PAPER PERAWATAN KLIEN DENGAN HEPATITIS
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan
Dewasa I
Dosen: - Ns. Yuni Dwi
Hastuti, S.Kep., M.Kep
Disusun Oleh:
A13.2
Endri Styani 22020113130132
Linda Surya W 22020113130139
Prayudha Siddiqiyah 22020113140055
Dian Aristya Putri 22020113140056
Nurbahrian Alfan M 22020113140067
Dwi Fathun Ary H 22020113140079
Aisyah Kurnia Utami 22020113140081
Ika Rahayu Ningtyas 22020113140083
Luthfia Pravitakari A 22020113140088
Laura Ayudina N.A 22020113140098
Siti Nurhidayah 22020113140100
JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014
A.
DEFINISI
Hepatitis adalah peradangan hati yang
disebabkan oleh infeksi virus. Hepatitis termasuk kedalam penyakit infeksi
dengan penyebaran yang luas meskipun efek utama pada hati. Terdapat 6 atau
tujuh kategori virus yang menjadi penyebab hepatitis yaitu virus hepatitis A
(HAV), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis
C (HCV), virus hepatitis D (HDV), virus hepatitis E (HEV), Hepatitis F
dan hepatitis G. Namun hanya lima hepatitis utama yang umunya disebut sebagai
hepatitis tipe A, B, C, D dan E. Kelima jenis ini menjadi perhatian terbesar
karena beban penyakit dan kematian mereka menyebabkan dan potensi wabah dan
penyebaran epidemi . Secara khusus , jenis B dan C menyebabkan penyakit kronis
pada ratusan juta orang dan juga menjadi penyebab paling umum dari sirosis hati dan
kanker.
B.
KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI
HEPATITIS
|
Hepatitis
|
A
(H.Infeksiosa)
|
B(H.
Serum)
|
C
|
D
|
E
|
F
|
G
|
|
Virus
|
HAV
|
HBV
|
RNA HCV
|
RNA HDV (membutuhkan HBV untuk bereplikasi)
|
RNA HEV
|
Ket: Meskipun
telah ada klasifikasi, namun belum dapat dipastikan virus ini ada
|
HGV
|
|
Cara penularan
|
Feses,
Makanan
mentah atau tidak cukup dimasak, rimming
|
Kontak
seks, penggunaan alat suntik bergantian, ibu hamil ke bayinya, penularan
melalui darah
|
Kontak
seks, memakai alat sntik bergantian,kecelakaan tertusuk jarum, luka
terbuka/selaput mukosa, transfusi darah
|
Kontak
seks, jarum suntik, transfusi darah
|
Makanan
dan minuman yang terkontaminasi virus
|
Melalui air, hubungan seksual
|
|
|
Masa Inkubasi
|
14 – 49 hari (+/- 28 hari)
|
30-180 hari
(+/= 75 hari)
|
15-150 hari
|
35 hari
|
14-63 hari
|
|
|
|
Resiko
Penularan
|
Sanitasi buruk, hubungan seks dengan penderita, daerah padat dan
endemis (Indian)
|
Homoseksual, multiple seksual, hemodialisis kronis
|
Penggunaan obat suntik, pasien hemodialisis
|
Pengguna obat IV, penderita hemophilia, resipien konsentrat faktor
pembekuan
|
Air minum terkontaminasi
|
Transfusi darah, penggunaan obat intra vena, pasien
hemodialisis
|
|
|
Tipe penyakit
|
Biasanya
Akut
|
Bersifat
akut tapi juga dapat menjadi infeksi kronis (menahun)
|
Bersifat
akut tapi juga dapat menjadi infeksi kronis (menahun)
|
Biasanya
Akut (Fulminan)
|
Biasanya
akut
|
|
|
|
Carrier Kronik
|
TIDAK
|
5-10%
|
80%
|
70-80%
|
Tidak
|
|
|
|
CAH
SIROSIS
HEPATOMA
|
TIDAK
|
50%
20%
YA
|
YA
20%
|
YA
|
Tidak
|
|
|
|
Mortilitas
|
0.1-0.2%
|
0.5-2%
Tanpa
Komplikasi
|
|
30% Pada Pasien Kronis
|
15-20%
Pada Wanita Hamil
|
|
|
|
Gejala
|
