Selasa, 18 November 2014

Pemeriksaan Diagnostik Untuk Saluran Pencernaan



Pemeriksaan yang dilakukan untuk sistem pencernaan terdiri dari:
  • Endoskop (tabung serat optik yang digunakan untuk melihat struktur dalam dan untuk memperoleh jaringan dari dalam tubuh)
  • Rontgen
  • Ultrasonografi (USG)
  • Perunut radioaktif
  • Pemeriksaan kimiawi.
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosis, menentukan lokasi kelainan dan kadang mengobati penyakit pada sistem pencernaan.
Pada beberapa pemeriksaan, sistem pencernaan harus dikosongkan terlebih dahulu; ada juga pemeriksaan yang dilakukan setelah 8-12 jam sebelumnya melakukan puasa; sedangkan pemeriksaan lainnya tidak memerlukan persiapan khusus.
Langkah pertama dalam mendiagnosis kelainan sistem pencernaan adalah riwayat medis dan pemeriksaan fisik, tetapi gejala dari kelainan pencernaan seringkali bersifat samar sehingga dokter mengalami kesulitan dalam menentukan kelainan secara pasti.
Kelainan psikis (misalnya kecemasan dan depresi) juga bisa mempengaruhi sistem pencernaan dan menimbulkan gejala-gejalanya.

Ø Endoskopi
Endoskopi adalah pemeriksaan struktur dalam dengan menggunakan selang/tabung serat optik yang disebut endoskop. Endoskop yang dimasukkan melalui mulut bisa digunakan untuk memeriksa:
  • kerongkongan (esofagoskopi)
  • lambung (gastroskopi)
  • usus halus (endoskopi saluran pencernaan atas).
Jika dimasukkan melalui anus, maka endoskop bisa digunakan untuk memeriksa:
  • rektum dan usus besar bagian bawah (sigmoidoskopi)
  • keseluruhan usus besar (kolonoskopi).
Diameter endoskop berkisar dari sekitar 0,6 cm-1,25 cm dan panjangnya berkisar dari sekitar 30 cm-150 cm. Sistem video serat-optik memungkinkan endoskop menjadi fleksibel menjalankan fungsinya sebagai sumber cahaya dan sistem penglihatan. Banyak endoskop yang juga dilengkapi dengan sebuah penjepit kecil untuk mengangkat contoh jaringan dan sebuah alat elektronik untuk menghancurkan jaringan yang abnormal.
Dengan endoskop dokter dapat melihat lapisan dari sistem pencernaan, daerah yang mengalami iritasi, ulkus, peradangan dan pertumbuhan jaringan yang abnormal. Biasanya diambil contoh jaringan untuk keperluan pemeriksaan lainnya.
Endoskop juga bisa digunakan untuk pengobatan. Berbagai alat yang berbeda bisa dimasukkan melalui sebuah saluran kecil di dalam endoskop:
  • Elektrokauter bisa digunakan untuk menutup suatu pembuluh darah dan menghentikan perdarahan atau untuk mengangkat suatu pertumbuhan yang kecil Sebuah jarum bisa digunakan untuk menyuntikkan obat ke dalam varises kerongkongan dan menghentikan perdarahannya.
  • Sebelum endoskop dimasukkan melalui mulut, penderita biasanya dipuasakan terlebih dahulu selama beberapa jam. Makanan di dalam lambung bisa menghalangi pandangan dokter dan bisa dimuntahkan selama pemeriksaan dilakukan.
  • Sebelum endoskop dimasukkan ke dalam rektum dan kolon, penderita biasanya menelan obat pencahar dan enema untuk mengosongkan usus besar.
Komplikasi dari penggunaan endoskopi relatif jarang. Endoskopi dapat mencederai atau bahkan menembus saluran pencernaan, tetapi biasanya endoskopi hanya menyebabkan iritasi pada lapisan usus dan perdarahan ringan.
Ø Laparoskopi
Laparoskopi adalah pemeriksaan rongga perut dengan menggunakan endoskop Laparoskopi biasanya dilakukan dalam keadaan penderita terbius total. Setelah kulit dibersihkan dengan antiseptik, dibuat sayatan kecil, biasanya di dekat pusar. Kemudian endoskop dimasukkan melalui sayatan tersebut ke dalam rongga perut. Dengan laparoskopi dokter dapat:
  • mencari tumor atau kelainan lainnya
  • mengamati organ-organ di dalam rongga perut
  • memperoleh contoh jaringan
  • melakukan pembedahan perbaikan.

Endoskopi saluran cerna atas/ esophagogastroduodenoskopi
Barret’s esophagus
Barret’s esophagus adalah metaplasia epitel squamous esofagus kepada bentuk epitel columnar.Keadaan ini diakibatkan refluk esofagitis dan mempunyai resiko untuk terjadinya adenocarcinoma esofagus.Esofagoskopi direkomendasikan pada pasien umur 50 tahun dengan simptom GERD yang persisten.
Patofisiologi
Gambaran endoskopi
-GER menyebabkan isi lambung yang mempunyai pH asam merusak lapisan cell di esofagus bagian bawah.
- projeksi seperti jari-jari menjulur ke atas dari   squamo- columnar junction atau dari area epitel columnar.- bercak-bercak(menunjukan gambaran  displasia) ;indocarmin disemprot untuk melihat gambaran displasia dan metaplasia.

