Pemeriksaan yang dilakukan untuk sistem pencernaan terdiri dari:
- Endoskop (tabung serat optik yang digunakan untuk melihat struktur dalam dan untuk memperoleh jaringan dari dalam tubuh)
- Rontgen
- Ultrasonografi (USG)
- Perunut radioaktif
- Pemeriksaan kimiawi.
Pemeriksaan-pemeriksaan
tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosis, menentukan lokasi kelainan
dan kadang mengobati penyakit pada sistem pencernaan.
Pada beberapa pemeriksaan, sistem pencernaan harus dikosongkan terlebih dahulu; ada juga pemeriksaan yang dilakukan setelah 8-12 jam sebelumnya melakukan puasa; sedangkan pemeriksaan lainnya tidak memerlukan persiapan khusus.
Pada beberapa pemeriksaan, sistem pencernaan harus dikosongkan terlebih dahulu; ada juga pemeriksaan yang dilakukan setelah 8-12 jam sebelumnya melakukan puasa; sedangkan pemeriksaan lainnya tidak memerlukan persiapan khusus.
Langkah pertama dalam
mendiagnosis kelainan sistem pencernaan adalah riwayat medis dan pemeriksaan
fisik, tetapi gejala dari kelainan pencernaan seringkali bersifat samar
sehingga dokter mengalami kesulitan dalam menentukan kelainan secara pasti.
Kelainan psikis (misalnya kecemasan dan depresi) juga bisa mempengaruhi
sistem pencernaan dan menimbulkan gejala-gejalanya.
Ø Endoskopi
Endoskopi adalah
pemeriksaan struktur dalam dengan menggunakan selang/tabung serat optik yang
disebut endoskop. Endoskop yang dimasukkan melalui mulut bisa digunakan untuk
memeriksa:
- kerongkongan (esofagoskopi)
- lambung (gastroskopi)
- usus halus (endoskopi saluran pencernaan atas).
Jika dimasukkan melalui anus, maka endoskop bisa digunakan untuk memeriksa:
- rektum dan usus besar bagian bawah (sigmoidoskopi)
- keseluruhan usus besar (kolonoskopi).
Diameter endoskop
berkisar dari sekitar 0,6 cm-1,25 cm dan panjangnya berkisar dari sekitar 30
cm-150 cm. Sistem video serat-optik memungkinkan endoskop menjadi fleksibel
menjalankan fungsinya sebagai sumber cahaya dan sistem penglihatan. Banyak
endoskop yang juga dilengkapi dengan sebuah penjepit kecil untuk mengangkat
contoh jaringan dan sebuah alat elektronik untuk menghancurkan jaringan yang
abnormal.
Dengan endoskop dokter
dapat melihat lapisan dari sistem pencernaan, daerah yang mengalami iritasi,
ulkus, peradangan dan pertumbuhan jaringan yang abnormal. Biasanya diambil
contoh jaringan untuk keperluan pemeriksaan lainnya.
Endoskop juga bisa digunakan untuk pengobatan. Berbagai alat yang berbeda
bisa dimasukkan melalui sebuah saluran kecil di dalam endoskop:
- Elektrokauter bisa digunakan untuk menutup suatu pembuluh darah dan menghentikan perdarahan atau untuk mengangkat suatu pertumbuhan yang kecil Sebuah jarum bisa digunakan untuk menyuntikkan obat ke dalam varises kerongkongan dan menghentikan perdarahannya.
- Sebelum endoskop dimasukkan melalui mulut, penderita biasanya dipuasakan terlebih dahulu selama beberapa jam. Makanan di dalam lambung bisa menghalangi pandangan dokter dan bisa dimuntahkan selama pemeriksaan dilakukan.
- Sebelum endoskop dimasukkan ke dalam rektum dan kolon, penderita biasanya menelan obat pencahar dan enema untuk mengosongkan usus besar.
Komplikasi dari
penggunaan endoskopi relatif jarang. Endoskopi dapat mencederai atau bahkan
menembus saluran pencernaan, tetapi biasanya endoskopi hanya menyebabkan
iritasi pada lapisan usus dan perdarahan ringan.
Ø Laparoskopi
Laparoskopi adalah
pemeriksaan rongga perut dengan menggunakan endoskop Laparoskopi biasanya
dilakukan dalam keadaan penderita terbius total. Setelah kulit dibersihkan
dengan antiseptik, dibuat sayatan kecil, biasanya di dekat pusar. Kemudian
endoskop dimasukkan melalui sayatan tersebut ke dalam rongga perut. Dengan
laparoskopi dokter dapat:
- mencari tumor atau kelainan lainnya
- mengamati organ-organ di dalam rongga perut
- memperoleh contoh jaringan
- melakukan pembedahan perbaikan.