Demam,
mudah capek,mual dan muntah, nafsu makan menurun, BB berkurang,kulit dan
putih mata ikterus, sakit perut kanan atas, diare, air seni seperti teh,
sakit sendi
|
Sama
seperti gejala hepatitis A, selain itu gejalanya ruam, urtikaria, artritis,
polineuropati
|
Kelelahan,
nafsu makan berkurang, mual, sakit kuning,peningkatan SGPT, sakit kepala,
demam, muntah, kehilangan BB, gatal, depresi, bingung, sakit otot dan sendi,
sakit perut, pembengkakan pergelangan kaki, perut membuncit
|
Dari
gejala ringan (ko-infeksi) atau amat progresifm
|
Demam,
rasaletih, hilang nafsu makan, rasa mual, sakit perut, air seni berwarna kuning
tua, timbul warna kekuningan pada kulit dan mata
|
|
|
|
Diagnosis, (Pemeriksaan laboratorium)
|
Tes darah
untuk mencari antibodi (IgM dan IgG)
|
Tes darah
untuk mencari antigen (HbeAg dan Anti-HBe),viral load HBV,Tes Enzim
hati,Alfa-fetoprotein (AFP), ultrasound, biopsi hati
|
Tes
Antibodi HCV, tes Viral Load HCV, tes genotipe, tes enzim hati, biopsi hati
|
|
|
PCR (polymerase
chain reaction)
|
|
|
Cara Pencegahan (Profilaksis)
|
Vaksinasi
hepatitis
A dilakuka 2x, hindari air yg tercemar kotoran,hindari kerang mentah, selalu
cuci tangan dengan sabun, memakai lateks untuk seks oral-anal
|
Vaksinasi
(recombivax HB dan energix-B), penggunaan kondom,pembersihan jarum
suntik,sikat gig dan alat cukur serta jarum tindik tidak dipakai bergantian
|
Mengurangi
risiko tersentuh oleh darah orang lain, menghentikan penggunaan jarum suntik,
jangan memakai sikat gigi, alat cukur, pemotong kuku secara bergantian, Tidak
ada vaksin yang diketahui
|
Pajanan sebeluma atu sesudah profilaksis untuk HBV
|
Belum terdapat vaksin yang efektif
|
Ket: Beberapa
peneliti meyakini bahwa HGV tidak menyebabkan hepatitis yang bermakna secara
klinis, sehingga tidak lagi dipertimbangkan sebagai virus hepatits (Yeo, 2000
dalam Price dan Wilson 2006)
|
|
|
Cara Mengobati
|
Istirahat,
minum banyak cairan, konsumsi ibuprofen
|
Istirahat,
minum banyak cairan, konsumsi ibuprofen, interferon-alfa, lamivudine (3TC),
Adefovir dipivoxil
|
Terapi
HCV, obat interferon-alfa, ribavirin, pegylated interferon
|
|
|
Karakteristik
virus penyebab Hepatitis dan symptom yang ditimbulkan:
1.
Virus Hepatitis
A
a. Golongan
enterovirus èRNA
b. Jenis
hepato virus dari picorna virus family
c. Diameter
27 nm
d. Dideteksi
pada akhir masa inkubasi dan fase pre-ikterik
e. Symptoms
:
-
Demam
-
Kelemahan
-
Jaundice
-
Nyeri sendi
-
Nyeri abdomen
- Hilang
nafsu makan
- Mual
- Muntah
- BAB
èwarna
pucat (gray coloured)
- Urine
ègelap
2. Virus
Hepatitis B
a. Virus
DNA
b. Hepadna
virus
c. Diameter
42 nm, berkapsul ganda
d. Memiliki
lapisan permukaan dengan inti didalamnya
e. Ditemukan
didalam serum, disebut juga dengan partikel “dane”
f.
Didalam serum
ditemukan partikel lain yang berbentuk bulat dan tubuler, merupakanvirus yang
tidak lengkap yaitu HbsAg (untuk pembuatan vaksin)
g. Replikasi
ditunjukkan oleh HbeAg (menunjukkan tanda infektivitas)
h. Tingkat
Keparahan:
-
Dapat menjadi
fatal (mortality rate 60%)
-
1-2% dapat
menjadi Hepatitis Kronis aktif
-
10% dapat
menjadi Shirosis Hepatis
i.