Mallory Weiss Tear
Robekan mukosa di gastroesofageal junction dan berhubungan dengan cekukan dan muntah. Apabila robekan sampai merusak arteri submukosa perdarahan yang hebat akan terjadi.
Patofisiologi
Gambaran endoskopi
-peminum alcohol yang berat menyebabkan      muntah yang berkepanjangan .Ini menimbulkan luka pada mukosa esophagus bagian distal .Perdarahan akan berlaku
- perdarahan di gastroesofageal juntion

Varises esophagus
Patofisiologi
Gambaran endoskopi
terjadinya pelebaran pembuluh darah vena pada dinding esophagus, oleh karena adanya bendungan vena porta yang menyebabkan aliran darah balik ke jantung terhambat, sehingga aliran darah balik melalui vena-vena coronaria meningkat, vena coronaria terletak dibawah selaput lendir esophagus dan cardia lambung, seiring dengan meningkatnya jumlah darah yang lewat, diameter pembuluh darah akan membesar sampai akhirnya mencapai lebar maksimum yang berakibat pecahnya pembuluh darah.Bendungan yang terjadi terutama disebabkan oleh kelainan pada hati yang disebut cirrhosis, tetapi dapat juga disebabkan kelainan diluar hati antara lain trombosis pada vena cava inferior dan pada vena portanya sendiri
Menunjukkan gambaran pelebaran pembuluh darah pada submukosa dan subepitel esophagus.

Tumor esofagus
Esofagoskopi dilakukan untuk melihat morfologi tumor dan mengambil sediaan biopsi dan sitologi.Pemeriksaan kombinasi histopatologi dan sitologi sebagai penunjang diagnostik tumor esofagus. Tapi dengan teknologi endoskopi ultrasound kita dapat melihat infiltrasi dan keterlibatan KGB tumor.
Patofisiologi
Gambaran endoskopi
Rokok,alkohol,Plummer Vinson Syndrom,post radiasi kanker payudara, Barret’s  oesophagus,obesitas
-lesi berupa plak kecil berwarna putih dan abu-bentuk tumor bisa polipoid atau bunga kol

Ulkus peptikum
Simptom : sakit abdomen, perut gembung, mual, muntah, turun nafsu makan, turun berat badan, hematemesis, melena.
Pada pasien umur>45 thn & (+) simptom tersebut dianjurkan utuk melakukan endoskopi
Patofisiologi
Gambaran endoskopi
-ketidakseimbangan antara mekanisme pertahanan mukosa gastrointestinal dengan kekuatan yang merusak : 
  • Mekanisme pertahanan : mukus,sekresi bikarbonat ke dalam mukosa,prostaglandin, pengosongan lambung yang terlambat
  • Kekuatan yang merusak : asam lambung dan pepsin, infeksi H.Pylori, NSAID,aspirin, alkohol
H.Pylori mengeluarkan enzim urease dan protease yang merusak mukosa yang merupakan predisposisi bagi radang.
- ulkus bentuk bulat/oval- pinggir ulkus tajam dengan batas tidak terlalu tinggi dari mukosa sekitar. Pinggir tidak irreguler 
- dasar ulkus yang licin
- ulkus dikelilingi lipat-lipatan berbentuk radial akibat parut disekitarnya




Tumor Gaster
Patofisiologi
Terdapat beberapa faktor yang memicu terjadinya perobahan dari gastritis kepada gastritis atropi, kepada metaplasia, kepada displasia dan akhirnya kanker.Beberapa diet dan factor lingkungan yang mempengaruhi perobahan ini.Antaranya: 
-Diet nitrat : bakteri dalam lambung memecahkan nitrit kepada komponen yang bersifat karsinogenik(mis N-nitroso)
-Hypochlorhydria: Kondisi ini mengakibatkan atropi gaster dan memicu kolonisasi bakteri.Ini meningkatkan pembentukan nitrit yang bersifat karsinogenik.
-Helicobacter pylori: Pasien  dengan gastritis yang disertai infeksi H.Pylori 3-6 kali lebih tinggi insiden terkene kanker gaster

Ulkus duodenum
Patofisiologi
Duodenum menghasilkan lendir dan zat-zat kimia yang merupakan pelindung mukosa duodenum dari paparan asam lambung secara langsung yang dapat merusak, Dengan rusaknya lapisan pelindung maka asam lambung dan enzyme-enzym pencernaan dapat menyebabkan inflamasi dan ulkus.Lapisan pelindung tersebut dapat rusak oleh karena beberapa hal seperti: infeksi Helycobacter pylori, obat-obatan antiinflamatory misalnya: aspirin dan ibuprofen, dan juga dapat disebabkan Zollinger Ellison syndrome, walaupun jarang. 


Pemeriksaan  endoskopi untuk saluran cerna bagian bawah
Kolonoskopi dan Sigmoidoskopi
Kolonoskopi digunakan untuk mendiagnos dan merawat masalah usus besar, ianya adalah sesuai untuk pendiagnosaan :
  • Polyp kolon
  • Kanker kolon
  • Penyakit radang usus (Ulcerative Colitis dan Crohn’s disease)
  • Wasir (Hemoroid)
  • Diverticulosis
  • Dll