Endoskopi saluran cerna atas/ esophagogastroduodenoskopi
Barret’s esophagus
Barret’s esophagus adalah metaplasia epitel squamous esofagus kepada bentuk
epitel columnar.Keadaan ini diakibatkan refluk esofagitis dan mempunyai resiko
untuk terjadinya adenocarcinoma esofagus.Esofagoskopi direkomendasikan pada
pasien umur 50 tahun dengan simptom GERD yang persisten.
|
Patofisiologi
|
Gambaran endoskopi
|
|
-GER menyebabkan isi lambung yang mempunyai pH asam merusak lapisan cell
di esofagus bagian bawah.
|
- projeksi seperti jari-jari menjulur ke atas dari squamo-
columnar junction atau dari area epitel columnar.- bercak-bercak(menunjukan
gambaran displasia) ;indocarmin disemprot untuk melihat gambaran
displasia dan metaplasia.
|
Mallory Weiss Tear
Robekan mukosa di gastroesofageal junction dan berhubungan dengan cekukan
dan muntah. Apabila robekan sampai merusak arteri submukosa perdarahan yang hebat
akan terjadi.
|
Patofisiologi
|
Gambaran endoskopi
|
|
-peminum alcohol yang berat menyebabkan
muntah yang berkepanjangan .Ini menimbulkan luka pada mukosa esophagus bagian
distal .Perdarahan akan berlaku
|
- perdarahan di gastroesofageal juntion
|
Varises esophagus
|
Patofisiologi
|
Gambaran endoskopi
|
|
terjadinya pelebaran pembuluh darah vena pada dinding esophagus, oleh
karena adanya bendungan vena porta yang menyebabkan aliran darah balik ke
jantung terhambat, sehingga aliran darah balik melalui vena-vena coronaria
meningkat, vena coronaria terletak dibawah selaput lendir esophagus dan
cardia lambung, seiring dengan meningkatnya jumlah darah yang lewat, diameter
pembuluh darah akan membesar sampai akhirnya mencapai lebar maksimum yang
berakibat pecahnya pembuluh darah.Bendungan yang terjadi terutama disebabkan
oleh kelainan pada hati yang disebut cirrhosis, tetapi dapat juga disebabkan
kelainan diluar hati antara lain trombosis pada vena cava inferior dan pada
vena portanya sendiri
|
Menunjukkan gambaran pelebaran pembuluh darah pada submukosa dan
subepitel esophagus.
|
Tumor esofagus
Esofagoskopi dilakukan untuk melihat morfologi tumor dan mengambil sediaan
biopsi dan sitologi.Pemeriksaan kombinasi histopatologi dan sitologi sebagai
penunjang diagnostik tumor esofagus. Tapi dengan teknologi endoskopi ultrasound
kita dapat melihat infiltrasi dan keterlibatan KGB tumor.
|
Patofisiologi
|
Gambaran endoskopi
|
|
Rokok,alkohol,Plummer Vinson Syndrom,post radiasi kanker payudara,
Barret’s oesophagus,obesitas
|
-lesi berupa plak kecil berwarna putih dan abu-bentuk tumor bisa polipoid
atau bunga kol
|
Ulkus peptikum
Simptom : sakit abdomen, perut gembung, mual, muntah, turun nafsu makan,
turun berat badan, hematemesis, melena.
Pada pasien umur>45 thn & (+) simptom tersebut dianjurkan utuk
melakukan endoskopi
|
Patofisiologi
|
Gambaran endoskopi
|
|
-ketidakseimbangan antara mekanisme pertahanan mukosa gastrointestinal
dengan kekuatan yang merusak :
H.Pylori mengeluarkan enzim urease dan protease yang merusak mukosa yang
merupakan predisposisi bagi radang.
|
- ulkus bentuk bulat/oval- pinggir ulkus tajam dengan batas tidak terlalu
tinggi dari mukosa sekitar. Pinggir tidak irreguler
- dasar ulkus yang licin
- ulkus dikelilingi lipat-lipatan berbentuk radial akibat parut
disekitarnya
|
Tumor Gaster
|
Patofisiologi
|
|
Terdapat beberapa faktor yang memicu terjadinya perobahan dari gastritis
kepada gastritis atropi, kepada metaplasia, kepada displasia dan akhirnya
kanker.Beberapa diet dan factor lingkungan yang mempengaruhi perobahan
ini.Antaranya:
-Diet nitrat : bakteri dalam lambung memecahkan nitrit kepada komponen
yang bersifat karsinogenik(mis N-nitroso)
-Hypochlorhydria: Kondisi ini mengakibatkan atropi gaster dan memicu
kolonisasi bakteri.Ini meningkatkan pembentukan nitrit yang bersifat
karsinogenik.
-Helicobacter pylori: Pasien dengan gastritis yang disertai
infeksi H.Pylori 3-6 kali lebih tinggi insiden terkene kanker gaster
|
Ulkus duodenum
|
Patofisiologi
|
|
Duodenum menghasilkan lendir dan zat-zat kimia yang merupakan pelindung
mukosa duodenum dari paparan asam lambung secara langsung yang dapat merusak,
Dengan rusaknya lapisan pelindung maka asam lambung dan enzyme-enzym
pencernaan dapat menyebabkan inflamasi dan ulkus.Lapisan pelindung tersebut
dapat rusak oleh karena beberapa hal seperti: infeksi Helycobacter pylori,
obat-obatan antiinflamatory misalnya: aspirin dan ibuprofen, dan juga dapat
disebabkan Zollinger Ellison syndrome, walaupun jarang.
|
Pemeriksaan endoskopi untuk saluran cerna bagian bawah
Kolonoskopi dan Sigmoidoskopi
Kolonoskopi digunakan untuk mendiagnos dan merawat masalah usus besar,
ianya adalah sesuai untuk pendiagnosaan :
- Polyp kolon
- Kanker kolon
- Penyakit radang usus (Ulcerative Colitis dan Crohn’s disease)
- Wasir (Hemoroid)
- Diverticulosis
- Dll
|
Kelainan
|
Patofisiologi
|
|
1. Polip Kolon
Jenis pemeriksaan:
·
Kolonoskopi,
·
Sigmoidoskopi
|
Kolonoskopi kelainan yang dilihat:
(Bila ditemukan kelainan yang merupakan penonjolan (polipoid) maka
diperlukan pemeriksaan histologi.)
