitif lainnya.
Sumber
10)
Mengapa dilakukan debridement?
Jawab :
Tujuan
dilakukan debridement adalah
1.
Mengevakuasi
bakteri kontaminasi
2.
Mengangkat
jaringan nekrotik sehingga dapat mempercepat penyembuhan
3.
Menghilangkan
jaringan kalus
4.
Mengurangi
resiko infeksi local
11)
Bagaimana proses dan efek samping debridement?
Jawab :
Terdapat 4 metode debridement, yaitu autolitik, mekanikal, enzimatik dan
surgikal. Metode debridement yang dipilih tergantung pada jumlah jaringan
nekrotik, luasnya luka, riwayat medis pasien, lokasi luka dan penyakit
sistemik.
1. Debridement Otolitik
Otolisis menggunakan enzim tubuh dan pelembab untuk rehidrasi, melembutkan
dan akhirnya melisiskan jaringan nekrotik. Debridement otolitik bersifat
selektif, hanya jaringan nekrotik yang dihilangkan. Proses ini juga tidak nyeri
bagi pasien. Debridemen otolitik dapat dilakukan dengan menggunakan balutan
oklusif atau semioklusif yang mempertahankan cairan luka kontak dengan jaringan
nekrotik. Debridement otolitik dapat dilakukan dengan hidrokoloid, hidrogel
atau transparent films.
Indikasi
- Pada luka stadium III atau IV dengan eksudat sedikit sampai sedang.
Keuntungan:
- Sangat selektif, tanpa menyebabkan kerusakan kulit di sekitarnya.
- Prosesnya aman, menggunakan mekanisme pertahanan tubuh sendiri untuk membersihkan luka debris nekrotik .
- Efektif dan mudah
- Sedikit atau tanpa nyeri.
Kerugian:
- Tidak secepat debridement surgikal.
- Luka harus dimonitor ketat untuk melihat tanda-tanda infeksi.
- Dapat menyebabkan pertumbuhan anaerob bila hidrokoloid oklusif digunakan.
2. Debridement Enzymatik:
Debridement enzimatik meliputi penggunaan salep topikal untuk merangsang
debridement, seperti kolagenase. Seperti otolisis, debridement enzimatik
dilakukan setelah debridement surgical atau debridement otolitik dan
mekanikal. Debridement enzimatik direkomendasikan untuk luka kronis.
Indikasi
- Untuk luka kronis
- Pada luka apapun dengan banyak debris nekrotik.
- Pembentukan jaringan parut
Keuntungan
- Kerjanya cepat
- Minimal atau tanpa kerusakan jaringan sehat dengan penggunaan yang tepat.
Kerugian:
- Mahal
- Penggunaan harus hati-hati hanya pada jaringan nekrotik.
- Memerlukan balutan sekunder
- Dapat terjadi inflamasi dan rasa tidak nyaman.
3. Debridement Mekanik
Dilakukan dengan menggunakan balutan seperti anyaman yang melekat pada
luka. Lapisan luar dari luka mengering dan melekat pada balutan anyaman. Selama
proses pengangkatan, jaringan yang melekat pada anyaman akan diangkat. Beberapa
dari jaringan tersebut non-viable, sementara beberapa yang lain viable.
Debridement ini nonselektif karena tidak membedakan antara jaringan sehat dan
tidak sehat. Debridement mekanikal memerlukan ganti balutan yang sering.
Proses ini bermanfaat sebagai bentuk awal debridement atau sebagai
persiapan untuk pembedahan. Hidroterapi juga merupakan suatu tipe debridement
mekanik.Keuntungan dan risikonya masih diperdebatkan.
Indikasi
- Luka dengan debris nekrotik moderat.
Keuntungan:
- Materialnya murah (misalnya tule)
Kerugian:
o Non-selective dan dapat menyebabkan trauma jaringan sehat atau jaringan
penyembuhan
o Lambat
o Nyeri
o Hidroterapi dapat menyebabkan maserasi jaringan. Juga penyebaran melalui
air dapat menyebabkan kontaminasi atau infeksi. Disinfeksi tambahan dapat
menjadi sitotoksik.
4. Debridement Surgikal
Debridement surgikal adalah pengangkatan jaringan avital dengan menggunakan
skalpel, gunting atau instrument tajam lain Debridement surgikal merupakan
standar perawatan untuk mengangkat jaringan nekrotik. Keuntungan debridement
surgikal adalah karena bersifat selektif; hanya bagian avital yang dibuang.
Debridement surgikal dengan cepat mengangkat jaringan mati dan dapat mengurangi
waktu. Debridement surgikal dapat dilakukan di tempat tidur pasien atau di
dalam ruang operasi setelah pemberian anestesi.
