BAB I
PENDAHULUAN
1.
LatarBelakang
Setiap manusia
memiliki kesibukan masing-masing dalam
kehidupannya. Dalam menjalankan kesibukannya atau pekerjaannya banyak diantara
mereka yang tidak berhati-hati sehingga dapat terluka saat melakukan
pekerjaannya. Kecelakaan terjadi di saat-saat yang tidak terduga, tidak hanya
dalam melakukan suatu pekerjaan, disaat kita sedang bermain kita juga dapat
mengalami kecelakaan. Ketika seseorang sedang berjalan, berlari, memanjat saat
bermain jika ia tidak berhati-hati orang tersebut bisa saja jatuh dan mengalami
patah tulang. Patah tulang tidaklah hal yang ringan jika dibiarkan begitu saja.
Perlu perawatan sesegera mungkin dan seoptimal
mungkin. Oleh
karena itu kami membahas perawatan terhadap pasien yang terkena patah tulang.
Sehingga dalam perawatan tidak salah dan pasien dapat sembuh secara optimal.
2.
Tujuan
a.
Mengetahui pengertian nyeri.
b.
Mengetahui jenis – jenis nyeri.
c.
Mengetahui
proses pengkajian nyeri berdasarkan ambang penilaian nyeri berdasar PQRST
d.
Mengetahui intervensi keperawatan pada nyeri.
e.
Mengetahui pengertian fraktur tulang.
f.
Mengetahui jenis – jenis fraktur tulang.
g.
Mengetahui penyebab fraktur tulang.
h.
Mengetahui perawatan fraktur tulang berdasarkan kasus.
BAB
II
ISI
A.
Konsep Teori
1.
Nyeri
Nyeri merupakan
suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh
stimulus tertentu. Nyeri bersifat subjektif dan sangat bersifat individual.
Stimulus nyeri
dapat berupa stimulus yang bersifat fisik atau mental, sedangkan dapat terjadi
pada jaringan aktual atau pada fungsi ego seseorang individu.
Untuk membantu
seorang klien dalam upaya menghilangkan nyeri, maka perawat harus yakin dahulu
bahwa nyeri tersebut memang ada.
Nyeri yang
paling sering diobservasi perawat pada klien meliputi 3 tipe, yaitu : nyeri
akut, maligna kronik dan non-maligna kronik.
1)
Nyeri
akut terjadi setelah cedera akut, penyakit, atau intervensi bedah dan memiliki
awitan yang cepat, dengan intensitas yang bervariasi (ringan sampai berat) dan
berlangsung untuk waktu singkat. Fungsi nyeri akut ialah memberi peringatan
akan cedera atau penyakit yang akan datang. Nyeri akut akhirnya menghilang
dengan atau tanpa pengobatan setelah keadaan pulih pada area yang rusak. Nyeri
akut bisa mengancam proses penyembuhan klien maka itu bisa menjadi prioritas
perawatan.
2)
Nyeri
kronik berlangsung lama, intensitas yang bervariasi, dan biasanya berlangsung
lebih dari 6 bulan. Nyeri kronik disebabkan oleh kanker yang tidak terkontrol
atau pengobatan kanker tersebut, atau gangguan progresif lain, yang disebut
nyeri yang membandel atau nyeri maligna. Nyeri ini dapat berlangsung terus
sampai kematian.
3)
Nyeri
non-maligna, seperti nyeri punggung bagian bawah,
merupakan akibat dari cedera jaringan yang tidak sembuh atau yang tidak
progresif. Akan tetapi, nyeri tersebut berlangsung terus dan sering kali tidak
berespon terhadap pengobatan yang dilakukan. Sering kali penyebab nyeri
nonmaligna tidak diketahui. Daerah yang mengalami cedera mungkin telah memulih
sejak lama, tetapi nyeri menetap.