Symptoms
-
Demam
-
Kelemahan
-
Jaundice
-
Nyeri sendi
-
Nyeri abdomen
-
Hilang nafsu
makan
-
Mual
-
Muntah
-
BAB è
warna pucat (gray coloured)
-
Urine è
gelap
3. Virus
Hepatitis C
a. Virus
RNA yang terbungkus lemak
b. Virus
RNA genus hepaci virus dari family flaviridae
c. Diameter
30-60 nm
d. Symptoms:
-
Demam
-
Kelemahan
-
Jaundice
-
Nyeri sendi
-
Nyeri abdomen
-
Hilang nafsu
makan
-
Mual
-
Muntah
-
BAB è
warna pucat (gray coloured)
-
Urine è
gelap
4. Virus
Hepatitis D
a. Virus
RNA
b. Virus
RNA hepatitis delta atau HDV
c. Diameter
35 nm
d. Membutuhkan
HBsAg untuk berperan sebagailapisan luar partikel untuk melakukan replikasi
e. Dapat
menjadi:
- Hepatitis
Fulminant Akut/Kronis
- Chirosis
Hepatis
- Carcinoma
Hepatocelluler
f. Symptoms
- Demam
- Kelemahan
- Jaundice
- Nyeri
sendi
- Nyeri
abdomen
- Hilang
nafsu makan
-
Mual
-
Muntah
-
BAB Ã warna pucat (gray coloured)
-
Urine à gelap
5. Virus
Hepatitis E
a. Virus
RNA
b. Virus
dari kotoran
c. Diameter
32 - 34 nm
d. Cara
Penularan: Sama denganpenularan HAV Ã zoonoticinfection
e. Symptoms
-
Demam
-
Kelemahan
-
Jaundice
-
Nyeri sendi
-
Nyeri abdomen
-
Hilang nafsu
makan
-
Mual
-
Muntah
-
BAB Ã warna pucat (gray coloured)
-
Urine à gelap
C.
MANIFESTASI KLINIS
A.
Hepatitis A
Mulainya
infeksi HAV biasanya mendadak dan disertai oleh kaluhan sistemik demam ,
malaise, mual muntah, anoreksia, dan perut tidak enak. Prodroomal ini mungkin
ringan dan sering tidak kentara pada bayi dan anak prasekolah. Diare sering
terjadi pada anak, tetapi konstipasi lebih laim pada orang dewasa. Ikterus
tidak nampak juga pada anak kecil/muda sehingga hanya dapat terdeteksi
melalui uji labratorium. Bila terjadi, ikterus dan urin berwarna gelap biasanya
terjadi setelah gejala-gejala sistemik. Berbeda pada anak, kebanyakan infeksi
HAV pada orang dewasa lebih jelas gejalanya, meliputi nyeri kuadran kanan atas, urin berwarna gelap
dan ikterus. Lama gejalanya biasanya kurang dari 1 bulan. Hampir semua
penderita dengan infeksi HAV akan sembuh sempurna, tetapi kumat dapat terjadi
selama beberapa bulan. Hepatitis fulminan yang menyebabkan kematian jarang, dan
infeksi kronis tidak terjadi.
B.
Hepatitis B
Banyak kasus infeksi HBV tidak bergejala, dibuktikan
dengan angka pengidap petanda serum yang tinggi pada orang yang tidak mempunyai
riwayat hepatitis akut. Episode
bergejala akut yang biasa, serupa dengan infeksi HAV dan virus
hepatitis C (HCV) tetapi mungkin lebih berat dan lebih mungkin mencakup
keterlibatan kulit dan sendi. Bukti klinis pertama infeksi HBV adalah kenaikan
ALT, yang mulai naik tepat sebelum
perkembangan kelesuan (lethargi), anoreksia, dan malaise, sekitar 6-7 minggu
sesudah pemajanan. Pada pemeriksaan fisik, kulit dan membrana mukosa adalah
ikterik, terutama sklera dan mukosa bawah lidah. Hati biasanya membesar dan
nyeri pada palpasi. Bila hati tidak dapat teraba dibawah tepi kosta, nyeri dapat diperagakan dengan memukul iga dengan lembut
diatas hati dengan tinju menggenggam.
Sering ada splenomegali dan limfadenopati.
C.
Hepatitis C
Pola
klinis infeksi akut biasanya serupa
dengan pola klinis virus hepatitis yang lain. HCV merupakan hepatitis virus yang paling mungkin menyebabkan infeksi
kronis. Sekitar dua pertiga infeksi pasca transfusi dan sekitar sepertiga kasus sporadik didapat di
masyarakat akan menjadi kronis. Khas, pola fluktuasi kenaikan aminotransaminase
kronis lazim, HCV kronis akan memburuk
menjadi sirosis pada hanya sekitar setengah penderita atau sekitar 25% dari
mereka semua yang pada mulanya terinfeksi . karsinoma hepatoseluler primer
dapat berkembang pada penderita dengan sirosis, tetapi HCV kurang efektif
daripada HBV dalam menyebabkan
karsinoma hepatoselulare primer.
Karsinoma hepatoselular akibat HCV mungkin akibat dari radang kronis dan
nekrosis bukannya pengaruh onkogenik virus.
D.