Ciri jaringan avital adalah warnanya lebih kusam atau lebih pucat(tahap awal),
bisa juga lebih kehitaman (tahap lanjut), konsistensi lebih lunak dan jika di
insisi tidak/sedikit mengeluarkan darah. Debridement dilakukan sampai jaringan
tadi habis, cirinya adalah kita sudah menemulan jaringan yang sehat dan
perdarahan lebih banyak pada jaringan yang dipotong.
Luas dan radikalitas debridemet dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Indikasi
Luas dan radikalitas debridemet dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Indikasi
o Luka dengan jaringan nekrotik yang luas
o Jaringan terinfeksi.
Keuntungan:
o Cepat dan selektif
o Efektif
Kerugian :
- Nyeri
- Mahal, terutama bila perlu dilakukan di kamar operasi
Sumber
http://bedahminor.com/index.php/main/show_page/235#sthash.W64R5jnZ.dpuf
12) Apa definisi dari osteomyelitis?
Jawab : Osteomyelitis adalah proses inflamasi akut atau kronik pada tulang
dan struktur sekundernya karena infeksi oleh bakteri piogenik.
Sumber
ikextx.weebly.com/uploads/4/6/9/3/469349/osteomyelitis_ind.doc
13)
Mengapa bisa terjadi osteomyelitis?
Jawab :
osteomyelitis dapat disebabkan oleh organisme piogenik, walaupun berbagai agen
infeksi lain juga dapat menyebabkannya. Infeksi dapat terjadi secara:
1.
Hematogen,
dari fokus yang jauh seperti kulit, tenggorok.
2.
Kontaminasi
dari luar yaitu fraktur terbuka dan tindakan operasi pada tulang
3.
Perluasan
infeksi jaringan ke tulang di dekatnya.
Sumber
http://referensikedokteran.blogspot.com/2010/10/osteomielitis.html
14)
Dibagian mana terjadi osteomyelitis?
Jawab :
tulang dan sum sum tulang
Sumber
http://somelus.wordpress.com/2009/03/13/osteomyelitis/
15)
Kapan fraktur bisa dikatakan osteomyelitis?
Jawab :
ketika fraktur terbuka mengalami infeksi yang disebabkan oleh virus maupun
bakteri
Berdasarkan lama
infeksi, osteomielitis terbagi menjadi 3, yaitu:
1.
Osteomielitis akut,
yaitu osteomielitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama atau
sejak penyakit pendahulu timbul. Osteomielitis akut ini biasanya terjadi pada
anak-anak daripada orang dewasa dan biasanya terjadi sebagai komplikasi dari
infeksi di dalam darah (osteomielitis hematogen)
Osteomielitis akut
terbagi lagi menjadi 2, yaitu:
1.
Osteomielitis
hematogen, merupakan infeksi yang penyebarannya berasal dari darah.
Osteomielitis hematogen akut biasanya disebabkan oleh penyebaran bakteri darah
dari daerah yang jauh. Kondisi ini biasanya terjadi pada anak-anak. Lokasi yang
sering terinfeksi biasa merupakan daerah yang tumbuh dengan cepat dan metafisis
yang bervaskular banyak. Aliran darah yang lambat pada daerah distal metafisis
menyebabkan thrombosis dan nekrosis local serta pertumbuhan bakteri pada tulang
itu sendiri. Osteomielitis hematogen akut mempunyai perkembangan klinis dan
onset yang lambat.
2.
Osteomielitis direk,
disebabkan oleh kontak langsung dengan jaringan atau bakteri akibat trauma atau
pembedahan. Osteomielitis direk adalah infeksi tulang sekunder akibat inokulasi
bakteri yang disebabkan oleh trauma, yang menyebar dari fokus infeksi atau sepsis
setelah prosedur pembedahan. Manifestasi klinis dari osteomielitis direk lebih
terlokalisasi dan melibatkan banyak jenis organisme.
2. Osteomielitis sub-akut, yaitu osteomielitis yang
terjadi dalam 1-2 bulan sejak infeksi
pertama atau sejak penyakit pendahulu timbul.
3. Osteomielitis kronis, yaitu osteomielitis yang
terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak infeksi pertama atau sejak penyakit
pendahulu tim
Sumber
http://somelus.wordpress.com/2009/03/13/osteomyelitis/
16)
Bagaimana penanganan osteomyelitis?
Jawab :
1.
Terapi
Antibiotik
2.
Debridement
Sumber
17)
Apa yang dimaksud dengan osteoarthritis?