Penanganan polip adalah kolonoskopi dengan polipektomi.
Simtom dari polip:
|
|
2.Neoplasma Kolorektal
|
|
|
3.Ulcerative Colitis
|
|
|
4.Crohn’s disease
|
|
|
5. Hemoroid
|
|
|
6. Perdarahan saluran cerna bagian bawah
|
|
Penilaian Kecukupan Nutrisi
1. Pengertian
Kecukupan gizi adalah
rata-rata asupan gizi harian yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi
hampir semua (97,5%) orang sehat dalam kelompok umur, jenis kelamin dan
fisiologis tertentu. Nilai asupan harian zat gizi yang diperkirakan dapat
memenuhi kebutuhan gizi mencakup 50% orang sehat dalam kelompok umur, jenis
kelamin dan fisologis tertentu disebut dengan kebutuhan gizi.
Standart kecukupan gizi di
Indonesia masih menggunakan makro,yaitu kecukupan kalori (energi) dan kecukupan
protein. Di Indonesia belum diterapkan standart kecukupan gizi secara mikro,
seperti kecukupan vitamin dan mineral.
2. Standart Kecukupan Gizi
Standart kecukupan gizi
secara ukuran dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu:
·
Ukuran makro, yaitu
kecukupan kalori (energi) dan kecukupan protein.
·
Ukuran mikro, yaitu
kecukupan vitamin dan mineral.
a. Kecukupan kalori (energi)
Energi dapat
didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan pekerjaan, tubuh memperoleh
energi dari makanan yang dimakan, dan energi dalam makanan ini terdapat sebagai
energi kimia yang dapat diubah menjadi energi bentuk lain. Bentuk energi yang
berkaitan dengan proses-proses biologi adalah energi kimia, energi mekanis,
senergi panas dan energi listrik..
Energi dalam tubuh
digunakan untuk:
·
Melakukan pekerjaan
eksternal;
·
Melakukan pekerjaan
internal dan untuk mereka yang masih tumbuh;
·
Keperluan pertumbuhan,
yaitu untuk senyawa-senyawa baru.,
Macam-macam makanan tidak sama banyaknya dalam menghasilkan energi,padahal
manusia harus mendapatkan sejumlah makanan tertentu setiap harinya yang
menghasilkan energi,terutama untuk mempertahankan proses kerja tubuhnya dan
menjalankan kegiatan-kegiatan fisik.Untuk mengukur atau menentukan banyaknya
energi yang dihasilkan makanan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1) Langsung
Pengukuran atau
penentuan banyaknya energi yang dihasilkan oleh makanan dengan menggunakan alat
yang disebut bomb calorimeter.Dengan menggunakan alat tersebut akan dapat
ditentukan atau diukur sejumlah kalori(untuk energi) yang dihasilkan zat
makanan.Satu kalori adalah merupakan banyaknya panas yang digunakan untuk
menaikan suhu 1 liter air sebanyak 1oC
2) Secara tidak langsung
Pengukuran atau
penentuan banyaknya energi yang dihasilkan oleh makanan atau bahan makanan
melalui penguraian kimiawi (analisa),dengan pertama-tama ditentukan terlebih
dahulu karbonhidratya, lemak , dan protein.
b. Kecukupan protein
Tubuh manusia
memerlukan berbagai zat gizi yang satu sama yang lain saling mempengaruhi.
Bayaknya protein dalam tubuh didasarkan oleh dua hal pokok berikut:
1) Untuk memenuhi kebutuhan basal (minimal ) di mana apabila jumlah kebutuhan
ini tidak dipengaruhi maka kesehatan tubuh akan terganggu dan pertumbuhan
normal tidak akan tercapai.
2) Sejumlah tambahan untuk mengimbangi adanya kerusakan infeksi , stress dan
sebagainya.
Tubuh kita tidak dapat menghindari kehilangan-kehilangan protein terutama
yang terjadi melalu air seni, kotoran(feses) dan kulit.
c. Kecukupan Vitamin
Vitamin merupakan suatu
molekul organic yang sangat diperlukan oleh tubuh untuk proses metabolisme dan
pertumbuhan yang normal. Vitamin-vitamin tidak dapat dibuat oleh tubuh manusia
dalam jumlah yang sangat cukup, oleh karena itu, harus diperoleh dari bahan
pangan yang dikonsumsi. Sebagai perkecualian adalah vitamin D. Dalam bahan
pangan hanya terdapat vitamin dalam jumlah yang relatif sangat kecil dan
terdapat dalam bentuk yang berbeda-beda, diantaranya ada yang berbetuk
provitamin atau calon vitamin (Precussor) yang dapat diubah dalam tubuh menjadi
vitamin yang aktif.
d. Kecukupan Mineral
Zat gizi dapat
digolongkan, yaitu golongan Makromolekul (teh, protein dan lemak) serta
mikromolekul vitamin dan mineral. Meskipun merupakan komponen yang paling vital
untuk kehidupan, pada bahan pangan hewani dapat berupa daging (sapi, kerbau,
kambing, ayam, unggas, kelinci dan lain-lain), sayur-sayuran dan buah-buahan
merupakan sumber vitamin dan mineral.