Kelainan
Patofisiologi
1.    Polip Kolon                 
 Jenis pemeriksaan: 
·      Kolonoskopi,
·      Sigmoidoskopi
Kolonoskopi kelainan yang dilihat: 
  • Adanya penonjolan atau ulkus,
  • Kelainan warna,
  • Bentuk permukaan, dan
  • Gambaran pembuluh darahnya.
(Bila ditemukan kelainan yang merupakan penonjolan (polipoid) maka diperlukan pemeriksaan histologi.)
Penanganan polip adalah kolonoskopi dengan polipektomi.
Simtom dari polip:
  • perdarahan dari anus
  • konstipasi maupun diare
  • darah bercampur dengan tinja
2.Neoplasma Kolorektal
  • >95% kanker kolon berasal dari polip adematous yang tumbuh secara perlahan-lahan.
  • Deteksi dini adanya polip dan kanker usus besar akan mengurangi angka kematian.
  • Kolonoskopi masih merupakan baku emas bagi visualisasi, biopsi dan bila mungkin pembuangan neoplasma kolon.
  • Berbagai faktor risiko kanker ini adalah faktor genetis (keluarga dengan riwayat kanker usus, polip usus, adanya polip usus tanpa riwayat keluarga), lingkungan, konsumsi daging, lemak/kolesterol, alkohol yang berlebihan, perokok, penyakit radang usus dan obesitas.
  • Mikroskopis: berasal dari sel epitel colon atau krypt von lieberkuhn
  • Makroskopis 4 tipe yaitu: annular, tubular, ulcer, dan clowly flower.
3.Ulcerative Colitis
  • Proses inflamasi terjadi biasanya dimulai di rectum, lalu dapat meluas ke proksimal namun tak pernah melewati kolon.
  • Bila bagian rectum saja yang terkena atau meluas sampai sigmoid disebut proktitis atau proktosigmoiditis, sedangkan bila seluruh kolon terlibat disebut pankolitis.
  • Dilakukan kolonoskopi untuk melihat luasnya kerusakan serta menentukan diagnosis banding kolitis.
4.Crohn’s disease
  • Penyakit krohn merupakan salah satu penyakit usus inflamatorik, yang dapat menyerang seluruh nbagian saluran gastrointestinal, mulai dari mulut (stomatitis) sampai lesi pada anus.
  • Individu dengan mutsi gen NOD2 mudah mengalami perkembangan penykit krohn.
  • Dilakukan sigmoidoskopi atau kolonoskopi melihat obstruksi, gambaran khas lesi dengan ulkus dalam, striktur, dan lesi terputus, juga dapat melihat adanya fistula.
5. Hemoroid
  • Wasir (hemorrhoid) atau dikenal pula dengan sebutan ambeien adalah suatu pelebaran pembuluh darah balik (vena) pada anus/dubur, teraba seperti bola atau benjolan kecil yang dapat menimbulkan rasa nyeri, gatal, dan ketidaknyamanan.
  • Para ahli membagi hemorrhoid menjadi dua macam: hemoroid interna dan eksterna.
  • Diagnosis wasir yang membengkak dan terasa nyeri ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan di daerah anus dan rektum. Untuk keadaan yang lebih serius, misalnya tumor, bisa dibantu dengan pemeriksaan anoskopi dan sigmoidoskopi.
6. Perdarahan saluran cerna bagian bawah
  • Patofisiologi tergantung penyebab
  • Darah segar bercampur tinja: Lesi pada ileum atau colon
  • Darah diluar tinja: Lesi pada ampula rektum atau anus
  • Melena: Duplikasi ileum dan Divertikulum Meckel
  • Sigmoidoskopi dan kolonoskopi

Penilaian Kecukupan Nutrisi
1.      Pengertian
            Kecukupan gizi adalah rata-rata asupan gizi harian yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi hampir semua (97,5%) orang sehat dalam kelompok umur, jenis kelamin dan fisiologis tertentu. Nilai asupan harian zat gizi yang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan gizi mencakup 50% orang sehat dalam kelompok umur, jenis kelamin dan fisologis tertentu disebut dengan kebutuhan gizi.
            Standart kecukupan gizi di Indonesia masih menggunakan makro,yaitu kecukupan kalori (energi) dan kecukupan protein. Di Indonesia belum diterapkan standart kecukupan gizi secara mikro, seperti kecukupan vitamin dan mineral.
2.      Standart Kecukupan Gizi
Standart kecukupan gizi secara ukuran dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu:
·        Ukuran makro, yaitu kecukupan kalori (energi) dan kecukupan protein.
·        Ukuran mikro, yaitu kecukupan vitamin dan mineral.
a.       Kecukupan kalori (energi)
Energi dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan pekerjaan, tubuh memperoleh energi dari makanan yang dimakan, dan energi dalam makanan ini terdapat sebagai energi kimia yang dapat diubah menjadi energi bentuk lain. Bentuk energi yang berkaitan dengan proses-proses biologi adalah energi kimia, energi mekanis, senergi panas dan energi listrik..
Energi dalam tubuh digunakan untuk:
·        Melakukan pekerjaan eksternal;
·        Melakukan pekerjaan internal dan untuk mereka yang masih tumbuh;
·        Keperluan pertumbuhan, yaitu untuk senyawa-senyawa baru.,
Macam-macam makanan tidak sama banyaknya dalam menghasilkan energi,padahal manusia harus mendapatkan sejumlah makanan tertentu setiap harinya yang menghasilkan energi,terutama untuk mempertahankan proses kerja tubuhnya dan menjalankan kegiatan-kegiatan fisik.Untuk mengukur atau menentukan banyaknya energi yang dihasilkan makanan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1)   Langsung
Pengukuran atau penentuan banyaknya energi yang dihasilkan oleh makanan dengan menggunakan alat yang disebut bomb calorimeter.Dengan menggunakan alat tersebut akan dapat ditentukan atau diukur sejumlah kalori(untuk energi) yang dihasilkan zat makanan.Satu kalori adalah merupakan banyaknya panas yang digunakan untuk menaikan suhu 1 liter air sebanyak 1oC