Jawab :
Osteoartritis merupakan gangguan persedian yang ditandai dengan adanya nyeri
dan kekakuan sendi yang biasanya banyak terjadi pada usia lanjut.
Sumber
http://piolayananmasyarakat.wordpress.com/2012/08/26/osteoartritis-nyeri-sendi/
18)
Apa penyebab dan gejala osteoarthritis?
Jawab :
Penyebab
osteoarthritis
Osteoartritis
disebabkan beberapa faktor. Selain faktor usia, osteoartritis juga disebabkan
karena kondisi lain seperti kegemukan, cedera, abnormalitas pada saat
dilahirkan, penyakit diabetes dan gout, serta penyakit hormon lainnya.
Sumber
http://piolayananmasyarakat.wordpress.com/2012/08/26/osteoartritis-nyeri-sendi/
Gejala
osteoarthritis
1.
Nyeri
sendi
2.
Kekakuan
3.
Hambatan
gerakan sendi
4.
Bunyi
gemeretak
5.
Pembengkakan
sendi
6.
Perubahan
cara berjalan
Gejala osteoarthritis berat:
1.
Nyeri
yang menetap pada sendi yang terkena
2.
Kekakuan
pada sendi setelah bangun tidur atau setelah duduk beberapa lama
3.
Bengkak
atau nyeri pada perabaan pada satu atau lebih sendi yang terkena.
4.
Krepitus
atau suara berderak yang terjadi bila sendi digerakkan
5.
Panas,
kemerahan atau nyeri saat perabaan
6.
Nyeri
tidak selalu ada Hanya
sepertiga penderita dengan gambaran Rosen OA mengeluh nyeri atau keluhan
lainnya. (Wachjudi, Dewi, & Parmudyo,
2007)
Sumber
Wachjudi, R. G., Dewi, S., & Parmudyo, R. (2007). Osteoarthritis
alias Pengapuran Sendi. Bandung.
19)
Dimana terjadinya osteoarthritis?
Jawab :
1.
Osteoartriris
sendi lutut.
2.
Osteoartritis
sendi panggul.
3.
Osteoartritis
sendi-sendi kaki.
4.
Osteoartritis
sendi bahu.
5.
Osteoartritis
sendi-sendi tangan.
6.
Osteoartritis
tulang belakang
Sumber
Wachjudi, R. G., Dewi, S.,
& Parmudyo, R. (2007). Osteoarthritis alias Pengapuran Sendi.
Bandung.
20)
Kapan sendi dikatakan terkena osteoarthritis?
Jawab :
Bila merasakan nyeri atau kaku saat menggerakkan sendi-sendi, dan keluhan itu
menetap dalam 6 bulan
21)
Bagaimana penanganan osteoarthritis?
Jawab :
A.
Intervensi
non farmakologis
1.
Pendidikan
penderita (perawatan sendiri, konsep nyeri)
2.
Latihan
(olah raga) aerobik, penguatan otot, perbaikan lebar jangkauan gerakan.
3.
Kontrol
terhadap faktor resiko : penurunan berat badan, alas kaki yang sesuai,
pengaturan kegiatan, tongkat, alat-alat pembantu, splin.
4.
Pengobatan
fisik lokal : panas, dingin, rangsangan elektrik.
B.
Pengobatan
lokal dan sistemik
1.
Krim
tropikal : anti radang nonsteroid, Capsaicin
2.
Suntikan
sendi: steroid (anti radang), Hyaluronan (pelumas)
3.
Obat-obat
peroral : Analgesik, OAINS, Amytriptyline dosis rendah, dan obat penghambat OA
(DMOAD).
C.
Tindakan
operasi
1.
Intervensi
fisik invasiv : artroskopi, irigasi, distensi kapsular (pinggul).
2.
Operasi
: Osteotomi, penggantian sendi.
Sumber
Wachjudi, R. G., Dewi, S.,
& Parmudyo, R. (2007). Osteoarthritis alias Pengapuran Sendi.
Bandung.
22)
Apa saja ciri-ciri seseorang dikatakan menopause?
Jawab :
menopause adalah penghentian permanen menstruasi (haid) dari seorang wanita
yang berarti pula akhir dari reproduktif.
Ciri-ciri:
1.
Kulit
menjadi ,erah dan hangat disertai keringat yang kelebihan (hot flashes)
biasanya akan terjadi selama 1 tahun atau lebih
2.
Vagina
menjadi ekring karena penipisan jaringan pada dinding vagina
3.
Gejala
psikis dan emosional seperti mudah lelah, mudah tersinggung, susah tidur, dan
gelisah yang disebabkan oleh berkurangnya kadar estrogen
4.