2. Fraktur tulang
Merupakan patah
pada tulang. Istilah yang digunakan untuk menjelaskan berbagai jenis fraktur
tulang antara lain :
1) Fraktur komplet :
fraktur yang mengenai tulang secara keseluruhan.
2) Fraktur inkomplet :
fraktur yang mengenai tulang secara parsial.
3) Fraktur simple
(tertutup) : fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit.
4) Fraktur compound
(terbuka) : fraktur yang menyebabkan
robeknya kulit.
Fraktur terbuka
dan tertutup dapat bersifat komplet atau inkomplet. Istilah lain dapat juga
digunakan untuk menjelaskan fraktur, berdasarkan sudut patahan atau apakah
tulang melengkung atau bengkok tanpa patah.
Penyebab fraktur
tulang
1) Yang paling sering
adalah trauma, terutama pada anak-anak dan dewasa anak. Jatuh dan cedera olah
raga adalah penyebab umum fraktur traumatik. Beberapa fraktur dapat terjadi
setelah traum minimal atau tekanan ringan apabila tulang lemah hal ini disebut
fraktur patologis.
2) Fraktur stres dapat
terjadi pada tulang normal akibat stres tingkat rendah yang berkepanjangan atau
berulang. Fraktur stres disebut juga fraktur keletihan (fatigue fracture),
biasanya menyertai peningkatan yang cepat tingkat keletihan atlet, atau permulaan
aktivitas fisik yang baru. Karena
kekuatan otot dan tulang meningkat, individu merasa mampu beraktivitas melebihi
tingkat sebelumnya walaupun tulang mungkin tidak mampu menunjang peningkatan
tekanan. Faktor stres dapat terjadi pada tulang yang lemah sebagai respon
terhadap peningkatan level aktivitas yang hanya sedikit.
B.
Kasus
Seorang
siswa SD laki-laki
berusia 9 tahun, mempunyai
kebiasaan bermain rumah pohon bersama teman-temannya
setelah
pulang
sekolah.
Pada
siang
itu, ia
ingin
mengambil layang-layang yang tersangkut
diatas
rumah
pohonnya. Akan tetapi
malang, batang
pohon yang ia
gunakan
untuk
berpegangan
ternyata
rapuh. Ia
terjatuh
ke
tanah. Ia
meringis
kesakitan
sambil
memegang
tangan
kirinya yang tadi
digunakan
sebagai
tumpuan
saat
jatuh. Mukanya
pucat, keluar
keringat
dingin, dan
ia
terus
merintih
selama
dibawa
ke RS. Setelah
diperiksa
dokter, ternyata
ia
mengalami
patah
tulang.
C.
AsuhanKeperawatan
1.
Pengkajian
1)
DATA
BIOGRAFI
1. Biodata Pasien
a.
Nama Pasien :
An.X
b.
Umur : 9 tahun
c.
Suku Bangsa : Jawa
d.
Bahasa Yang Dipakai :
Bahasa indonesia
e.
Pendidikan Terakhir :
SD
f.
Pekerjaan :
Pelajar
2. Biodata Penanggung Jawab
1. Nama : Ny. X
2. Hubungan dengan pasien : Orang tua
2)
ALASAN MASUK
RS
Karena
anak tersebut jatuh dari atas pohon dan menyebabkan anak tersebut merasa
kesakitan pada bagian tangan kirinya.
3)
RIWAYAT
KESEHATAN
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
a.
Keluhan Utama
Klien tersebut merasa kesakitan pada
bagian tangan kirinya.
b.
Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien tersebut datang tersebut
datang kerumah sakit dengan wajah meringis dan pucat, keluar keringat dingin,
dan klien terus merintih sambil memegang tangan kirinya. Klien tersebut datang
ke rumah sakit dengan diantar orang tuanya. Keluarganya mengatakan bahwa klien
sebelumnya jatuh dari atas pohon.
2. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
a.
Penyakit
berat yang pernah dialami
Klien tidak pernah mengalami
penyakit berat.
b.