Hepatitis D
Gejala-gejala
infeksi hepatitis D adalah serupa tetapi biasanya lebih berat daripada
gejala-gejala hepatitis virus lain. Akibat klinis karena infeksi HDV tergantung pada mekanisme infeksi. Pada
infeksi bersama, hepatitis akut, yang jauh lebih berat dari pada kerena HBV
saja adalah lazim, tetapi resiko untuk hepatitis kronis rendah. Pada
superinfeksi, penyakit akut jarang, sedang hepatitis kronis laimj. Namun risiko
hepatitis fulminan tertinggi pada super-infeksi. Hapititis D harus dipikirkan pada setiap anak yang
mengalami gagal hati akut.
E.
Hepatitis E
Penyakit klinis pada hepatitis E adalah
serupa dengan penyakit klinis hepatitis A, virus yang ditularkan secara enterik
lain, tetapi sering lebih parah. Disamping menyebabkan penyakit yang lebih
berat daripada HAV hepatitis E lebih
sering diderita oleh yang lebih tua, dengan
insiden puncak antara 15 dan 34 tahun. Perbedaan klinis penting lain
adalah bahwa HEV mempunyai angka fatalitas tinggi pada wanita hamil.
D.
PATOFISIOLOGI
Setiap
virus hepatitis menyebabkan kerusakan hati yang sama. Proses inflamasi
diaktifkan di seluruh hati, dan hepatosit dihancurkan oleh sitokin sitotoksik
dan sel-sel pembunuh alami kedua bagian dari proses inflamasi. Nekrosis seluler
terjadi, jika peradangan mempengaruhi daerah periportal, kolestasis atau
gangguan aliran empedu. Hati biasanya mampu memperbaiki dirinya sendiri dan
mendapatkan kembali fungsi lengkap jika tidak ada komplikasi lain terjadi.
Kompleks
antigen - antibodi yang terbentuk dari interaksi sistem kekebalan tubuh dengan
infeksi beredar di tubuh, yang mengaktifkan sistem komplemen. Orang merasa
malaise , ruam , arthritis , demam dan angioedema dari aktivasi ini. Protiens
abnormal juga diproduksi dalam darah, disebut cryogloblinemia. Orang mungkin
juga mengembangkan vaskulitis dan glomerulonefritis.
Terdapat
tiga tahap selama kursus khas hepatitis akut :
1. Fase
prodromal
Fase ini
dimulai sekitar 2 minggu setelah terpapar hepatitis. Infeksi ini mudah menular
selama fase ini. Tanda-tanda dan gejala malaise, kelelahan, anoreksia, mual,
muntah, batuk, hyperalgia, demam ringan. Tahap ini berakhir ketika penyakit
kuning muncul.
2. Fase icteric
Fase ini
ditandai dengan urin gelap, penyakit kuning dan bangku tanah liat berwarna.
Hati menjadi membesar, lembut dan halus dan orang merasa sakit hati sedang
percussed. Hal ini dikenal sebagai fase sebenarnya penyakit. Ini dimulai 1-2
minggu setelah fase prodromal dan berlanjut selama 2-6 minggu.
3. Fase
pemulihan
Pemulihan
dimulai ketika penyakit kuning mulai membersihkan. Hati tetap membesar dan
lembut tetapi gejala lainnya mulai diminsh. Ini biasanya dimulai 6-8 minggu
setelah terpapar. Hati mendapatkan kembali fungsi normal 2-12 minggu setelah
penyakit kuning dimulai.
|
E.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC
Salah satu
pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk diagnosis hepatitis adalah
pemeriksaan dengan USG (ultrasonografi). USG adalah alat yang digunakan untuk
mengetahui adanya kelainan pada organ dalam. USG hati (liver) dilakukan jika
pemeriksaan fisik kurang mendukung diagnosis, sedangkan keluhan klinis pasien
dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan hal sebaliknya. Jadi pemeriksan USG
dilakukan untuk memastikan diagnosis kelainan hati (liver).
Melalui pemeriksaan
USG hati, dapat dilihat adanya pembesaran hati serta ada tidaknya sumbatan
saluran empedu. Pembesaran hati (liver) dilihat dengan mengamati bagian tepi
hati. Tepi hati (liver) yang tumpul menunjukkan adanya pembesaran hati (liver).
Selain untuk melihat ada tidaknya fibrosis (jaringan ikat), USG juga dapat
digunakan untuk melihat peradangan hati (liver) dengan mengamati densitas
(kepadatan) hati (liver) yang lebih gelap.
USG hanya dapat
melihat kelainan pada hepatitis kronis atau sirosis. Pada hepatitis akut atau
pada proses awal penyakit yang belum mengakibatkan kerusakan jaringan,
pemeriksaan USG tidak akurat. Pemeriksan USG juga dapat digunakan untuk
mengungkap diagnosis lain yang terkait kelainan hati (liver), seperti tumor
hati (liver), abses hati (liver), radang empedu, dan lain-lain.
Pemeriksaan penunjang:
1.