Sering
berkeringat pada malam hari-hari yang menyebabkan gangguan tidur sehingga
kelelahan semakin memburuk dan semakin mudah tersinggung
5.
Pusing,
kesemutan dan palpitasi (jantung berdebar)
6.
Hilangnya
kendali terhadap kandung kemih (beser)
7.
Peradangan
kandung kemih atau vagina
8.
Osteoporosis
(pengeroposan tulang)
Sumber
23)
Apa saja penyebab terjadinya menopause?
Jawab :
1.
Usia
haid pertama kali (menarche)
2.
Faktor
psikis
3.
Jumlah
anak
4.
Usia
melahirkan
5.
Pemakaian
kontrasepsi
6.
Merokok
7.
Sosial
ekonomi
Sumber
24)
Bagaiaman prosedur pelaksanaan X-Ray?
Jawab :
1.
Pengaturan penderita (obyek)
2.
Pengatauran sinar
3.
Pengaturan film (asesoris)
4.
Pengaturan
factor ekpos ( factor penyinaran)
Sumber
25)
Bagaimana patofisiologis luka?
Jawab :
Ketika
luka timbul, beberapa efek akan muncul :
1.
Hilangnya
seluruh atau sebagian fungsi organ
2.
Respon
stres simpatis
3.
Perdarahan
dan pembekuan darah
4.
Kontaminasi
bakteri
5.
Kematian
sel
Mekanisme terjadinya luka :
1.
Luka
insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam.
Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup
oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)
2.
Luka
memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan
oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.
3.
Luka
lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya
dengan benda yang tidak tajam.
4.
Luka
tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau
yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5.
Luka
gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau
oleh kawat.
6.
Luka
tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada
bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya
akan melebar.
7.
Luka
Bakar (Combustio)
8.
Decubitus/luka
tekan
karena proses
tertekan yang lama di area tertentu bagian tubuh. Tekanan tersebut menyebakan
gangguan sirkulasi, memperberat nekrosis, timbulnya lecet kemerahan.
o
Luka
stasis vena = biasanya di ekstremitas bawah. Merupakan respon local hipoksia
yang dialami oleh bagian tubuh tertentu
o
Luka
diabetik + pasien dg dekubitus
Sumber
s1-keperawatan.umm.ac.id/files/file/konsep%20luka.pdf
26)
Bagaimana mobilisasi pasien fraktur?
Jawab :
1.
Memindahkan
pasien dari tempat tidur ke brankar
2.
Memindahkan
pasien ke kursi roda
3.
Body
alignment
a.
Posisi
fowler
b.
Posisi
semi fowler
c.
Posisi
sims
d.
Posisi
trendelenburg
e.
Posisi
genu pectoral
f.
Posisi
supinasi
g.
Posisi
pronasi
h.
Posisi
orthopneu
i.
Posisi
lateral
4.
Teknik
napas dalam dan efektif
Sumber
http://daengr.blogspot.com/2012/05/teknik-mobilisasi-pada-pasien-fraktur.html
27)
Pus (+) itu seperti apa?
Jawab :
luka tersebut positif mengeluarkan nanah
28)
Apa saja kontraindikasi dan bagaimana efek samping dari obat
allupurinol, ceftriaxone, gentamycin, tramadol, dan metroindazole?
Jawab :
1.
Allupurinol
A.
Farmakologi
Allopurinol dan
metabolitnya oxipurinol (alloxanthine) dapat menurunkan produksi asam urat
dengan menghambat xanthin-oksidase yaitu enzim yang dapat mengubah hipoxanthin
menjadi xanthin dan mengubah xanthin menjadi asam urat. Dengan menurunkan
konsentrasi asam urat dalam darah dan urin, allopurinol mencegah atau
menurunkan endapan urat sehingga mencegah terjadinya gout arthritis dan urate
nephropathy.
B.
Indikasi
Hiperurisemia primer :
gout Hiperurisemia sekunder : mencegah pengendapan asam urat dan kalsium oksalat.
Produksi berlebihan asam urat antara lain pada keganasan, polisitemia vera,
terapi sitostatik.
C.
Kontra Indikasi
Penderita yang
hipersensitif terhadap allopurinol Keadaan serangan akut gout
D.
Dosis
Terdapat 2 macam
sediaan untuk allopurinol, tablet 100 mg ; 300 mg dan suntikan 500 mg/vial.
Dosis dewasa :
Tablet
·
Serangan asam urat
(gout)
ringan
: 200 – 300 mg per hari.
·
Serangan asam urat
(gout) sedang / berat : 400 – 600 mg per hari.
·
Hiperurisemia karena
obat antikanker
: 600 – 800 mg per hari, dimulai 1
– 2 hari sebelum
kemoterapi
·
Dosis
minimal :
100 – 200 mg per hari.