2)   Secara tidak langsung
Pengukuran atau penentuan banyaknya energi yang dihasilkan oleh makanan atau bahan makanan melalui penguraian kimiawi (analisa),dengan pertama-tama ditentukan terlebih dahulu karbonhidratya, lemak , dan protein.
b.      Kecukupan protein
Tubuh manusia memerlukan berbagai zat gizi yang satu sama yang lain saling mempengaruhi. Bayaknya protein dalam tubuh didasarkan oleh dua hal pokok berikut:
1)   Untuk memenuhi kebutuhan basal (minimal ) di mana apabila jumlah kebutuhan ini tidak dipengaruhi maka kesehatan tubuh akan terganggu dan pertumbuhan normal tidak akan tercapai.
2)   Sejumlah tambahan untuk mengimbangi adanya kerusakan infeksi , stress dan sebagainya.
Tubuh kita tidak dapat menghindari kehilangan-kehilangan protein terutama yang terjadi melalu air seni, kotoran(feses) dan kulit.
c.       Kecukupan Vitamin
Vitamin merupakan suatu molekul organic yang sangat diperlukan oleh tubuh untuk proses metabolisme dan pertumbuhan yang normal. Vitamin-vitamin tidak dapat dibuat oleh tubuh manusia dalam jumlah yang sangat cukup, oleh karena itu, harus diperoleh dari bahan pangan yang dikonsumsi. Sebagai perkecualian adalah vitamin D. Dalam bahan pangan hanya terdapat vitamin dalam jumlah yang relatif sangat kecil dan terdapat dalam bentuk yang berbeda-beda, diantaranya ada yang berbetuk provitamin atau calon vitamin (Precussor) yang dapat diubah dalam tubuh menjadi vitamin yang aktif.
d.      Kecukupan Mineral
Zat gizi dapat digolongkan, yaitu golongan Makromolekul (teh, protein dan lemak) serta mikromolekul vitamin dan mineral. Meskipun merupakan komponen yang paling vital untuk kehidupan, pada bahan pangan hewani dapat berupa daging (sapi, kerbau, kambing, ayam, unggas, kelinci dan lain-lain), sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber vitamin dan mineral.
Komponen-komponen anorganik tubuh manusia terutama adalah Natrium, Kalium, Kalsium, Magnesium, Besi, Fosfor, Klorida dan Sulfur. Sebagian dari unsur-unsur tersebut adalah mineral-mineral tulang dan ion-ion dapat sebagai cairan tubuh. Mineral-mineral tersebut adalah bagian-bagian mustahak dari makanan. Unsur-unsur lain yang terdapat dalam jumlah sangat kecil disebut unsur-unsur runut (trace elements) yang juga adalah komponen-komponen makanan yang mustahak. Ini termasuk tembaga, moblibzenum, kobalt, mangan, zink, kromium, setenium, iodium dan fluor.
Yodium (i) merupakan mineral yang diperlukan tubuh dalam jumlah yang relatif sangat kecil, tetapi mempunyai peranan yang sangat penting untuk pembentukan hormon tiroksin. Hormon tiroksin ini sangat berperan dalam metabolisme sehingga dalam keadaan konsumsi yodium yang rendah, kelenjar gondok akan berupaya membuat konpensasi dengan membesrakan kelenjarnya. Frevalensi pembeseran kelenjar gondok di indonesia temasuk sangat tingi. Karenanya defesiensi yudium atau gondok andemik merupakan salah satu masalah gizi utama.
Kebutuhan yodium per hari sekitar 1-2 g per kg berat badan. Perkiraan kecukupan yang dianjurkan sekitar 40-120 g per hari untuk anak samapi umur 10 tahun, dan 150 g per hari untuk orang dewasa. Untuk wanita dan menyusui dianjurkan tambahan masaing-masing 25 g dan 50 g per hari.
3.      Penilaian Status Nutrisi
Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat, yaitu penilaian secara langsung dan penilaian secara tidak langsung.
a.      Penilaian secara langsung
Penilaian status gizi secara langsung dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Adapun penilaian dari masing-masing adalah sebagai berikut :
1)      Antropometri
Secara umum bermakna ukuran tubuh manusia. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :
a)      Umur
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004)
b)      Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu (Djumadias Abunain, 1990).
c)      Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes RI, 2004). Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi.

2)      Klinis
Metode ini, didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal tersebut dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. 
3)      Biokimia
Adalah suatu pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain: urine, tinja, darah, beberapa jaringan tubuh lain seperti hati dan otot. 
4)      Biofisik
Penentuan gizi secara biofisik adalah suatu metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi, khususnya jaringan, dan melihat perubahan struktur jaringan.
b.      Penilaian secara tidak langsung
Penilaian status gizi secara tidak langsung dibagi menjadi 3 yaitu: survey konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi . Adapun uraian dari ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut :
1)      Survey konsumsi makanan
Adalah suatu metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. 
2)      Statistik vital
Adalah dengan cara menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi. 
3)      Ekologi
Berdasarkan ungkapan dari Bengoa dikatakan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dll.