Tes
darah
Hitung
darah lengkap. LED-anemia, trombositosis dan kenaikan penanda menunjukkan
adanya proses penyakit kronis. Biokimiawi hasil tes fungsi hati yang abnormal
menunjukkan kemungkinan keganasan.
2.
Ultrasonografi
Sangat
bermanfaat untuk pemeriksaan hati dan tumor yang berasal dari ginjal dan organ
pervis.
3.
CT
scan
Sangat
bermanfaat untuk menentukan sifat massa retroperitoneal dan mungkin lebih
sensitif dalam mengidenfitikasi pembesaran KGB intraabdomen.
4.
MRI
Banyak
digunakan, khususnya bagi massa adrenal atau massa yang berasal dari tulang.
5.
Biopsi
Jika ada
keraguan mengenai sifat suatu massa intraabdomen, biasanya bisa dilakukan
aspirasi sel untuk pemeriksaan sitologi atau biopsi perkuatan dengan bantuan
USG atau CT scan.
F.
KOMPLIKASI
Ensefalopati hepatic terjadi pada
kegagalan hati berat yang disebabkan oleh akumulasi amonia serta metabolik
toksik merupakan stadium lanjut ensefalopati hepatik. Kerusakan jaringan
paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis hepatis, penyakit ini lebih
banyak ditemukan pada alkoholik.
Komplikasi hepatitis virus yang paling
sering dijumpai adalah perjalanan penyakit yang memanjang hingga 4 sampai 8
bulan. Keadaan ini dikenal sebagai hepatitis kronis persisten. Sekitar 5 % dari
pasien hepatitis virus akan mengalami kekambuhan setelah serangan awal yang
dapat dihubungkan dengan alkohol atau aktivitas fisik yang berlebihan setelah
hepatitis virus akut sejumlah kecil pasien akan mengalami hepatitis agresif
atau kronik aktif dimana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti (picce
meal). Akhirnya satu komplikasi lanjut dari hepatitis yang cukup bermakna
adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler.
Komplikasi
yang dapat terjadi pada penyakit hepatitis adalah sebagai berikut :
a. Kolesterol
b. Perdarahan
saluran cerna
c. Gagal
ginjal
d. Gangguan
Elektrolit
e. Gangguan
Pernafasan
f. Hipoglikemia
g. Demam,
bakteri
h. Gelisah
i. Hipertensi
j. Hipotensi
k. Kematian
/ hypotesis portal
G.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA
PASIEN HEPATITIS
Pengkajian
A.
Identitas
A.1 Identitas pasien
a.
Nama
b.
Jenis kelamin
c.
Umur
d.
Status perkawinan
e.
Pekerjaan
f.
Agama
g.
Pendidikan terakhir
h.
Alamat.
A.2 Identitas penanggungjawab
a.
Nama
b.
Jenis kelamin
c.
Umur
d.
Status perkawinan
e.
Pekerjaan
f.
Agama
g.
Pendidikan terakhir
h.
Alamat.
B.
Riwayat Kesehatan
lalu
C.
Riwayat kesehatan
sekarang
D.
Riwayat kesehatan
keluarga
E.
Riwayat pengobatan
F.
Data sosial ekonomi
G.
Aktifitas
sehari-hari
H.
Pemeriksaan Fisik
a.
Keadaan umum
b.
Tanda-tanda Vital : suhu
tubuh, tekanan darah, nadi, pernafasan.
I.
Pemeriksaan Fisik
1.
Aktivitas istirahat:
kelelahan
2.
Sirkulasi:
brakikardia, ikterik pada sklera, kulit, membran mukosa.
3.
Eliminasi: urine
gelap, diare/konstipasi (fases warna tanah liat).
4.
Makanan/cairan :
hilang nafsu makan, penurunan berat badan, mual, muntah
5.
Nyeri :
kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran atas, mialgia, sakit kepala dan gatal.
6.
Pernafasan : tidak minat merokok (perokok)
7.
Keamanan : adanya tranfusi darah/ produk darah,
demam, eritema tak beraturan, ekserbasi jerawat, pembesaran nodus servikal
posterior.
8.
Seksualitas : perilaku peningkatan resiko
terpajan (contoh homoseksual aktif/seksual pada wanita)
9.
Penyuluhan/pembelajaran : adanya prosedur bedah
dengan anestesia haloten, riwayat dketahui/mungkin terpajan pada virus, bakteri
atau toksin.
J.
Data Penunjang
1.
Tes fungsi hati : abnormal (4-10 x dari normal)
2.
AST SGOT ALT SGPT : awalnya meningkat, dapat meningkat 1-2
minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun
3.
Alkali fosfatase : agak meningkat (kecuali ada
kolestasis berat)
4.
Faces : warna tanah
liat, steatoria (penurunan fungsi hati)
5.
Albumin serum : menurun
6.
Gula darah :
hiperglikemia/hipoglikemia (gangguan fungsi hati)
7.
Anti-HAV Igm : positif pada tipe A
8.
HbsAg : dapat positif
(tipe B)atau negatif (tipe A)
9.
Masa protrombim : mungkin memanjang (disfungsi
hati)
10.
Bilirubin serum : diatas 2,5 mg/100 ml (bila
diatas 200 mg/ml, prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan
nekrosis seluler)
11.
Tes ekresi BSP : kadar darah meningkat
12.
Biopsi hati : menunjukkan
diagnosis dan luasnya nekrosis.
13.
Skan hati : membantu dalam
perkiraan beratnya kerusakan parenkim
14.
Urinalisa : peninggian kadar
bilirubin; protein/hematuria dapat terjadi.
Diagnosa Keperawatan
1.
Intoleran aktifitas
berhubungan dengan kelemahan fisik.
2.
Perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
3.
Resiko terjadinya
kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan output yang berlebihan.
4.
Harga diri rendah
situasional berhubungan denga perasaan
negatif terhadap tubuh.
5.
Resiko terjadinya infeksi
berhubungan dnegan pertahanan primer tidak adekuat.
6.
Resiko terjadinya
integritas kulit/jaringan berhubungan dengan akumulasi gram empedu dalam
jaringan.
7.
Kurang pengetahuan tentang
perawatan penderita hepatitis berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi Keperawatan
1.
Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan: setelah
dilakukan tindakan kperawatan diharapkan klien mampu melakukan aktivitas
kembali.
Kriteria hasil:
menunjukkan teknik/perilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas.
Melaporkan kemampuan meningkatkan toleransi aktifitas.
Rencana tindakan:
a.
Tindakan tirah
baring/duduk. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung sesuai keperluan.
Rasionalisasi:
meningkatkan istirahat dan ketenanngan serta menyediakan energi untuk
kesembuhan.
b.
Ubah posisi dengan sering.
Rasionalisasi:
meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu
untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.
c.
Lakukan tugas dengan cepat
dan sesuai toleransi
Rasionalisasi:
memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan.
d.
Tingkatkan aktivitas sesuai
toleransi; antu klien melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.
Rasionalisasi: tirah
baring lama dapat menurunkan kemampuan, ini dapat terjadi karena keterbatasan
aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
e.
Dorong penggunaan teknik
manajemen stres (relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi) dan
berikan aktivitas hiburan (nonton tv, radio, membaca).
Rasionalisasi:
meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kemali perhatian.
f.
Kolaborasi dengan pemberian
antidot atau bantu dalam prosedur sesuai indikasi tergantung pada pemajanan.
Rasionalisasi:
membuang agen penyebab pada hepatitis toksis dapat membatasi derajat kerusakan
jaringan.
g.
Kolaborasi dengan pemberian
obat sesuai indikasi
Rasionalisasi:
membantu dalam memanajemen kebutuhan tidur
h.
Awasi kadar enzim hati
Rasionalisasi:
membantu menekankan kadar aktifitas tepat, sebagai eningkatan prematur
potensial resiko berulang.
2.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
makanan yang tidak adekuat.
Tujuan: setelah
dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :
menunjukkan perilaku pola hidup untuk meningkatkan / mempertahankan berat badan
yang sesuai. Menunjukkan peningkatan berat badan, mencapai tujuan dengan nilai
leboratorium ormal dan bebas tanda malnutrisi.
Rencana tindakan:
a.
Observasi tanda-tanda vital
Rasionalisasi :
untuk mengetahui keadaan umum klien.
b.
Awasi pemasukkan diet/jumlah
kalori. Berikan sedikit dengan frkuensi sering dan tawarkan makan pagi paling
besar
Rasional: makan
banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksia. Anoreksia juga paling buruk
selama siang hari, membuat masukan makanan yang paling sulit sore hari.
c.
Berikan perawatan mulut
sebelum makan.
Rasional:
meghilangkan rasa tak enak dapat meningkatkan nafsu makan.
d.
Anjurkan makan pada posisi
duduk tegak
Rasional: menurunkan
rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.
e.
Dorong pemasukan sari jeruk,
minuman karbonat dan permen berat sepanjang hari.
Rasional: bahan ini
merupakan bahan ekstra kalori yang dapat lebih mudah dicerna/toleran bila
makanan lain tidak.
f.
Konsul pada ahli diet,
dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan pasien, dengan
masukan lemak dan protein sesuai toleransi.
Rasional: berguna
untuk program diet untuk memenuhi kebutuhan individu. Metabolisme lemak
bervariasi tergantung pada produksi dan pengeluaran empedu dan perlunya
pembatasan masuknya lemak bila terjadi diare.
g.
Awasi glukosa darah
Rasional:
hiper/hipoglikemia dapat terjadi, memerlukan perubahan diet/pemberian insulin.
h.
Beriakn obat sesuai
indikasi
1.
Antiemetik, (contohnya
metalopromide). rasionalnya : diberikan setengan jam sebelum makan, dapat
menurunkan mual dan meningkatkan toleransi pada makanan.
2.
Antasida (milanta,
titralac). Rasional: kerja pada asam gaster dapat menurunkan iritasi.
3.
Vitamin (B complex, C,
tambahan diet lain sesuai indikasi). Rasional: memperbaiki kekurangan dan
membantu proses penyembuhan.
4.
Terapi steroid (prednison).
Rasionalnya : steroid dikontraindikasikan karena meningkatkan resiko
berulang/terjadinya hepatitis kronis pada pasien denga hepatitis virus
i.
Berikan tambahan
makanan/nutrisi dukungan total bila dibutuhkan.
Rasional: mungkin perlu
utnuk memenuhi kebutuhan kalori bila tanda kekurangan terjadi/gejala gejala
memanjang.
3.
Resiko terjadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan output
berlebihan.
Tujuan: setelah
dilakukan tindakan keperawatan diharapkan intake dan output cairan seimbang.
Kriteria hasil:
tanda-tanda vital stabil, turgor kulit baik, pengisian kapiler nadi perifer
kuat, dan hubungan urine individu sesuai.
Tindakan keparawat :
1.
Awasi masukan dan haluan,
bandingkan dengan berat badan harian. Catat kehilangan melalui usus, contoh
muntah dan diare.
Rasional: memberikan
informasi tentang kebutuhan penggantian/efek terapi.
2.
Kaji tanda vital, nadi
perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
Rasional: indikator
volume sirkulasi/perfusi
3.
Periksa asites atau embetukan
adema. Ukur lingkar abdomen sesuai indikasi.
Rasional: menurunkan
kemungkinan pendarahan ke dalam jaringan
4.
Biarkan pasien menggunakan
lap katun/spon dan pembersih mulut untuk sikat gigi.
Rasional:
menghindari trauma dan pendarahan gusi
5.
Observasi tanda pendarahan,
contoh hematuria/melena, ekimosis.
Rasional: kadar
protrombin menurun dan waktu koagulasi memanjang bila absorbsi vitamin K
terganggu pada traktus GI dan sintesis protrombin menurun karena mempengaruhi
hati.
6.
Awasi nilai laboratorium,
contoh: Hb/Ht,Nat,Albumin, dan waktu pembekuan.
Rasional:
menunjukkkan hidrasi dan mengidentifikasi reyensi natrium/ kadar protein yang
dapat menimbulkan pembentukan edema.
7.
Erikan cairan IV (biasanya
glukosa) elektrolit
Rasional :
memberikan terapi cairan dan pengganti elektrolit.
4.
Harga
diri rendah situasional berhubungan dengan perasaan negatif terhadap tubuh.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan
diharapkan tidak terjadi depresi, perilaku merusak diri.
Kriteria hasil : klien mampu mengidentifikasi perasaaan
dan metode untuk koping terhadap presepsi diri negatif
Rencana tindakan :
a. Kontrak
dengan pasien mengenai waktu untuk mendengar. Dorong diskusi perasaan/masalah.
Rasional : penyediaan waktu
meningkatkan hubungan saling percaya
b. Hindari
membuat penilaian moral tentang hidup (penggunaan alkohol/praktek seksual).
Rasional : pasien merasa
marah/kesal dan menyalahkan diri, penilaian dari orang lain akan merusak harga
diri lebih lanjut.
c. Diskusikan
harapan penyembuhan
Rasional : periode penyembuhan
mungkin lama (lebih dari 6 bulan)
d. Kaji
efek penyakit pada faktor ekonomi pasien/orang terdekat.
Rasional : masalah finansial dapat
terjadi karena kehilangan peran fungsi pasien pada keluarga/penyembuhan lama.
e. Tawarkan
aktivitas senggang bedasarkan tingkat energi
Rasional : memampukan pasien untuk
menggunakan waktu dan energi pada cara konstruktif yang meningkatkan harga diri
dan meminimalkan cemas dan depresi.
5.
Resiko
terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan
diharapkan infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil : menunjukkan teknik, melakukan
perubahan pola hidup untuk menghindari infeksi/transmisi ke orang lain.