Penyakit kronis yang
pernah
dialami
Klien tidak pernah mengalami
penyakit kronis.
3. RiwayatKesehatanKeluarga
a.
Penyakit
yang dideritakeluarga
Keluarga tidak pernah mengalami
penyakit yang menular dan menurun.
b.
Hubungankeluargadenganpasien
Orang tua.
4)
KEBIASAAN
SEHARI-HARI
Klien
melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal sesuai dengan usia anak-anak
sekolah dasar.
5)
DATA
PSIKOLOGIS, SOSIAL DAN FISIK
a.
Persepsi
terhadap penyakit
Klien merasa takut dan akan ada
cedera lebih lanjut setelah fraktur karena nyeri yang terus ia rasakan
b.
Suasana
hati/perasaan
Pasien
mengalami gelisah, trauma dan takut.
6) PEMERIKSAAN FISIK
1.
Penampilan
Umum
a. Tingkat Kesadaran: normal masih bisa merespon walapun dengan merintih
2.
Tanda-tanda
vital
a. Tekanan darah: menurun
b. Pernafasan: nafas cepat dan
irreguler
3.
Kepala dan
wajah
a. Wajah:
pucat / sianosis
b. Keluhan: meringis kesakitan
4.
Mata:
a. Pupil: dilatasi
5.
Esteremitas
Atas
a) Rentang gerak : sulit menggerakan tangan kiri
b) Nyeri : nyeri akut
c) Troma Atau Factur : fraktur pada tangan kiri
d) Kekuatan otot: mengeras
D.
Analisis Data
|
No.
|
Data Fokus
|
Problem
|
Etiologi
|
|
1.
2
3.
|
Data obyektif:
a.
Wajahnya
pucat
b.
Wajah
pasien meringis
c.
Wajahnya
menandakan adanya nyeri jika tangan kirinya digerakan atau di sentuh
d.
Pasien
merintih terus menerus
e.
Bagian
yang fraktur pada tangan kirinya mengalami pembengkakan
f.
Keluar
keringat dingin yang menyebabkan sianosis
g.
Terdapat
luka memar pada bagian fraktur ditangan kirinya
Data Subyektif
a.
Pasien
mengatakan nyeri pada bagian yang patah di tangan kirinya.
b.
Pasien
mengatakan tidak dapat bergerak bebas
c.
Pasien
mengatakan jika pasien menggerakan bagian yang patah mengalami nyeri
Data Pendukung
Ambang / Penilaian Nyeri Berdasar
PQRST
a.
P : Provokatif / Paliatif
Nyeri
ditimbulkan akibat benturan keras pada tangan kiri yang disebabkan oleh
fraktur
b.
Q : Qualitas / Quantitas
Klien
terus meringis kesakitan pada lengan kirinya, ia merasa seperti ditusuk-tusuk
dibagian fraktur pada lengannya.
c.
R : Region / Radiasi
Nyeri
tersebut klien rasakan dibagian tangan kirinya saja.
d.
S : Skala Seviritas
Skala
nyeri berkisar pada skala 8 dari skala 1 sampai 10.
e.
T : Timing
Nyeri
yang dirasakan klien dimulai pada saat klien mengalami fraktur akibat
terjatuh dari pohon, sehingga nyeri terjadi secara tiba-tiba.
|
Nyeri
Akut
|
Faktor yang berhubungan :
·
Agens cedera
fisik
·
Fraktur
|
Diagnosa Keperawatan
Nyeri akut yang
berhubungan dengan fraktur.
E.
Rencana Keperawatan
|
No.
|
Data Fokus
|
Diagnosa
|
Kode
|
Intervensi Keperawatan
|
Ttd
|
|
|
Tujuan
(NOC)
|
Tindakan
(NIC)
|
|||||
|
1.
|
|
Nyeri
Akut
|
00132
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24
jam diharapkan neyeri berkurang dengan kriteria hasil:
a.
Tingkat nyeri berkurang dari skala 8 menjadi 3
b.
Klien dapat melaporkan nyeri yang
ia rasakan, dan menurunkan skala dari skala 8 menjadi 3
c.
Klien mengekspresikan wajah nyeri yang menandakan skala telah turun dari 8 menjadi 3
|
·
mengeksplorasi dengan faktor pasien yang
meningkatkan / memperburuk rasa sakit
·
menentukan frekuensi yang diperlukan untuk membuat
penilaian terhadap kenyamanan pasien dan melaksanakan rencana pemantauan
· memberikan
informasi tentang rasa sakit, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan
berlangsung, dan ketidaknyamanan diantisipasi dari prosedur
· mengurangi
atau menghilangkan faktor-faktor yang berpartisipasi, atau meningkatkan
pengalaman nyeri (rasa takut, kelelahan, monoton, dan kurangnya pengetahuan )
· mempertimbangkan
kesediaan pasien untuk berpartisipasi, kemampuan untuk berpartisipasi,
preferensi, dukungan dari orang lain yang signifikan dari metode, dan
kontraindikasi ketika memilih strategi pereda nyeri
·
mengajarkan prinsip-prinsip
manajemen nyeri.
·
mempertimbangkan jenis dan
sumber nyeri ketika memilih strategi pereda nyeri.
· mendorong
pasien untuk memonitor nyeri sendiri dan melakukan intervensi tepat.
· menggunakan
langkah-langkah kontrol nyeri sebelum nyeri menjadi parah.
·
melembagakan dan memodifikasi
tindakan pengendalian nyeri berdasarkan respon pasien.
· mempromosikan
memadai istirahat / tidur untuk memfasilitasi nyeri.
· menggunakan
pendekatan multidisiplin untuk manajemen nyeri, jika diperlukan.
·
memonitor kepuasan pasien dengan manajemen nyeri pada selang
waktu tertentu.
|
|
BAB III
PENUTUP
Nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari
sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu. Nyeri bersifat
subjektif dan sangat bersifat individual.
Nyeri yang paling sering diobservasi perawat pada
klien meliputi 3 tipe, yaitu : nyeri akut, maligna kronik dan nonmaligna
kronik.
Fraktur tulang merupakan patah pada tulang. Istilah yang digunakan
untuk menjelaskan berbagai jenis fraktur tulang antara lain :
1.
Fraktur
komplet: fraktur yang mengenai tulang secara keseluruhan.
2.
Fraktur
inkomplet: fraktur yang mengenai tulang secara parsial.
3.
Fraktur
simple (tertutup): fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit.
4.
Fraktur
compound (terbuka): fraktur yang menyebabkan
robeknya kulit.
Penyebab fraktur tulang adalah trauma, terutama pada
anak-anak dan dewasa anak. Jatuh dan cedera olah raga adalah penyebab umum
fraktur traumatik. Fraktur stres dapat terjadi pada tulang normal akibat stres
tingkat rendah yang berkepanjangan atau berulang. Fraktur stres disebut juga
fraktur keletihan (fatigue fracture), biasanya menyertai peningkatan yang cepat
tingkat keletihan atlet, atau permulaan aktivitas fisik yang baru.
Berdasarkan kasus yang ada, perawatan yang diberikan kepada pasien
adalah perawat mengeksplorasi dengan faktor yang meningkatkan rasa sakit, memberikan informasi tentang rasa sakit, dan cara mengurangi
faktor-faktor yang berkaitan, mengajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri,
mempertimbangkan jenis dan sumber nyeri ketika memilih
strategi pereda nyeri, dan membantu pasien untuk bisa mengontrol rasa
nyerinya sendiri sehingga nyeri yang dirasakan tidak bertambah parah, dan
melakukan monitoring keadaan nyeri pasien.
0 komentar:
Posting Komentar