·
Dosis
maksimal :
800 mg per hari.
·
Terdapat penyesuaian
dosis sesuai dengan fungsi ginjal.
Dosis anak :
Tablet
·
Hiperurisemia : 10
mg/kg/hari dibagi menjadi 2 kali pemberian ; maksimal 600 mg / hari.
·
Hiperurisemia karena
obat antikanker :
Usia < 6
tahun : 150
mg / hari dibagi menjadi 3 kali pemberian.
Usia 6 – 10 tahun : 300 mg / hari dibagi menjadi
3 – 4 kali pemberian.
E. Penderita gangguan fungsi ginjal
Jumlah dan interval
pemberian perlu dikurangi disesuaikan dengan hasil pemantauan kadar asam urat
dalam serum. Untuk pasien dewasa berlaku dosis sebagai berikut:
Bersihan kreatinin : 2
- 10 ml/menit
Dosis : 100 mg sehari
atau dengan interval lebih panjang.
Bersihan kreatinin : 10
- 20 ml/menit Dosis : 100 - 200 mg sehari.
Bersihan kreatinin :
> 20 ml/menit Dosis : Dosis normal.
Dosis yang dianjurkan
pada penderita dialisa : allopurinol dan metabolitnya dikeluarkan dengan
dialisis ginjal. Jika dialisis perlu dilakukan lebih sering, dapat
dipertimbangkan pemberian allopurinol dengan dosis alternatif 300 - 400 mg
segera setelah dialisa tanpa pemberian lagi diantara interval waktu.
F. Efek Samping
Gejala
hipersensitifitas seperti ekspoliatif, demam, limfodenopati, arthralgia,
eosinofilia
Reaksi kulit :
pruritis, makulopapular Gangguan gastrointestinal, mual, diare Sakit kepala,
vertigo, mengantuk, gangguan mata dan rasa
Gangguan darah :
leukopenia, trombositopenia, anemia hemolitik, anemia aplastik
Efek samping
lain seperti nyeri sendi, kelainan darah, kelainan elektrolit, kelainan
jantung, buang air kecil dengan darah, keracunan hati, gatal – gatal, sampai
sindrom steven
johnson juga pernah ditemui.
G.
Over Dosis
Pernah dilaporkan
penggunaan sampai 5 g dan 20 g allopurinol. Gejala dan tanda-tanda keracunan
adalah pusing, mual dan muntah. Dianjurkan minum yang banyak sehingga
memudahkan diuresis allopurinol dan metabolitnya. Jika dianggap perlu dapat
dilakukan dialisa.
H.
Peringatan dan perhatian
Efek allopurinol dapat
diturunkan oleh golongan salisilat dan urikosurik, seperti probenesid. Hentikan
penggunaan bila timbul gejala kemerahan pada kulit atau terjadi gejala alergi.
Hindari penggunaan pada penderita kelainan fungsi ginjal atau penderita
hiperurisemia asimptomatik. Pada penderita kerusakan fungsi hati, dianjurkan
untuk melakukan tes fungsi hati berkala selama tahap awal perawatan. Keuntungan
dan risiko penggunaan allopurinol pada ibu hamil dan menyusui harus
dipertimbangkan terhadap janin, bayi atau ibunya. Allopurinol dapat menyebabkan
kantuk. Hati-hati penggunaan pada penderita yang harus bekerja dengan
konsentrasi penuh termasuk mengemudi dan menjalankan mesin. Sebaiknya
allopurinol diminum setelah makan untuk mengurangi iritasi lambung. Dianjurkan untuk
meningkatkan pemberian cairan selama penggunaan allopurinol untuk menghindari
terjadinya batu ginjal. Bila terjadi gatal - gatal, anoreksia, serta
berkurangnya berat badan, harus dilakukan pemeriksaan fungsi hati.
I.
Interaksi Obat
Allopurinol dapat meningkatkan
toksisitas siklofosfamid dan sitotoksik lain. Allopurinol dapat menghambat
metabolisme obat di hati, misalnya warfarin. Allopurinol dapat meningkatkan
efek dari azathioprin dan merkaptopurin, sehingga dosis perhari dari obat-obat
tersebut harus dikurangi sebelum dilakukan pengobatan dengan allopurinol.
Allopurinol dapat memperpanjang waktu paruh klorpropamid dan meningkatkan
risiko hipoglikemia, terutama pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal.
Efek allopurinol dapat diturunkan oleh golongan salisilat dan
urikosurik,seperti probenesid.
J.
Penyimpanan
Simpan dalam wadah
tertutup rapat, terlindung dari cahaya, pada suhu 15-30°C.
Sumber
2.
Cefriaxone
A.
Indikasi
Infeksi-infeksi yang
disebabkan oleh patogen yang sensitif terhadap Ceftriaxone, seperti: infeksi
saluran nafas, infeksi THT, infeksi saluran kemih, sepsis, meningitis, infeksi
tulang, sendi dan jaringan lunak, infeksi intra abdominal, infeksi genital
(termasuk gonore), profilaksis perioperatif, dan infeksi pada pasien dengan
gangguan pertahanan tubuh.
B.
Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap
cephalosporin dan penicillin (sebagai reaksi alergi silang).
C.
Dosis
Dewasa dan anak > 12
tahun dan anak BB > 50 kg : 1 - 2 gram satu kali sehari. Pada infeksi berat
yang disebabkan organisme yang moderat sensitif, dosis dapat dinaikkan sampai 4
gram satu kali sehari.
Bayi 14 hari : 20 - 50
mg/kg BB tidak boleh lebih dari 50 mg/kg BB, satu kali sehari.
Bayi 15 hari -12 tahun
: 20 - 80 mg/kg BB, satu kali sehari. Dosis intravena > 50 mg/kg BB harus
diberikan melalui infus paling sedikit 30 menit.
D. Lamanya pengobatan
Lamanya pengobatan
berbeda-beda tergantung dari penyebab penyakit seperti pengobatan dengan
antibiotik pada umumnya, pemberian obat harus diteruskan paling sedikit sampai
48 - 72 jam, setelah penderita bebas panas atau pembasmian kuman tercapai
dengan nyata.
E. Instruksi dosis khusus
Meningitis : Bayi dan
anak-anak : pengobatan dimulai dengan dosis 100 mg/kg BB, (jangan melebihi 4
gram) sekali sehari. Segera setelah organisme penyebab telah diketahui dan
sensitivitas ditentukan, dosis dapat diturunkan. Lama pengobatan :
·
Neisseria meningitidis
4 hari.
·
Haemophilus influenzae
6 hari
·
Streptococcus
pneumoniae 7 hari
·
N. gonorrhoeae (strain
penghasil penisilinase dan bukan penghasil penisilinase) dosis tunggal 250 mg
intramuskular.
·
Pencegahan perioperatif
: Tergantung dari resiko infeksi : 1 - 2 gram dosis tunggal diberikan 30 - 90
menit sebelum operasi.
·
Gangguan fungsi ginjal
dan fungsi hati : Pada kasus payah ginjal preterminal (bersihan kreatinin <
10 mL/menit), dosis tidak boleh melampaui 2 gram sehari. Tidak perlu
pengurangan dosis selama fungsi salah satu ginjal atau hati masih baik.
F. Peringatan dan perhatian
Pada pasien dengan
gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat, kadar plasma obat perlu dipantau. -
Sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil (khususnya trimester I).
Tidak boleh diberikan
pada neonatus (terutama prematur) yang mempunyai resiko pembentukan
ensephalopati bilirubin.
Pada penggunaan jangka
waktu lama, profil darah harus dicek secara teratur.
G.
Interaksi obat
Kombinasi dengan
aminoglikosid dapat menghasilkan efek aditif atau sinergis, khususnya pada
infeksi berat yang disebabkan oleh P.aeruginosa & Streptococcus faecalis.
H.
Penyimpanan
Simpan pada suhu <
25oC, lindungi dari cahaya. Obat yang sudah dilarutkan sebaiknya
digunakan segera. Larutan ini boleh disimpan maksimum 8 jam pada suhu < 25°C
atau 7 hari di dalam lemari es.
I.
Kelebihan cefriaxone
Spektrum aktivitas anti
bakteri nya luas, mencakup bakteri gram negatif dan gram positif dengan masa
kerja yang panjang dimana efek bakterisidal (membunuh bakteri) dapat bertahan
selama 24 jam. Ceftriaxone cepat berdifusi ke dalam jaringan dan cairan tubuh.
Ceftriaxone dapat menembus sawar darah otak sehingga dapat dicapai kadar obat
yang cukup tinggi dalam cairan serebrospinal.
Sumber
http://www.hexpharmjaya.com/page/ceftriaxone.aspx
3.
Gentamicin
A.
Indikasi
Untuk pengobatan
infeksi kulit primer maupun sekunder seperti impetigo kontagiosa, ektima,
furunkulosis. pioderma, psoriasis dan macam-macam dermatitis lainnya.
B.
Kontra indikasi
Alergi terhadap
gentamisina.