Komponen-komponen
anorganik tubuh manusia terutama adalah Natrium, Kalium, Kalsium, Magnesium,
Besi, Fosfor, Klorida dan Sulfur. Sebagian dari unsur-unsur tersebut adalah
mineral-mineral tulang dan ion-ion dapat sebagai cairan tubuh. Mineral-mineral
tersebut adalah bagian-bagian mustahak dari makanan. Unsur-unsur lain yang
terdapat dalam jumlah sangat kecil disebut unsur-unsur runut (trace elements)
yang juga adalah komponen-komponen makanan yang mustahak. Ini termasuk tembaga,
moblibzenum, kobalt, mangan, zink, kromium, setenium, iodium dan fluor.
Yodium (i) merupakan
mineral yang diperlukan tubuh dalam jumlah yang relatif sangat kecil, tetapi
mempunyai peranan yang sangat penting untuk pembentukan hormon tiroksin. Hormon
tiroksin ini sangat berperan dalam metabolisme sehingga dalam keadaan konsumsi
yodium yang rendah, kelenjar gondok akan berupaya membuat konpensasi dengan
membesrakan kelenjarnya. Frevalensi pembeseran kelenjar gondok di indonesia
temasuk sangat tingi. Karenanya defesiensi yudium atau gondok andemik merupakan
salah satu masalah gizi utama.
Kebutuhan yodium per
hari sekitar 1-2 g per kg berat badan. Perkiraan kecukupan yang dianjurkan
sekitar 40-120 g per hari untuk anak samapi umur 10 tahun, dan 150 g per hari
untuk orang dewasa. Untuk wanita dan menyusui dianjurkan tambahan
masaing-masing 25 g dan 50 g per hari.
3. Penilaian Status Nutrisi
Ada beberapa cara
melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat, yaitu penilaian secara langsung dan penilaian secara tidak
langsung.
a.
Penilaian secara
langsung
Penilaian status gizi
secara langsung dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis,
biokimia, dan biofisik. Adapun penilaian dari masing-masing adalah sebagai
berikut :
1) Antropometri
Secara umum bermakna ukuran tubuh manusia. Antropometri gizi berhubungan
dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari
berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Dalam pemakaian untuk penilaian status
gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel
lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :
a) Umur
Umur sangat memegang
peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan
interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun
tinggi badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan
penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya
kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2
tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat.
Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi
perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak
diperhitungkan ( Depkes, 2004)
b) Berat Badan
Berat badan merupakan
salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan
tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang
menurun. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat
Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat
badan pada saat pengukuran dilakukan, yang
dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling
banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung
pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan
situasi gizi dari waktu ke waktu (Djumadias Abunain, 1990).
c) Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan
gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil
pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama
yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada
masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga indeks
BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena
perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali.
Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang
tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat
yang menahun ( Depkes RI, 2004). Berat badan dan tinggi badan adalah
salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia,
khususnya yang berhubungan dengan status gizi.
2)
Klinis
Metode ini, didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang
dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal tersebut dapat dilihat pada
jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau pada
organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
3) Biokimia
Adalah suatu pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang
dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan
antara lain: urine, tinja, darah, beberapa jaringan tubuh lain seperti hati dan
otot.
4) Biofisik
Penentuan gizi secara biofisik adalah suatu metode penentuan status gizi
dengan melihat kemampuan fungsi, khususnya jaringan, dan melihat perubahan
struktur jaringan.
b.
Penilaian secara tidak
langsung
Penilaian status gizi
secara tidak langsung dibagi menjadi 3 yaitu: survey konsumsi makanan,
statistik vital, dan faktor ekologi . Adapun uraian dari ketiga hal tersebut adalah
sebagai berikut :
1) Survey konsumsi makanan
Adalah suatu metode
penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat
gizi yang dikonsumsi.
2) Statistik vital
Adalah dengan cara
menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian
berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan
data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
3) Ekologi
Berdasarkan ungkapan
dari Bengoa dikatakan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil
interaksi beberapa faktor fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah
makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim,
tanah, irigasi dll.
Diambil dari Catatan Maggie
Rumus IMT = BB / (TB)2 Keterangan : BB = Berat Badan (kg)
TB = Tinggi Badan (m)
tinggi badan...
Rumus IMT = BB / (TB)2
Keterangan :
BB
= Berat
Badan (kg)
TB
=
Tinggi Badan (m)
Rumus BBI = (TB-100) – 10% (TB-100) untuk menghitung orang
yang ≤ 40 tahun
= (TB-100)
untuk menghitung orang yang ≥ 40 tahun
LiLA = Lingkar
Lengan / Lingkar standar
Keterangan:
LiLA
=
Lingkar Lengan Atas
Lingkar standar
=
(Male: 29,5 cm) (Female: 28,5 cm)
Tipe LiLA :
·
Underweight < 18,5
·
Normal Range 18,5 <
x < 22,9
·
Overweight at risk 23
< x < 24,9
·
Obese I 25 < x <
29,9
·
Obese II x > 30
Rumus Perhitungan Kebutuhan Energi =
Male = 66 + (13,8 x Wt) + (5 x Ht) – (6,8 x A)
Female = 655 + (9,6 x Wt) + (1,8 x Ht) – (4,7 x A)
Keterangan:
Wt = Weight (Berat
Badan) (kg)
Ht = Height
(Tinggi Badan) (cm)
A =
Age (Umur)
Pemberian Nutrisi Parenteral
1.
Pengetian
Pemberian Nutrisi Parenteral merupakan pemberian
nutrisi berupa cairan infus yang di masukkan ke dalam tubuh melalui darah vena
baik sentral (untuk nutrisi parenteral total) atau vena perifer (untuk nutrisi
parenteral parsial).
Nutrisi parenteral adalah suatu bentuk pemberian nutrisi yang diberikan
langsung melalui pembuluh darah tanpa melalui saluran pencernaan
(Wiryana,2007). Nutrisi parenteral diberikan apabila usus tidak dipakai karena
sesuatu hal, misalnya: Malformasi Kongenital Intestinal, Enterokolitis
Nekrotikans, dan Distres Respirasi Berat. Nutrisi parsial parenteral
diberikan apabila usus dapatdipakai, tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan
nutrisi untuk pemeliharaan dan pertumbuhan (Setiati, 2000).
Pemberian nutrisi melalui parenteral dilakukan pasien yang tidak dapat di
penuhi kebutuhan nutrisinya melalui oral atau enteral
2. Tujuan Pemberian Nutrisi Parenteral
Mempertahankan
kebutuhan nutrisi
3. Metode pemberian Pemberian Nutrisi Parenteral
a.
Nutrisi parenteral
parsial, pemberian sebagian kebutuhan nutrisi melalui intravena. Sebagian
kebutuhan nutrisi harian pasien masih dapat di penuhi melalui enteral. Cairan
yang biasanya digunakan dalam bentuk dekstrosa atau cairan asam amino
b. Nutrisi parenteral total, pemberian nutrisi melalui jalur intravena ketika
kebutuhan nutrisi sepenuhnya harus dipenuhi melalui cairan infus. Cairan yang
dapat digunakan adalah cairan yang mengandung karbohidrat seperti Triofusin
E1000, cairan yang mengandung asam amino seperti PanAmin G, dan cairan yang
mengandung lemak seperti Intralipid
c. Lokasi pemberian nutrisi secara parenteral melalui vena sentral dapat
melalui vena antikubital pada vena basilika sefalika, vena subklavia, vena
jugularis interna dan eksterna, dan vena femoralis. Nutrisi parenteral melalui
perifer dapat dilakukan pada sebagian vena di daerah tangan dan kaki
Pemberian Nutrisi Enteral
1.
Pengertian
Nutrisi enteral adalah
nutrisi yang diberikan pada pasien yang tidak dapatmemenuhi kebutuhan
nutrisinya melalui rute oral, formula nutrisi diberikanmelalui tube ke dalam
lambung (gastric tube), nasogastric tube (NGT), ataujejunum dapat secara
manual maupun dengan bantuan pompa mesin (Setiati,2000).
2.
Indikasi Pemberian
Nutrisi Enteral
Pemberian nutrisi enteral
diberikan pada pasien yang sama sekali tidak bisa makan, makanan yang masuk
tidak adekuat, pasien dengan sulit menelan, pasien dengan luka bakar yang luas.
Pada pasien dengan keadaan trauma berat, luka bakar dan status katabolisme,
maka pemberian nutrisi enteral sebaiknya sesegera mungkin dalam 24 jam.
3.
Kontra indikasi pemberian nutrisi enteral
Kontra indikasi pemberian
nutrisi enteral adalah keadaan dimana saluran cerna tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya, kelainan anatomi saluran cerna, iskemia saluran cerna,
dan peritonitis berat. Pada pasien dengan pembedahan, pemberian nutrisi enteral
harus dikonfirmasikan dengan tanda munculnya flatus.
Pada prinsipnya, pemberian
formula enteral dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan secara bertahap
sampai mencapai dosis maksimum dalam waktu seminggu. Makanan enteral yang telah
disediakan sebaiknya dihabiskan dalam waktu maksimal 4 jam, waktu selebihnya
akan membahayakan karena kemungkinan makanan tersebut telah terkontaminasi
bakteri.
4.
Route pemberian nutrisi
enteral
a. Nasogastrik: pemberian melalui
nasogastrik memerlukan fungsi gaster yang baik, motilitas dan pengosongan
gaster yang normal.
b. Transpilorik: pemberian transpilorik
efektif jika ada atoni gaster.
c. Perkutaneus: bila bantuan nutrisi
secara enteral dibutuhkan lebih dari 4 bulan. Jejunostomi diberikan bila ada
GER, gastroparesis, pankreatitis.
5.
Halangan yang mungkin
terjadi pada pemberian nutrisi enteral
Pemberian nutrisi enteral
terkadang mengalami hambatan. Beberapa hambatan yang terjadi adalah sebagai
berikut:
a. gagalnya pengosongan lambung,
b. aspirasi dari isi lambung,
c. diare,
d. sinusitis,
e. esofagitis,
f.
salah meletakkan pipa.
6.
Komposisi formula untuk
makanan enteral
Makanan enteral
sebaiknya mempunyai komposisi yang seimbang. Kalori non protein dari sumber
karbohidrat berkisar 60-70%; bisa merupakan polisakarida, disakardida mapun
monosakarida. Glukosa polimer merupakan karbohidrat yang lebih mudah
diabsorpsi. Sedangkan komposisi kalori non protein dari sumber lemak berkisar
antara 30-40%; bisa merupakan lemak bersumber dari Asam Lemak Esensial
(ALE/EFA). Lemak ini mempunyai konsentrasi kalori yang tinggi tetapi sifat
abrsorpsinya buruk. Lemak MCT merupakan bentuk lemak yang mudah diabsorpsi.