Diambil dari Catatan Maggie
Rumus IMT = BB / (TB)2 Keterangan : BB = Berat Badan (kg)
TB = Tinggi Badan (m)
tinggi badan...
Rumus IMT = BB / (TB)2

Keterangan :
BB           =             Berat Badan (kg)
TB           =             Tinggi Badan (m)

Rumus BBI = (TB-100) – 10% (TB-100) untuk menghitung orang yang ≤ 40 tahun
                  = (TB-100) untuk menghitung orang yang ≥ 40 tahun


LiLA        =     Lingkar Lengan / Lingkar standar
Keterangan:
LiLA                        =             Lingkar Lengan Atas
Lingkar standar =             (Male: 29,5 cm) (Female: 28,5 cm)

Tipe LiLA :
·        Underweight < 18,5
·        Normal Range 18,5 < x < 22,9
·        Overweight at risk 23 < x < 24,9
·        Obese I 25 < x < 29,9
·        Obese II x > 30

Rumus Perhitungan Kebutuhan Energi    =
Male       =   66 + (13,8 x Wt) + (5 x Ht) – (6,8 x A)
Female  =   655 + (9,6 x Wt) + (1,8 x Ht) – (4,7 x A)

Keterangan:
Wt          = Weight (Berat Badan) (kg)
Ht           = Height (Tinggi Badan) (cm)
A             = Age (Umur)

Pemberian Nutrisi Parenteral
1.      Pengetian
Pemberian Nutrisi Parenteral merupakan pemberian nutrisi berupa cairan infus yang di masukkan ke dalam tubuh melalui darah vena baik sentral (untuk nutrisi parenteral total) atau vena perifer (untuk nutrisi parenteral parsial).
Nutrisi parenteral adalah suatu bentuk pemberian nutrisi yang diberikan langsung melalui pembuluh darah tanpa melalui saluran pencernaan (Wiryana,2007). Nutrisi parenteral diberikan apabila usus tidak dipakai karena sesuatu hal, misalnya: Malformasi Kongenital Intestinal, Enterokolitis Nekrotikans, dan Distres Respirasi Berat. Nutrisi parsial parenteral diberikan apabila usus dapatdipakai, tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan nutrisi untuk pemeliharaan dan pertumbuhan (Setiati, 2000).
Pemberian nutrisi melalui parenteral dilakukan pasien yang tidak dapat di penuhi kebutuhan nutrisinya melalui oral atau enteral
2.      Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral
Mempertahankan kebutuhan nutrisi
3.      Metode pemberian Pemberian Nutrisi Parenteral
a.       Nutrisi parenteral parsial, pemberian sebagian kebutuhan nutrisi melalui intravena. Sebagian kebutuhan nutrisi harian pasien masih dapat di penuhi melalui enteral. Cairan yang biasanya digunakan dalam bentuk dekstrosa atau cairan asam amino
b.      Nutrisi parenteral total, pemberian nutrisi melalui jalur intravena ketika kebutuhan nutrisi sepenuhnya harus dipenuhi melalui cairan infus. Cairan yang dapat digunakan adalah cairan yang mengandung karbohidrat seperti Triofusin E1000, cairan yang mengandung asam amino seperti PanAmin G, dan cairan yang mengandung lemak seperti Intralipid
c.       Lokasi pemberian nutrisi secara parenteral melalui vena sentral dapat melalui vena antikubital pada vena basilika sefalika, vena subklavia, vena jugularis interna dan eksterna, dan vena femoralis. Nutrisi parenteral melalui perifer dapat dilakukan pada sebagian vena di daerah tangan dan kaki

Pemberian Nutrisi Enteral
1.      Pengertian
Nutrisi enteral adalah nutrisi yang diberikan pada pasien yang tidak dapatmemenuhi kebutuhan nutrisinya melalui rute oral, formula nutrisi diberikanmelalui tube ke dalam lambung (gastric tube), nasogastric tube (NGT), ataujejunum dapat secara manual maupun dengan bantuan pompa mesin (Setiati,2000).
2.      Indikasi Pemberian Nutrisi Enteral
            Pemberian nutrisi enteral diberikan pada pasien yang sama sekali tidak bisa makan, makanan yang masuk tidak adekuat, pasien dengan sulit menelan, pasien dengan luka bakar yang luas. Pada pasien dengan keadaan trauma berat, luka bakar dan status katabolisme, maka pemberian nutrisi enteral sebaiknya sesegera mungkin dalam 24 jam.
3.      Kontra indikasi pemberian nutrisi enteral
            Kontra indikasi pemberian nutrisi enteral adalah keadaan dimana saluran cerna tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, kelainan anatomi saluran cerna, iskemia saluran cerna, dan peritonitis berat. Pada pasien dengan pembedahan, pemberian nutrisi enteral harus dikonfirmasikan dengan tanda munculnya flatus.
            Pada prinsipnya, pemberian formula enteral dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan secara bertahap sampai mencapai dosis maksimum dalam waktu seminggu. Makanan enteral yang telah disediakan sebaiknya dihabiskan dalam waktu maksimal 4 jam, waktu selebihnya akan membahayakan karena kemungkinan makanan tersebut telah terkontaminasi bakteri.
4.      Route pemberian nutrisi enteral
a.      Nasogastrik: pemberian melalui nasogastrik memerlukan fungsi gaster yang baik, motilitas dan pengosongan gaster yang normal.
b.      Transpilorik: pemberian transpilorik efektif jika ada atoni gaster.
c.       Perkutaneus: bila bantuan nutrisi secara enteral dibutuhkan lebih dari 4 bulan. Jejunostomi diberikan bila ada GER, gastroparesis, pankreatitis.
5.      Halangan yang mungkin terjadi pada pemberian nutrisi enteral
            Pemberian nutrisi enteral terkadang mengalami hambatan. Beberapa hambatan yang terjadi adalah sebagai berikut:
a.       gagalnya pengosongan lambung,
b.      aspirasi dari isi lambung,
c.       diare,
d.      sinusitis,
e.       esofagitis,
f.        salah meletakkan pipa.
6.      Komposisi formula untuk makanan enteral
            Makanan enteral sebaiknya mempunyai komposisi yang seimbang. Kalori non protein dari sumber karbohidrat berkisar 60-70%; bisa merupakan polisakarida, disakardida mapun monosakarida. Glukosa polimer merupakan karbohidrat yang lebih mudah diabsorpsi. Sedangkan komposisi kalori non protein dari sumber lemak berkisar antara 30-40%; bisa merupakan lemak bersumber dari Asam Lemak Esensial (ALE/EFA). Lemak ini mempunyai konsentrasi kalori yang tinggi tetapi sifat abrsorpsinya buruk. Lemak MCT merupakan bentuk lemak yang mudah diabsorpsi. Protein diberikan dalam bentuk polimerik (memerlukan enzim pankreas) atau peptida. Protein whey terhidrolisis merupakan bentuk protein yang lebih mudah diabsorpsi daripada bentuk asam amino bebas.
            Pada formula juga perlu ditambahkan serat; serat akan mengurangi risiko diare dan mengurangi risiko konstipasi, memperlambat waktu transit makanan pada saluran cerna, merupakan kontrol glikemik yang baik. Serat juga mempromosikan fermentasi di usus besar sehingga menghasilkan SCFA yang merupakan faktor trofik. SCFA menyediakan energi untuk sel epitel untuk memelihara integritas dinding usus.