Rencana tindakan :
a. Lakukan
teknik isolasi untuk infeksi enterik dan pernafasan
Rasional : mencegah transmisi
penyakit virus ke orang lain.
b. Awasi
/ batasi pengunjung sesuai indikasi
Rasional : pasien terpajan terhadap
proses infeksi, potensial, resiko komplikasi sekunder.
c. Jelaskan
prosedur isolasi pada pasien / orang terdekat
Rasional : pemahaman alasan untuk
perlindungan diri mereka sendiri dan orang lain dapat mengurangi rasa isolasi
dan stigma.
d. Berikan
informasi tentang adanya gama globulin, ISG, HBIG, vaksin hepatitis B melalui
Departemen Kesehatan atau dokter keluarga.
Rasional : efektif dalam mencegah
hepatitis virus pada orang yang terpajan, atau tergantung tipe hepatitis dan
periode intubasi
6.
Resiko
adanya kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan akumulasi garam
empedu dalam jaringan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan
diharapkan tidak terjadi kerusakan intergitas kulit/ jaringan.
Kriteria hasil : menunjukkan jaringan / kulit utuh,
bebas ekskoriasi. Melaporkan tak ada / penurunkan pruiritas / lecet.
Rencana tindakan :
a. Gunakan
air mandi dingin, hindari sabun alkali. Berikan minyak kalamin sesuai indikasi.
Rasional : mencegah kulit kering
berlebihan. Memberikan penghilang gatal.
b. Anjurkan
menggunakan buku-buku jari untuk menggaruk bila tidak terkontrol.
Rasional : menurunkan potensial
cedera kulit.
c. Berikan
massage pada waktu tidur.
Rasioanl : bermanfaat dalam
meningkatkan tidur dengan menurunkan iritasi kulit.
d. Hindari
komentar tentang penilaian pasien.
Rasional : meminimalkan stress
psikologis sehubungan dengan perubahan kulit.
7.
Kurang
pengetahuan tentang perawatan penderita hepatitis berhubungan dengan kurangnya
informasi.
Tujuan : setelah diberikan pendidikan kesehatan
diharapkan klien memahami tentang perawatan dan kebutuhan pengobatan pasien
hepatitis.
Kriteria hasil : menyatakan pemahaman proses penyakit
dan pengobatan. Melakukan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan.
Rencana tindakan :
a. Kaji
tingkat pemahaman proses penyakit, harapan, kemungkinan, pilihan pengobatan.
Rasional : mengidentifikasi area
kekurangan dan pengetahuan / salah informasi dan memberikan kesempatan untuk
memberikan informasi tambahan sesuia keperluan.
b. Berikan
informasi khusus tentang pencegahan / penularan penyakit.
Rasional : kebutuhan / rekomendasi
akan bervariasi karena tipe hepatitis (agen penyebab) dan situasi individu.
c. Identifikasi
cara untuk mempertahankan fungsi usus biasanya.
Rasional : perubahan pada pemasukan
makanan / cairan dapat mengakibatkan konstipasi.
d. Diskusikan
efek samping bahaya minum obat yang dijual bebas.
Rasional : beberapa obat merupakan
toksik untuk hati, dan menyebabkan efek kumulatif toksik / hepatitis kronis.
e. Kaji
ulang perlunya menghindari alkohol swlama 6-12 bulan minimal atau lebih lama
sesuai toleransi individu.
Rasional : meningkatkan iritasi
hepatik dan mempengaruhi pemulihan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
Hepatitis. Diakses pada 10 November 2014, dari: http://who.int/topics/hepatitis/en/
Anonim.
Penyakit Hepatits. Diakses pada 8 November 2014, dari: http://penyakithepatitis.org/jenis-jenis-virus-hepatitis/
Anonim.
Hepatitis A, Hepatitis B, Hepatitis C, Hepatitis D, Hepatitis E, Hepatitis G.
Diakses pada 8 November 2014, dari: http://obat-hepatitis.com/hepatitis-a-hepatitis-b-hepatitis-c-hepatitis-d-hepatitis-e-hepatitis-g/
Anonim.
Komplikasi Sirosis hati. Diakses pada 9 November 2014, dari: http://sirosishati.com/komplikasi-sirosis-hati/
Behrman,
Kligman & Arvin. (1996). Ilmu
kesehatan Anak. Jakarta: EGC.
Bet,
C.L. dan Sowden, L.A. (2004). Buku Saku
Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC.
Davey, P. (2006). At a Glance Medicine. Jakarta: PT Gelora
Aksara Pratama.
Horn
dan James, (editor) Green, Chris W. (2005). Hepatitis
Virus dan HIV. -: Spiritia
Ongky. (2013). Hepatitis. Diakses pada 8
November 2014, dari: http://ongky-materiaskep.blogspot.com/2013/03/hepatitis.html
0 komentar:
Posting Komentar