Protein diberikan dalam bentuk polimerik (memerlukan enzim pankreas) atau
peptida. Protein whey terhidrolisis merupakan bentuk protein yang lebih mudah
diabsorpsi daripada bentuk asam amino bebas.
Pada formula juga perlu
ditambahkan serat; serat akan mengurangi risiko diare dan mengurangi risiko
konstipasi, memperlambat waktu transit makanan pada saluran cerna, merupakan
kontrol glikemik yang baik. Serat juga mempromosikan fermentasi di usus besar
sehingga menghasilkan SCFA yang merupakan faktor trofik. SCFA menyediakan
energi untuk sel epitel untuk memelihara integritas dinding usus.
7.
Pemberian nutrisi
enteral pada keadaan khusus
Pada anak dengan gangguan
pernapasan (fungsi pulmo tidak adekuat), maka nutrisi yang diberikan sebaiknya
tinggi lemak (50%) serta rendah karbohidrat. Pada penyakit hepar, sebaiknya
menggunakan sumber protein tinggi BCAA, asam amino rendah aromatik. Bila ada
ensefalopati hepatik, protein sebaiknya diberikan <0.5 g/kgBB/hari.
Pada pasien dengan
gangguan renal sebaiknya diberikan rendah protein, padat kalori, rendah PO4, K,
Mg. Pemberian protein dengan menggunakan patokan GFR sebagai berikut: GFR
>25: 0.6-0.7 g/kgBB/hari, bila GFR <25: 0.3 g/kgBB/hari.
Pemberian
Nutrisi Melalui NGT
Pemberian
nutrisi melalui pipa penduga atau lambung merupakan tindakan keperawatan yang
dilakukan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara oral
atau tidak mampu menelan dengan cara memberi makan melalui pipa lambung atau
pipa penduga.
1.
Tujuan
Adapun
tujuan kita dalam pemberian nutrisi melalui pipa penduga antara lain:
·
Dekompressi
yaitu membuang dan substansi gas dari saluran gastrointestinal, mencegah atau
menghilangkan distensi abdomen.
·
Memberi
makan yaitu memasukkan suplemen nutrisi cair atau makanan kedalam lambung untuk
klien yang tidak dapat menelan cairan.
·
Kompressi
yaitu memberi tekanan internal dengan cara mengembangkan balon untuk mencegah
perdarahan internal pada esofagus.
·
Bilas
lambung yaitu irigasi lambung akibat pendarahan aktif, keracunan, atau dilatasi
lambung.
2.
Indikasi dan Kontra Indikasi
a. Indikasi
Adapun indikasi pada pemasangan NGT antara lain:
·
Fraktur
rahang
·
Kesadaran
menurun
·
Gangguan
menelan
·
Muntah
terus-menerus
b. Kontra
indikasi
Adapun kontra indikasi pada pemasangan NGT antara
lain:
·
Rahang
amandel
·
Gangguan
pada saluran pencernaan yang dapat menghambat pemasangan selang sehinggan
menimbulkan komplikasi
3.
Persiapan
A. Persiapan
pasien
Pasien
diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan sehingga pasien mengerti
apa yang harus dilakukannya.
B. Persiapan
lingkungan
Persiapan
lingkungan dapat ditempuh antara lain dengan menciptakan lingkungan yang nyaman
dan tenang.
C. Persiapan
alat
Alat
yang perlu dipersiapkan dalam pemberian nutrisi melalui pipa penduga antara
lain:
Baki
yang dilapisi pengalas berisi:
1) Bak instrumen steril:
·
Sepasang
sarung tangan atau handcoen
·
NGT
/ magslang / sonde lambung
·
Sudip
lidah / spatel
·
Kasa
pada tempatnya
·
Corong
/ tabung semprot 50-100 cc
·
Kapas
alkohol
2) steril:
·
Jeli
·
Senter
·
Plester
·
Stetoskop
·
Handuk
kecil / serbet / pengalas
·
Tisu
/ selstop
·
Bengkok
·
Makanan
cair pasien
·
Gelas
berisi air minum
·
Gunting
·
Air
bersih di dalam baskom kecil
·
Peniti
·
Spuit
20 cc
4.
Prosedur pelaksanaan
·
Beri
salam / sapa pasien
·
Jelaskan
tindakan yang akan dilakukan
·
Perawat
cuci tangan
·
Pasang
sampiran
·
Dekatkan
alat kepasien
·
Baca
basmalah sebelum melakukan tindakan
·
Bentu
pasien pada posisi nyaman (bila memungkinkan pada posisi semi fowler / fowler)
·
Pasang
handuk di atas dada pasien sampai ke pinggir tempat tidur dan letakkan tisu di
dekat bantal pasien
·
Untuk
menentukan insersi NGT, minta klien untuk rileks dan bernafas normal. Kemudian
cek udara yang melalui lubang hidung, caranya: pijit salah satu kuping hidung
dan rasakan aliran udara pada lubang hidung yang bebas dan begitu pula
sebaliknya
·
Pasang
sarung tangan
·
Mengukur
panjang selang yang akan dimasukkan dengan menggunakan:
ü Ukur jarak dari puncak lubang hidung ke daun
telinga bawah dan ke prosesus xyfoideus di sternum
ü Ukur selang dari puncak dahi ke epigastrium
ü Ukur selang dari daun telinga bawah kepuncak lubang
hidung dan ke prosesus xyfoideus di sternum
·
Beri
tanda pada panjang selang yang sudah di ukur
·
Olesi
jeli pada NGT sepanjang 10-20 cm
·
Atur
posisi klien dengan kepala ekstensi, dan masukkan selang melalui lubang hidung
yang telah ditentukan
·
Masukkan
slang sepanjang rongga hidung. Jika
terasa agak tertahan, putarlah slang dan jangan dipaksakan untuk dimasukkan
·
Lanjutkan
memasang slang sampai melewati nasofaring (3-4 cm) anjurkan pasien untuk
menekuk leher dan menelan
·
Dorong
pasien untuk menelan dengan memberikan sedikit air minum (jika perlu). Tekankan
pentingnya bernafas lewat mulut
·
Jangan
memaksakan slang untuk masuk. Jika ada hambatan atau pasien tersedak, sianosis,
hentikan mendorong selang. Periksa posisi slang di belakang tenggorok dengan
menggunakan sudip lidah dan senter
·
Jika
telah selesai memasang NGT sampai ujung yang telah ditentukan, anjurkan pasien
untuk rileks dan bernafas normal
·
Periksa
letak slang dengan cara:
ü Memasang spuit pada ujung NGT, memasang bagian
diafragma stetoskop pada perut di kuadran kiri atas pasien (lambung) kemudian
suntikkan 10-20 cc udara bersamaan dengan auskultasi abdomen
ü Dengan menggunakan spuit, mengaspirasi pelan-pelan
untuk mendapatkan isi lambung
ü Memasukkan ujung bagian luar slang NGT ke dalam
waskom yang berisi air. Jika terdapat gelembung udara, slang masuk ke
paru-paru, jika tidak slang masuk ke dalam lambung
·
Oleskan
alkohol pada ujung hidung pasien dan biarkan sampai kering
·
Yakinkan
slang tidak tersumbat dengan cara:
ü Masukkan makanan dengan aliran perlahan
(perhatikan: aliran air dan jarak corong
30 cm dan lihat reaksi pasien terhadap rasa tidak nyaman)
ü Setelah makan masukkan 15-30 ml air putih (bila ada
obat dalam bentuk tablet haluskan dahulu)
·
Fiksasi
slang dengan plester 10 cm dan silangkan plester pada slang yang keluar dari
hidung
·
Klem
dan tutup ujung slang dengan kassa dan plester / karet gelang
·
Penitikan
slang kebaju pasien. Biarkan pasien pada posisi
semifowler / fowler selama 15-30 menit
·
Evaluasi
klien setelah terpasang NGT
·
Baca
hamdalah setelah melakukan tindakan
·
Rapikan
alat
·
Perawat
cuci tangan
·
Dokumentasikan
hasil tindakan pada catatan perawatan
5.
Evaluasi
·
Pasien
tidak terjadi batuk
·
Ujung
NGT bila dimasukan pada air tidak timbul gelembung udara
·
Cairan
yang keluar berwarna agak kehijau-hijauan jernih
·
Masukan
udara 10cc lewat NGT, bersamaan memasukan udara didengarkan suara dalam
lambung dengan stestokop maka akan terdengar udara
·
Bila
kesadaran pasien menurun (tidak kooperatif), bisa dirangsang dengan memberi
minum 1 sendok, saat ada tanda menelan maka NGT dimasukan.
D. Cara
melepaskan selang NGT
·
Cuci
tanga sebelum melakukan tindakan
·
Gunakan
Handscon
·
Jelaskan
prosedur pelepasan NGT pada pasien.
·
Lakukan
pelepasan NGT secara perlahan (sambil lihat ekspresi wajah pasien ).
·
Suruh
pasien untuk menarik nafas disaat pelepasan NGT
·
Simpan
selang NGT yang telah di pakai ke bengkok.
·
Cuci
tangan kembali sesudah melakukan tindakan tersebut.
[Keb. Dasar Manusia]
Pemberian Nutrisi Melalui Oral (Mulut)
Pemberian nutrisi melalui oral merupakan tindakan pada pasien yang tidak
mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri. Biasanya terjadi pada pasien
yang memiliki gangguan pada mulutnya, bayi juga bisa termasuk yang masih harus
disuapi.
Prosedur Pelaksanaan
Persiapan Alat dan Bahan
- Piring
- Sendok
- Garpu
- Gelas
- Serbet
- Mangkok cuci tangan
- Pengalas
- Jenis diet
Prosedur Tindakan
- Cuci tangan
- Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
- Atur posisi depan
- Pasang pengalas
- Anjurkan pasien untuk berdoa sebelum berdoa
- Bantu untuk melakukan makan dengan menyuapkan makanan sedikit demi sedikit dan berikan minum sesudah makan
- Bila selesai makan, bersihkan mulut pasien dan anjurkan duduk sebentar
- Catat hasil atau respons pemenuhan terhadap makan
- Cuci tangan
PEMERIKSAAN FISIK
SYSTEM PENCERNAAN (skill lab)
Prisip pengkajian:
1. Head to toe
2. Menggunakan semua indra raba
3. Subyektif-obyektif (menggunakan auto&allowanamnesa)
Pada medical model tidak terlepas dari ini dalam menentukan diagnose:
1. Pemeriksaan fisik
2. Riwayat penyakit
3. Px penunjang/ lab
Pembagian abdomen ada 4 kuadran:
1. Kuadran 1 terdiri dari:
a. Hepar: hepar di abdomen hanya terlihat sedikit,
b. Splain:adalah tempat pembongkaran sel darah merah. penyakit yang menyerang
splain meliputi: DB,
Malaria pada splenomegali terjadi pada cirosis hepatika V
anemia, trombositopeni,
leukemia
c. colon
d. lambung
2. Kuadran 2 terdiri dari:
a. bagian lambung
b. pankreas,
c. limfe,
d. colon desenden,
e. ileum.
3. Kuadran 3 terdiri dari:
a.
colon desenden,
b.
colon sigmoid
4. Kuadran 4 terdiri dari:
a.
appendix
Regio ada 9 :
Menggunakan pemeriksaan region apabila pemeriksaan abdomen tidak Nampak
1. Hipokondria kanan
2. Epi
3. Hipokondria kiri
4. Lulmbal kanan
5. Umbilical
6. Lumbal kiri
7. Ilium kanan
8. hipogastri
9. Ilium kiri
Teknik pemeriksaan fisik:
1)
Persiapan pasien
2)
Jika pasien merasakan
nyeri, perut tegang maka dapat diindikasikan peritonitis. Maka inspeksi
cukup&tidak dilanjutkan ke pemeriksaan yang lain.
3)
Posisikan pasien
terlentang
4)
Inspeksi bladder kosong
-> agar tidak keluar
Kaji :
1)
riwayat penyakit,
2)
Pemeriksaan diagnostic,
3)
Pemeriksaan fisik:
ekspresi pasien, jika
terlihat nyeri maka gunakan PQRST: tanyakan dengan tingkat nyeri 1-10.
a. KAJI RAMBUT PASIEN, ada kerontokan/ tidak.
Kurang protein
Lihat hasil lab: albumin
b. MATA: konjungtiva:anemis
·
dx: gangguan perfusi
jaringan< hipotase=Anemia > butuh px penunjang HB&eritrosit
·
Fe
·
asupan nutrisi
·
Dx: deficit nutrisi
·
Sclera: ikterik >
gangguan hepar > wajah joundis
1) Kaji historical riwayat hepatitis?
2) Kaji PX penunjang: SGOT,SGPT,HBSAG,HCV, Albumin (v) > gangguan nutrisi
c. Hidung
d. Mulut :
i.
gigi lengkap?
ii.
Bau mulut > ammonia
e. Ginjal > Kaji produksi urin.jika urin(v)-> penykit ginjal & PX
penunjang: ureum kreatinin
f.
hepar(cirosis hepatika)
> kaji riwayat penyakit hepatitis,konsumsi alcohol & PX Penunjang
:albumin (v), SGOT,SGPT, hbsag +, ammonia >spider nepi,
g. LIDAH : jika terjadi deviasi & wajah perot -> stroke-> hipoglosus
& n. facialis & n.vagus -> gangguan menelan -> dx: gangguan
menelan &resiko aspirasi
kaji apakah bisa
menelan+palpasi -> jika teraba maka gangguan menelan baik.
h. DADA : a. jika ada spider nepi -> manifestasi klinik dari cirosis
hepatica
i.
PERUT: pengkajian model
IAPP: Inspeksi: bentuk perut :cembung/simetris dan penegangan abdomen
Auskultasi, Perkusi, Palpasi. Jika saat inspeksi perut tegang+nyeri ambdomen
maka kmungkinan peritonitis dan akhiri pengkajian IAPP.. Warna kulit, jaringan
parut? -> riwayatnya post op & luka post op di kuadran berapa/ region
berapa&berapa panjang,
Ada varises perut/kaput
medusa?-> cirosis hepatica. Ada strie? Ada linea gravida?
j.
UMBILICUS: ->
peningkatan intra abdomen, ada inflamasi umbilicus? -> ada hernia umbilical?
k. PERISTALTIK USUS: bisa di 4 kuadran.
1) auskultasi= Cari peristaltic usus di semua kuadran.bandingkan bagian
kuadran mana yg paling terdengar paling keras, berhenti 1 menit. Hitung normal
5-30/mnit. Diare (^) peristaltic usus. Konstipasi (v) peristaltic usus. Jika
terjadi (^) peristaltic lambung=gastritis.
2) Perkusi= 2 type: timpani dan redup/dullness= ketika ada cairan/ benda
lunak-> hepar.
Perkusi bagian
hepar&lambung
3) Asites= berisi cairan. Gambar acites. (cairan berada di dalam bawah
perut-> jika di perkusi bagian atas normal:timpani dan bagian bawah
dullness: berisi cairan) dengan posisi pasien terlentang dan miring.
4) Palpasi : palpasi di semua kuadran.kuadran 1 Ada nyeri? Pada epigastric
nyeri?kuadran 2 ada nyeri?kuadran 3 ada nyeri tekan? Jika pada titk merbani
nyeri:appendicitis
l.
HEPAR=Palpasi hepar= instruksikan pasien gembungkan
perut+lepaskan. Jika terasa hepar naik ke atas=hepatomegali.
m. SPLAIN= jika terasa keras: spelenomegali ->cirosis hepatica, DB,Malaria.
n. USUS= pmeriksaan dengan 2 tipe auskulator sign
dan soas sign.
Appendicitis di kuadran
4 nyeri.
o. KAKI= ada oedema? Tekan jika >3 detik maka ada tekanan
onkotikoloid.
0 komentar:
Posting Komentar