7.      Pemberian nutrisi enteral pada keadaan khusus
            Pada anak dengan gangguan pernapasan (fungsi pulmo tidak adekuat), maka nutrisi yang diberikan sebaiknya tinggi lemak (50%) serta rendah karbohidrat. Pada penyakit hepar, sebaiknya menggunakan sumber protein tinggi BCAA, asam amino rendah aromatik. Bila ada ensefalopati hepatik, protein sebaiknya diberikan <0.5 g/kgBB/hari.
            Pada pasien dengan gangguan renal sebaiknya diberikan rendah protein, padat kalori, rendah PO4, K, Mg. Pemberian protein dengan menggunakan patokan GFR sebagai berikut: GFR >25: 0.6-0.7 g/kgBB/hari, bila GFR <25: 0.3 g/kgBB/hari.


Pemberian Nutrisi Melalui NGT
Pemberian nutrisi melalui pipa penduga atau lambung merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara oral atau tidak mampu menelan dengan cara memberi makan melalui pipa lambung atau pipa penduga.
1.      Tujuan
Adapun tujuan kita dalam pemberian nutrisi melalui pipa penduga antara lain:
·        Dekompressi yaitu membuang dan substansi gas dari saluran gastrointestinal, mencegah atau menghilangkan distensi abdomen.
·        Memberi makan yaitu memasukkan suplemen nutrisi cair atau makanan kedalam lambung untuk klien yang tidak dapat menelan cairan.
·        Kompressi yaitu memberi tekanan internal dengan cara mengembangkan balon untuk mencegah perdarahan internal pada esofagus.
·        Bilas lambung yaitu irigasi lambung akibat pendarahan aktif, keracunan, atau dilatasi lambung.
2.      Indikasi dan Kontra Indikasi
a.      Indikasi
Adapun indikasi pada pemasangan NGT antara lain:
·      Fraktur rahang
·      Kesadaran menurun
·      Gangguan menelan
·      Muntah terus-menerus
b.      Kontra indikasi
Adapun kontra indikasi pada pemasangan NGT antara lain:
·        Rahang amandel
·        Gangguan pada saluran pencernaan yang dapat menghambat pemasangan selang sehinggan menimbulkan komplikasi
3.      Persiapan
A.  Persiapan pasien
Pasien diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan sehingga pasien mengerti apa yang harus dilakukannya.
B.  Persiapan lingkungan
Persiapan lingkungan dapat ditempuh antara lain dengan menciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.
C.  Persiapan alat
Alat yang perlu dipersiapkan dalam pemberian nutrisi melalui pipa penduga antara lain:
Baki yang dilapisi pengalas berisi:
1)      Bak instrumen steril:

·      Sepasang sarung tangan atau handcoen
·      NGT / magslang / sonde lambung
·      Sudip lidah / spatel
·      Kasa pada tempatnya
·      Corong / tabung semprot 50-100 cc
·      Kapas alkohol

2)      steril:

·        Jeli
·        Senter
·        Plester
·        Stetoskop
·        Handuk kecil / serbet / pengalas
·        Tisu / selstop
·        Bengkok
·        Makanan cair pasien
·        Gelas berisi air minum
·        Gunting
·        Air bersih di dalam baskom kecil
·        Peniti
·        Spuit 20 cc