C. Cara Kerja Obat:
Gentamisina merupakan
suatu antibiotika golongan aminoglikosida yang efektif untuk menghambat
kuman-kuman penyebab infeksi kulit primer maupun sekunder seperti
Staphylococcus yang menghasilkan penisilinase, Pseudomonas aeruginosa
dan lain-lain.
D. Posologi:
Oleskan pada lesi kulit 3 - 4 kali sehari.
Oleskan pada lesi kulit 3 - 4 kali sehari.
E. Cara Penggunaan:
Obat luar.
F. Peringatan dan Perhatian:
Penggunaan antibiotika
topikal kadang-kadang menyebabkan suburnya pertumbuhan mikroorganisme yang
tidak sensitif terhadap antibiotika, seperti jamur.
Bila hal ini terjadi
atau terdapat iritasi, sesitisasi atau superinfeksi, pengobatan dengan
Gentamisina harus dihentikan dan harus diberi terapi pengganti yang tepat.
·
Gentamisina tidak untuk
pengobatan mata.
·
Obat-obat bakterisid
tidak efektif terhadap infeksi kulit yang disebabkan virus dan jamur.
·
Karena keamanan
pemakaian Gentamisina pada wanita hamil secara absolut belum dipastikan, tidak
boleh digunakan pada wanita hamil dalam jumlah yang banyak atau periode waktu
yang lama.
G. Efek Samping:
Iritasi ringan, eritema dan pruritus.
H. Cara Penyimapanan:
Dalam wadah tertutup
rapat. Terlindung dari pengaruh panas yang berlebihan.
Jenis: Salep
Jenis: Salep
Sumber
4.
Tramadol
A. Farmakologi :
Tramadol adalah
analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat. Tramadol mengikat secara
stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga menghambat sensasi
nyeri dan respon terhadap nyeri. Disamping itu tramadol menghambat pelepasan
neurotransmiter dari saraf aferen yang sensitif terhadap rangsang, akibatnya
impuls nyeri terhambat. Tramadol peroral diabsorpsi dengan baik dengan
bioavailabilitas 75%. Tramadol dan metabolitnya diekskresikan terutama melalui
urin dengan waktu 6,3 – 7,4 jam.
B. Cara kerja obat:
Tramadol adalah
analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat.
Tramadol mengikat
secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga mengeblok
sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri.
Di samping itu tramadol
menghambat pelepasan neurotransmitter dari saraf aferen yang sensitif terhadap
rangsang, akibatnya impuls nyeri terhambat.
C. Indikasi:
Efektif untuk
pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca pembedahan.
D. Posologi:
Dewasa dan anak di atas
16 tahun:
E. Dosis umum:
Dosis tunggal 50 mg.
Dosis tersebut biasanya cukup untuk meredakan nyeri, apabila masih terasa nyeri
dapat ditambahkan 50 mg setelah selang waktu 30-60 menit.
F. Dosis maksimum:
400 mg sehari. Dosis
sangat tergantung pada intensitas rasa nyeri yang diderita.
G. Penderita gangguan hati dan ginjal dengan "creatinine
clearances" <30 ml/menit:
50-100 setiap 12 jam,
maksimum 200 mg sehari.
H. Peringatan dan perhatian:
·
Pada penggunaan jangka
panjang dapat terjadi ketergantungan, sehingga dokter harus menentukan lama
pengobatan.
·
Tramadol tidak boleh
diberikan pada penderita ketergantungan obat.
·
Hati-hati penggunaan
pada penderita trauma kepala, meningkatnya tekanan intrakranial, gangguan
fungsi ginjal dan hati yang berat atau hipersekresi bronkus, karena dapat
mengakibatkan meningkatnya resiko kejang atau syok.
·
Penggunaan bersama
dengan obat-obat penekanan SSP lain atau penggunaan dengan dosis berlebihan
dapat menyebabkan menurunnya fungsi paru.
·
Penggunaan selama
kehamilan harus mempertimbangkan manfaat dan resikonya baik terhadap janin
maupun ibu.
·
Hati-hati penggunaan
pada ibu menyusui, karena tramadol diekskresikan melalui ASI.
·
Tramadol dapat
mengurangi kecepatan reaksi penderita, seperti kemampuan mengemudikan kendaraan
ataupun mengoperasikan mesin.
·
Depresi pernapasan
akibat dosis yang berlebihan dapat dinetralisir dengan nalokson, sedangkan
kejang dapat diatasi dengan pemberian benzodiazepin.
·
Meskipun termasuk
antagonis opiat, tramadol tidak dapat menekan gejala "withdrawal" akibat
pemberian morfin.
I. Efek samping
Efek samping yang umum
terjadi seperti pusing, sedasi, lelah, sakit kepala, pruritus, berkeringat,
kulit kemerahan, mulut kering, mual, muntah. Dispepsia dan obstipasi.
Efek samping yang
berupa ketergantungan sangat jarang terjadi.
J. Indikasi
Untuk pengobatan nyeri
akut dan kronik yang berat, nyeri pasca pembedahan.
K. Kontraindikasi:
Penderita yang
hipersensitif terhadap Tramadol atau Opiat dan penderita yang mendapatkan
pengobatan dengan penghambat MAO, intoksikasi akut dengan alkohol, hipnotika,
analgetik atau obat-obat yang mempengaruhi SSP lainnya.
L. Interaksi obat:
Efek analgesik dan
sedasi tramadol ditingkatkan pada penggunaan bersama dengan obat-obat yang
bekerja pada SSP seperti tranquiliser, hipnotik.
Sumber
5.
Metronidazole
A.
Indikasi:
Metronidazole efektif untuk pengobatan :
Metronidazole efektif untuk pengobatan :
1.
Trikomoniasis, seperti
vaginitis dan uretritis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.
2.
Amebiasis, seperti
amebiasis intestinal dan amebiasis hepatic yang disebabkan oleh E. histolytica.
3.
Sebagai obat pilihan
untuk giardiasis.
B. Kontra Indikasi:
Penderita yang
hipersensitif terhadap metronidazole atau derivat nitroimidazol lainnya dan
kehamilan trimester pertama.
C. Cara Kerja:
Metronidazole adalah
antibakteri dan antiprotozoa sintetik derivat nitroimidazoi yang mempunyai
aktifitas bakterisid, amebisid dan trikomonosid.
Dalam sel atau
mikroorganisme metronidazole mengalami reduksi menjadi produk polar. Hasil
reduksi ini mempunyai aksi antibakteri dengan jalan menghambat sintesa asam
nukleat.
Metronidazole efektif
terhadap Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica, Gierdia lamblia.
Metronidazole bekerja efektif baik lokal maupun sistemik.
D.
Dosis:
Trikomoniasis:
Pasangan seksual dan penderita dianjurkan menerima pengobatan yang sama dalam waktu bersamaan.
Trikomoniasis:
Pasangan seksual dan penderita dianjurkan menerima pengobatan yang sama dalam waktu bersamaan.
Dewasa : Untuk
pengobatan 1 hari : 2 g 1 kali atau 1 gram 2 kali sehari.
Untuk pengobatan 7 hari : 250 mg 3 kali sehari selama 7 hari berturut-turut.
Amebiasis:
Dewasa : 750 mg 3 kali sehari selama 10 hari.
Untuk pengobatan 7 hari : 250 mg 3 kali sehari selama 7 hari berturut-turut.
Amebiasis:
Dewasa : 750 mg 3 kali sehari selama 10 hari.
Anak-anak : 35 - 50
mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 3, selama
10 hari.
10 hari.
Giardiasis:
Dewasa : 250 - 500 mg 3 kali sehari selama 5 - 7 hari atau 2 g 1 kali
sehari selama 3 hari.
Dewasa : 250 - 500 mg 3 kali sehari selama 5 - 7 hari atau 2 g 1 kali
sehari selama 3 hari.
Anak-anak: 5 mg/kg BB 3
kali sehari selama 5-7 hari.
E. Efek Samping:
Mual, sakit kepala,
anoreksia, diare, nyeri epigastrum dan konstlpasi.
F. Interaksi Obat:
Metronidazole
menghambat metabolisme warfarin dan dosis antikoagulan kumarin lainnya harus
dikurangi.
Pemberian alkohol
selama terapi dengan metronidazole dapat menimbulkan gejala seperti pada
disulfiram yaitu mual, muntah, sakit perut dan sakit kepala.
Dengan obat-obat yang
menekan aktivitas enzim mikrosomal hati seperti simetidina, akan memperpanjang
waktu paruh metronidazole.
G.
Perhatian:
Metronidazole tidak dianjurkan untuk penderita dengan gangguan pada susunan saraf pusat, diskrasia darah, kerusakan hati, ibu menyusui dan dalam masa kehamilan trimester II dan III. Pada terapi ulang atau pemakaian lebih dari 7 hari diperlukan pemeriksaan sel darah putih.
Metronidazole tidak dianjurkan untuk penderita dengan gangguan pada susunan saraf pusat, diskrasia darah, kerusakan hati, ibu menyusui dan dalam masa kehamilan trimester II dan III. Pada terapi ulang atau pemakaian lebih dari 7 hari diperlukan pemeriksaan sel darah putih.
Sumber
http://www.dechacare.com/Metronidazole-250-mg-P583.html