4.      Prosedur pelaksanaan
·        Beri salam / sapa pasien
·        Jelaskan tindakan yang akan dilakukan
·        Perawat cuci tangan
·        Pasang sampiran
·        Dekatkan alat kepasien
·        Baca basmalah sebelum melakukan tindakan
·        Bentu pasien pada posisi nyaman (bila memungkinkan pada posisi semi fowler / fowler)
·        Pasang handuk di atas dada pasien sampai ke pinggir tempat tidur dan letakkan tisu di dekat bantal pasien
·        Untuk menentukan insersi NGT, minta klien untuk rileks dan bernafas normal. Kemudian cek udara yang melalui lubang hidung, caranya: pijit salah satu kuping hidung dan rasakan aliran udara pada lubang hidung yang bebas dan begitu pula sebaliknya
·        Pasang sarung tangan
·        Mengukur panjang selang yang akan dimasukkan dengan menggunakan:
ü  Ukur jarak dari puncak lubang hidung ke daun telinga bawah dan ke prosesus xyfoideus di sternum
ü  Ukur selang dari puncak dahi ke epigastrium
ü  Ukur selang dari daun telinga bawah kepuncak lubang hidung dan ke prosesus xyfoideus di sternum
·      Beri tanda pada panjang selang yang sudah di ukur
·      Olesi jeli pada NGT sepanjang 10-20 cm
·      Atur posisi klien dengan kepala ekstensi, dan masukkan selang melalui lubang hidung yang telah ditentukan
·      Masukkan slang sepanjang rongga hidung. Jika terasa agak tertahan, putarlah slang dan jangan dipaksakan untuk dimasukkan
·      Lanjutkan memasang slang sampai melewati nasofaring (3-4 cm) anjurkan pasien untuk menekuk leher dan menelan
·      Dorong pasien untuk menelan dengan memberikan sedikit air minum (jika perlu). Tekankan pentingnya bernafas lewat mulut
·      Jangan memaksakan slang untuk masuk. Jika ada hambatan atau pasien tersedak, sianosis, hentikan mendorong selang. Periksa posisi slang di belakang tenggorok dengan menggunakan sudip lidah dan senter
·      Jika telah selesai memasang NGT sampai ujung yang telah ditentukan, anjurkan pasien untuk rileks dan bernafas normal
·      Periksa letak slang dengan cara:
ü  Memasang spuit pada ujung NGT, memasang bagian diafragma stetoskop pada perut di kuadran kiri atas pasien (lambung) kemudian suntikkan 10-20 cc udara bersamaan dengan auskultasi abdomen
ü  Dengan menggunakan spuit, mengaspirasi pelan-pelan untuk mendapatkan isi lambung
ü  Memasukkan ujung bagian luar slang NGT ke dalam waskom yang berisi air. Jika terdapat gelembung udara, slang masuk ke paru-paru, jika tidak slang masuk ke dalam lambung
·      Oleskan alkohol pada ujung hidung pasien dan biarkan sampai kering
·      Yakinkan slang tidak tersumbat dengan cara:
ü  Masukkan makanan dengan aliran perlahan (perhatikan: aliran air dan jarak corong  30 cm dan lihat reaksi pasien terhadap rasa tidak nyaman)
ü  Setelah makan masukkan 15-30 ml air putih (bila ada obat dalam bentuk tablet haluskan dahulu)
·      Fiksasi slang dengan plester 10 cm dan silangkan plester pada slang yang keluar dari hidung
·      Klem dan tutup ujung slang dengan kassa dan plester / karet gelang
·      Penitikan slang kebaju pasien. Biarkan pasien pada posisi semifowler / fowler selama  15-30 menit
·      Evaluasi klien setelah terpasang NGT
·      Baca hamdalah setelah melakukan tindakan
·      Rapikan alat
·      Perawat cuci tangan
·      Dokumentasikan hasil tindakan pada catatan perawatan
5.      Evaluasi
·        Pasien tidak terjadi batuk
·        Ujung NGT bila dimasukan pada air tidak timbul gelembung udara
·        Cairan yang keluar berwarna agak kehijau-hijauan jernih
·        Masukan udara  10cc lewat NGT, bersamaan memasukan udara didengarkan suara dalam lambung dengan stestokop maka akan terdengar udara
·        Bila kesadaran pasien menurun (tidak kooperatif), bisa dirangsang dengan memberi minum 1 sendok, saat ada tanda menelan maka NGT dimasukan.

D.  Cara melepaskan selang NGT
·        Cuci tanga sebelum melakukan tindakan
·        Gunakan Handscon
·        Jelaskan prosedur pelepasan NGT pada pasien.
·        Lakukan pelepasan NGT secara perlahan (sambil lihat ekspresi wajah pasien ).
·        Suruh pasien untuk menarik nafas disaat pelepasan NGT
·        Simpan selang NGT yang telah di pakai ke bengkok.
·        Cuci tangan kembali sesudah melakukan tindakan tersebut.

[Keb. Dasar Manusia] Pemberian Nutrisi Melalui Oral (Mulut)
Pemberian nutrisi melalui oral merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri. Biasanya terjadi pada pasien yang memiliki gangguan pada mulutnya, bayi juga bisa termasuk yang masih harus disuapi.
Prosedur Pelaksanaan
Persiapan Alat dan Bahan
  • Piring
  • Sendok
  • Garpu
  • Gelas
  • Serbet
  • Mangkok cuci tangan
  • Pengalas
  • Jenis diet
Prosedur Tindakan
  • Cuci tangan
  • Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
  • Atur posisi depan
  • Pasang pengalas
  • Anjurkan pasien untuk berdoa sebelum berdoa
  • Bantu untuk melakukan makan dengan menyuapkan makanan sedikit demi sedikit dan berikan minum sesudah makan
  • Bila selesai makan, bersihkan mulut pasien dan anjurkan duduk sebentar
  • Catat hasil atau respons pemenuhan terhadap makan
  • Cuci tangan


PEMERIKSAAN FISIK SYSTEM PENCERNAAN (skill lab)

Prisip pengkajian:
1.    Head to toe
2.    Menggunakan semua indra raba
3.    Subyektif-obyektif (menggunakan auto&allowanamnesa)
Pada medical model tidak terlepas dari ini dalam menentukan diagnose:
1.      Pemeriksaan fisik
2.      Riwayat penyakit
3.      Px penunjang/ lab

 
Pembagian abdomen ada 4 kuadran:

1.      Kuadran 1 terdiri dari:
a.    Hepar: hepar di abdomen hanya terlihat sedikit,
b.    Splain:adalah tempat pembongkaran sel darah merah.  penyakit yang menyerang
splain meliputi: DB, Malaria pada splenomegali terjadi pada cirosis hepatika V
anemia, trombositopeni, leukemia
c.    colon
d.    lambung
2.      Kuadran 2 terdiri dari:
a.    bagian lambung
b.    pankreas,
c.    limfe,
d.    colon desenden,
e.    ileum.
3.      Kuadran 3 terdiri dari:
a.       colon desenden,
b.      colon sigmoid
4.      Kuadran 4 terdiri dari:
a.       appendix






Regio ada 9 :

Menggunakan pemeriksaan region apabila pemeriksaan abdomen tidak Nampak
1.       Hipokondria kanan
2.       Epi
3.       Hipokondria kiri
4.       Lulmbal kanan
5.       Umbilical
6.       Lumbal kiri
7.       Ilium kanan
8.       hipogastri
9.       Ilium kiri

Teknik pemeriksaan fisik:
1)      Persiapan pasien
2)      Jika pasien merasakan nyeri, perut tegang maka dapat diindikasikan peritonitis. Maka inspeksi cukup&tidak dilanjutkan ke pemeriksaan yang lain.
3)      Posisikan pasien terlentang
4)      Inspeksi bladder kosong -> agar tidak keluar


Kaji :
1)      riwayat penyakit,
2)      Pemeriksaan diagnostic,
3)      Pemeriksaan fisik:
ekspresi pasien, jika terlihat nyeri maka gunakan PQRST: tanyakan dengan tingkat nyeri 1-10.
a.       KAJI RAMBUT PASIEN, ada kerontokan/ tidak.
Kurang protein
Lihat hasil lab: albumin
b.      MATA:  konjungtiva:anemis
·        dx: gangguan perfusi jaringan< hipotase=Anemia > butuh px penunjang HB&eritrosit
·        Fe
·        asupan nutrisi
·        Dx: deficit nutrisi
·        Sclera: ikterik > gangguan hepar > wajah joundis
           
1)      Kaji historical riwayat hepatitis?
2)      Kaji PX penunjang: SGOT,SGPT,HBSAG,HCV, Albumin (v) > gangguan nutrisi
c.       Hidung
d.      Mulut :
                                   i.          gigi lengkap?
                                 ii.          Bau mulut > ammonia

e.       Ginjal > Kaji produksi urin.jika urin(v)-> penykit ginjal & PX penunjang: ureum kreatinin
f.        hepar(cirosis hepatika) > kaji riwayat penyakit hepatitis,konsumsi alcohol & PX Penunjang :albumin (v), SGOT,SGPT, hbsag +, ammonia >spider nepi,
g.       LIDAH : jika terjadi deviasi & wajah perot -> stroke-> hipoglosus & n. facialis & n.vagus -> gangguan menelan -> dx: gangguan menelan &resiko aspirasi
kaji apakah bisa menelan+palpasi -> jika teraba maka gangguan menelan baik.
h.       DADA : a. jika ada spider nepi -> manifestasi klinik dari cirosis hepatica
i.         PERUT: pengkajian model IAPP: Inspeksi: bentuk perut :cembung/simetris dan penegangan abdomen Auskultasi, Perkusi, Palpasi. Jika saat inspeksi perut tegang+nyeri ambdomen maka kmungkinan peritonitis dan akhiri pengkajian IAPP.. Warna kulit, jaringan parut? -> riwayatnya post op & luka post op di kuadran berapa/ region berapa&berapa panjang,
Ada varises perut/kaput medusa?-> cirosis hepatica. Ada strie? Ada linea gravida?


j.        UMBILICUS: -> peningkatan intra abdomen, ada inflamasi umbilicus? -> ada hernia umbilical?
k.      PERISTALTIK USUS: bisa di 4 kuadran.
1)      auskultasi= Cari peristaltic usus di semua kuadran.bandingkan bagian kuadran mana yg paling terdengar paling keras, berhenti 1 menit. Hitung normal 5-30/mnit. Diare (^) peristaltic usus. Konstipasi (v) peristaltic usus. Jika terjadi (^) peristaltic lambung=gastritis.
2)      Perkusi= 2 type: timpani dan redup/dullness= ketika ada cairan/ benda lunak-> hepar.
Perkusi bagian hepar&lambung
3)      Asites= berisi cairan. Gambar acites. (cairan berada di dalam bawah perut-> jika di perkusi bagian atas normal:timpani dan bagian bawah dullness: berisi cairan) dengan posisi pasien terlentang dan miring.
4)      Palpasi : palpasi di semua kuadran.kuadran 1 Ada nyeri? Pada epigastric nyeri?kuadran 2 ada nyeri?kuadran 3 ada nyeri tekan? Jika pada titk merbani nyeri:appendicitis
l.         HEPAR=Palpasi  hepar= instruksikan pasien gembungkan perut+lepaskan. Jika terasa hepar naik ke atas=hepatomegali.

m.     SPLAIN= jika terasa keras: spelenomegali ->cirosis hepatica, DB,Malaria.







n.       USUS= pmeriksaan dengan 2 tipe auskulator sign

dan soas sign.

Appendicitis di kuadran 4 nyeri.

o.      KAKI= ada oedema? Tekan jika  >3 detik maka ada tekanan onkotikoloid.



0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar