Senin, 10 November 2014

PERAWATAN KLIEN DENGAN HEPATITIS










PAPER PERAWATAN KLIEN DENGAN HEPATITIS
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Dewasa I
Dosen: - Ns. Yuni Dwi Hastuti, S.Kep., M.Kep


Disusun Oleh:
A13.2
Endri Styani                        22020113130132
Linda Surya W                   22020113130139
Prayudha Siddiqiyah           22020113140055
Dian Aristya Putri               22020113140056
Nurbahrian Alfan M            22020113140067
Dwi Fathun Ary H              22020113140079
Aisyah Kurnia Utami           22020113140081
Ika Rahayu Ningtyas           22020113140083
Luthfia Pravitakari A           22020113140088
Laura Ayudina N.A            22020113140098
Siti Nurhidayah                   22020113140100


JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014
A.     DEFINISI
Hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus. Hepatitis termasuk kedalam penyakit infeksi dengan penyebaran yang luas meskipun efek utama pada hati. Terdapat 6 atau tujuh kategori virus yang menjadi penyebab hepatitis yaitu virus hepatitis A (HAV), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis  C (HCV), virus hepatitis D (HDV), virus hepatitis E (HEV), Hepatitis F dan hepatitis G. Namun hanya lima hepatitis utama yang umunya disebut sebagai hepatitis tipe A, B, C, D dan E. Kelima jenis ini menjadi perhatian terbesar karena beban penyakit dan kematian mereka menyebabkan dan potensi wabah dan penyebaran epidemi . Secara khusus , jenis B dan C menyebabkan penyakit kronis pada ratusan juta orang dan juga menjadi  penyebab paling umum dari sirosis hati dan kanker.
B.     KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI HEPATITIS
Hepatitis
A (H.Infeksiosa)
B(H. Serum)
C
D
E
F
G
Virus

HAV

HBV

RNA HCV

RNA HDV (membutuhkan HBV untuk bereplikasi)
RNA HEV

Ket: Meskipun telah ada klasifikasi, namun belum dapat dipastikan virus ini ada
HGV
Cara penularan
Feses,
Makanan mentah atau tidak cukup dimasak, rimming
Kontak seks, penggunaan alat suntik bergantian, ibu hamil ke bayinya, penularan melalui darah
Kontak seks, memakai alat sntik bergantian,kecelakaan tertusuk jarum, luka terbuka/selaput mukosa, transfusi darah
Kontak seks, jarum suntik, transfusi darah
Makanan dan minuman yang terkontaminasi virus
Melalui air, hubungan seksual
Masa Inkubasi
14 – 49 hari (+/- 28 hari)
30-180 hari
(+/= 75 hari)
15-150 hari
35 hari
14-63 hari

Resiko Penularan
Sanitasi buruk, hubungan seks dengan penderita, daerah padat dan endemis (Indian)
Homoseksual, multiple seksual, hemodialisis kronis
Penggunaan obat suntik, pasien hemodialisis
Pengguna obat IV, penderita hemophilia, resipien konsentrat faktor pembekuan
Air minum terkontaminasi
Transfusi darah, penggunaan obat intra vena, pasien hemodialisis
Tipe penyakit
Biasanya Akut
Bersifat akut tapi juga dapat menjadi infeksi kronis (menahun)
Bersifat akut tapi juga dapat menjadi infeksi kronis (menahun)
Biasanya Akut (Fulminan)
Biasanya akut

Carrier Kronik
TIDAK
5-10%
80%
70-80%
Tidak

CAH
SIROSIS
HEPATOMA
TIDAK
50%
20%
YA
YA
20%
YA
Tidak

Mortilitas
0.1-0.2%
0.5-2%
Tanpa
Komplikasi

30%  Pada Pasien Kronis
15-20% Pada Wanita Hamil

Gejala
Demam, mudah capek,mual dan muntah, nafsu makan menurun, BB berkurang,kulit dan putih mata ikterus, sakit perut kanan atas, diare, air seni seperti teh, sakit sendi
Sama seperti gejala hepatitis A, selain itu gejalanya ruam, urtikaria, artritis, polineuropati
Kelelahan, nafsu makan berkurang, mual, sakit kuning,peningkatan SGPT, sakit kepala, demam, muntah, kehilangan BB, gatal, depresi, bingung, sakit otot dan sendi, sakit perut, pembengkakan pergelangan kaki, perut membuncit
Dari gejala ringan (ko-infeksi) atau amat progresifm
Demam, rasaletih, hilang nafsu makan, rasa mual, sakit perut, air seni berwarna kuning tua, timbul warna kekuningan pada kulit dan mata

Diagnosis, (Pemeriksaan laboratorium)
Tes darah untuk mencari antibodi (IgM dan IgG)
Tes darah untuk mencari antigen (HbeAg dan Anti-HBe),viral load HBV,Tes Enzim hati,Alfa-fetoprotein (AFP), ultrasound, biopsi hati
Tes Antibodi HCV, tes Viral Load HCV, tes genotipe, tes enzim hati, biopsi hati


PCR (polymerase chain reaction)
Cara Pencegahan (Profilaksis)
Vaksinasi
hepatitis A dilakuka 2x, hindari air yg tercemar kotoran,hindari kerang mentah, selalu cuci tangan dengan sabun, memakai lateks untuk seks oral-anal
Vaksinasi (recombivax HB dan energix-B), penggunaan kondom,pembersihan jarum suntik,sikat gig dan alat cukur serta jarum tindik tidak dipakai bergantian
Mengurangi risiko tersentuh oleh darah orang lain, menghentikan penggunaan jarum suntik, jangan memakai sikat gigi, alat cukur, pemotong kuku secara bergantian, Tidak ada vaksin yang diketahui
Pajanan sebeluma atu sesudah profilaksis untuk HBV
Belum terdapat vaksin yang efektif
Ket: Beberapa peneliti meyakini bahwa HGV tidak menyebabkan hepatitis yang bermakna secara klinis, sehingga tidak lagi dipertimbangkan sebagai virus hepatits (Yeo, 2000 dalam Price dan Wilson 2006)
Cara Mengobati
Istirahat, minum banyak cairan, konsumsi ibuprofen
Istirahat, minum banyak cairan, konsumsi ibuprofen, interferon-alfa, lamivudine (3TC), Adefovir dipivoxil
Terapi HCV, obat interferon-alfa, ribavirin, pegylated interferon




Karakteristik virus penyebab Hepatitis dan symptom yang ditimbulkan:
1.      Virus Hepatitis A
a.       Golongan enterovirus èRNA
b.      Jenis hepato virus dari picorna virus family
c.       Diameter 27 nm
d.      Dideteksi pada akhir masa inkubasi dan fase pre-ikterik
e.       Symptoms :


-        Demam
-        Kelemahan
-        Jaundice
-        Nyeri sendi
-        Nyeri abdomen
-     Hilang nafsu makan
-     Mual
-     Muntah
-     BAB èwarna pucat (gray coloured)
-     Urine ègelap

2.    Virus Hepatitis B
a.       Virus DNA
b.      Hepadna virus
c.       Diameter 42 nm, berkapsul ganda
d.      Memiliki lapisan permukaan dengan inti didalamnya
e.       Ditemukan didalam serum, disebut juga dengan partikel “dane”
f.        Didalam serum ditemukan partikel lain yang berbentuk bulat dan tubuler, merupakanvirus yang tidak lengkap yaitu HbsAg (untuk pembuatan vaksin)
g.       Replikasi ditunjukkan oleh HbeAg (menunjukkan tanda infektivitas)
h.       Tingkat Keparahan:
-        Dapat menjadi fatal (mortality rate 60%)
-        1-2% dapat menjadi Hepatitis Kronis aktif
-        10% dapat menjadi Shirosis Hepatis
i.         Symptoms

-        Demam
-        Kelemahan
-        Jaundice
-        Nyeri sendi
-        Nyeri abdomen
-        Hilang nafsu makan
-        Mual
-        Muntah
-        BAB è warna pucat (gray coloured)
-        Urine è gelap

3.    Virus Hepatitis C
a.    Virus RNA yang terbungkus lemak
b.    Virus RNA genus hepaci virus dari family flaviridae
c.    Diameter 30-60 nm
d.    Symptoms:

-        Demam
-        Kelemahan
-        Jaundice
-        Nyeri sendi
-        Nyeri abdomen
-        Hilang nafsu makan
-        Mual
-        Muntah
-        BAB è warna pucat (gray coloured)
-        Urine è gelap

4.    Virus Hepatitis D
a.    Virus RNA
b.    Virus RNA hepatitis delta atau HDV
c.    Diameter 35 nm
d.    Membutuhkan HBsAg untuk berperan sebagailapisan luar partikel untuk melakukan replikasi
e.    Dapat menjadi:
-     Hepatitis Fulminant Akut/Kronis
-     Chirosis Hepatis
-     Carcinoma Hepatocelluler
f.    Symptoms

- Demam
- Kelemahan
- Jaundice
- Nyeri sendi
- Nyeri abdomen
- Hilang nafsu makan
-        Mual
-        Muntah
-        BAB à warna pucat (gray coloured)
-        Urine à gelap

5.    Virus Hepatitis E
a.    Virus RNA
b.    Virus dari kotoran
c.    Diameter 32 - 34 nm
d.    Cara Penularan: Sama denganpenularan HAV à zoonoticinfection
e.    Symptoms

-        Demam
-        Kelemahan
-        Jaundice
-        Nyeri sendi
-        Nyeri abdomen
-        Hilang nafsu makan
-        Mual
-        Muntah
-        BAB à warna pucat (gray coloured)
-        Urine àgelap

C.     MANIFESTASI KLINIS
A.     Hepatitis A
Mulainya infeksi HAV biasanya mendadak dan disertai oleh kaluhan sistemik demam , malaise, mual muntah, anoreksia, dan perut tidak enak. Prodroomal ini mungkin ringan dan sering tidak kentara pada bayi dan anak prasekolah. Diare sering terjadi pada anak, tetapi konstipasi lebih laim pada orang dewasa.  Ikterus  tidak nampak juga pada anak kecil/muda sehingga hanya dapat terdeteksi melalui uji labratorium. Bila terjadi, ikterus dan urin berwarna gelap biasanya terjadi setelah gejala-gejala sistemik. Berbeda pada anak, kebanyakan infeksi HAV pada orang dewasa lebih jelas gejalanya, meliputi  nyeri kuadran kanan atas, urin berwarna gelap dan ikterus. Lama gejalanya biasanya kurang dari 1 bulan. Hampir semua penderita dengan infeksi HAV akan sembuh sempurna, tetapi kumat dapat terjadi selama beberapa bulan. Hepatitis fulminan yang menyebabkan kematian jarang, dan infeksi kronis tidak terjadi.
B.     Hepatitis B
Banyak  kasus infeksi HBV tidak bergejala, dibuktikan dengan angka pengidap petanda serum yang tinggi pada orang yang tidak mempunyai riwayat hepatitis akut. Episode  bergejala akut yang biasa, serupa dengan infeksi  HAV dan virus  hepatitis C (HCV) tetapi mungkin lebih berat dan lebih mungkin mencakup keterlibatan kulit dan sendi. Bukti klinis pertama infeksi HBV adalah kenaikan ALT, yang  mulai naik tepat sebelum perkembangan kelesuan (lethargi), anoreksia, dan malaise, sekitar 6-7 minggu sesudah pemajanan. Pada pemeriksaan fisik, kulit dan membrana mukosa adalah ikterik, terutama sklera dan mukosa bawah lidah. Hati biasanya membesar dan nyeri pada palpasi. Bila hati tidak dapat teraba dibawah  tepi kosta, nyeri dapat  diperagakan dengan memukul iga dengan lembut diatas  hati dengan tinju menggenggam. Sering ada splenomegali dan limfadenopati.
C.     Hepatitis C
Pola klinis infeksi  akut biasanya serupa dengan pola klinis virus hepatitis yang lain. HCV merupakan hepatitis  virus yang paling mungkin menyebabkan infeksi kronis. Sekitar dua pertiga infeksi pasca transfusi dan  sekitar sepertiga kasus sporadik didapat di masyarakat akan menjadi kronis. Khas, pola fluktuasi kenaikan aminotransaminase kronis lazim, HCV kronis akan  memburuk menjadi sirosis pada hanya sekitar setengah penderita atau sekitar 25% dari mereka semua yang pada mulanya terinfeksi . karsinoma hepatoseluler primer dapat berkembang pada penderita dengan sirosis, tetapi HCV kurang efektif daripada  HBV dalam menyebabkan karsinoma  hepatoselulare primer. Karsinoma hepatoselular akibat HCV mungkin akibat dari radang kronis dan nekrosis bukannya pengaruh onkogenik virus.
D.     Hepatitis D
Gejala-gejala infeksi hepatitis D adalah serupa tetapi biasanya lebih berat daripada gejala-gejala hepatitis virus lain. Akibat klinis karena infeksi HDV  tergantung pada mekanisme infeksi. Pada infeksi bersama, hepatitis akut, yang jauh lebih berat dari pada kerena HBV saja adalah lazim, tetapi resiko untuk hepatitis kronis rendah. Pada superinfeksi, penyakit akut jarang, sedang hepatitis kronis laimj. Namun risiko hepatitis fulminan tertinggi pada super-infeksi. Hapititis  D harus dipikirkan pada setiap anak yang mengalami gagal hati akut.
E.      Hepatitis E
Penyakit klinis pada hepatitis E adalah serupa dengan penyakit klinis hepatitis A, virus yang ditularkan secara enterik lain, tetapi sering lebih parah. Disamping menyebabkan penyakit yang lebih berat daripada HAV  hepatitis E lebih sering diderita oleh yang lebih tua, dengan  insiden puncak antara 15 dan 34 tahun. Perbedaan klinis penting lain adalah bahwa HEV mempunyai angka fatalitas tinggi pada wanita hamil.
D.    PATOFISIOLOGI
      Setiap virus hepatitis menyebabkan kerusakan hati yang sama. Proses inflamasi diaktifkan di seluruh hati, dan hepatosit dihancurkan oleh sitokin sitotoksik dan sel-sel pembunuh alami kedua bagian dari proses inflamasi. Nekrosis seluler terjadi, jika peradangan mempengaruhi daerah periportal, kolestasis atau gangguan aliran empedu. Hati biasanya mampu memperbaiki dirinya sendiri dan mendapatkan kembali fungsi lengkap jika tidak ada komplikasi lain terjadi.
      Kompleks antigen - antibodi yang terbentuk dari interaksi sistem kekebalan tubuh dengan infeksi beredar di tubuh, yang mengaktifkan sistem komplemen. Orang merasa malaise , ruam , arthritis , demam dan angioedema dari aktivasi ini. Protiens abnormal juga diproduksi dalam darah, disebut cryogloblinemia. Orang mungkin juga mengembangkan vaskulitis dan glomerulonefritis.
      Terdapat tiga tahap selama kursus khas hepatitis akut :
1.      Fase prodromal
Fase ini dimulai sekitar 2 minggu setelah terpapar hepatitis. Infeksi ini mudah menular selama fase ini. Tanda-tanda dan gejala malaise, kelelahan, anoreksia, mual, muntah, batuk, hyperalgia, demam ringan. Tahap ini berakhir ketika penyakit kuning muncul.
2.      Fase icteric
Fase ini ditandai dengan urin gelap, penyakit kuning dan bangku tanah liat berwarna. Hati menjadi membesar, lembut dan halus dan orang merasa sakit hati sedang percussed. Hal ini dikenal sebagai fase sebenarnya penyakit. Ini dimulai 1-2 minggu setelah fase prodromal dan berlanjut selama 2-6 minggu.
3.      Fase pemulihan
Pemulihan dimulai ketika penyakit kuning mulai membersihkan. Hati tetap membesar dan lembut tetapi gejala lainnya mulai diminsh. Ini biasanya dimulai 6-8 minggu setelah terpapar. Hati mendapatkan kembali fungsi normal 2-12 minggu setelah penyakit kuning dimulai.
Pathway Patofisiologis Hepatitis
 
E.     PEMERIKSAAN DIAGNOSTIC
Salah satu pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk diagnosis hepatitis adalah pemeriksaan dengan USG (ultrasonografi). USG adalah alat yang digunakan untuk mengetahui adanya kelainan pada organ dalam. USG hati (liver) dilakukan jika pemeriksaan fisik kurang mendukung diagnosis, sedangkan keluhan klinis pasien dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan hal sebaliknya. Jadi pemeriksan USG dilakukan untuk memastikan diagnosis kelainan hati (liver).
Melalui pemeriksaan USG hati, dapat dilihat adanya pembesaran hati serta ada tidaknya sumbatan saluran empedu. Pembesaran hati (liver) dilihat dengan mengamati bagian tepi hati. Tepi hati (liver) yang tumpul menunjukkan adanya pembesaran hati (liver). Selain untuk melihat ada tidaknya fibrosis (jaringan ikat), USG juga dapat digunakan untuk melihat peradangan hati (liver) dengan mengamati densitas (kepadatan) hati (liver) yang lebih gelap.
USG hanya dapat melihat kelainan pada hepatitis kronis atau sirosis. Pada hepatitis akut atau pada proses awal penyakit yang belum mengakibatkan kerusakan jaringan, pemeriksaan USG tidak akurat. Pemeriksan USG juga dapat digunakan untuk mengungkap diagnosis lain yang terkait kelainan hati (liver), seperti tumor hati (liver), abses hati (liver), radang empedu, dan lain-lain.
Pemeriksaan penunjang:
1.      Tes darah
Hitung darah lengkap. LED-anemia, trombositosis dan kenaikan penanda menunjukkan adanya proses penyakit kronis. Biokimiawi hasil tes fungsi hati yang abnormal menunjukkan kemungkinan keganasan.
2.      Ultrasonografi
Sangat bermanfaat untuk pemeriksaan hati dan tumor yang berasal dari ginjal dan organ pervis.
3.      CT scan
Sangat bermanfaat untuk menentukan sifat massa retroperitoneal dan mungkin lebih sensitif dalam mengidenfitikasi pembesaran KGB intraabdomen.
4.      MRI
Banyak digunakan, khususnya bagi massa adrenal atau massa yang berasal dari tulang.

5.      Biopsi
Jika ada keraguan mengenai sifat suatu massa intraabdomen, biasanya bisa dilakukan aspirasi sel untuk pemeriksaan sitologi atau biopsi perkuatan dengan bantuan USG atau CT scan.
F.      KOMPLIKASI
Ensefalopati hepatic terjadi pada kegagalan hati berat yang disebabkan oleh akumulasi amonia serta metabolik toksik merupakan stadium lanjut ensefalopati hepatik. Kerusakan jaringan paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik.
Komplikasi hepatitis virus yang paling sering dijumpai adalah perjalanan penyakit yang memanjang hingga 4 sampai 8 bulan. Keadaan ini dikenal sebagai hepatitis kronis persisten. Sekitar 5 % dari pasien hepatitis virus akan mengalami kekambuhan setelah serangan awal yang dapat dihubungkan dengan alkohol atau aktivitas fisik yang berlebihan setelah hepatitis virus akut sejumlah kecil pasien akan mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif dimana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti (picce meal). Akhirnya satu komplikasi lanjut dari hepatitis yang cukup bermakna adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler.
Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit hepatitis adalah sebagai berikut :
a.     Kolesterol
b.    Perdarahan saluran cerna
c.    Gagal ginjal
d.    Gangguan Elektrolit
e.     Gangguan Pernafasan
f.     Hipoglikemia
g.     Demam, bakteri
h.    Gelisah
i.      Hipertensi
j.      Hipotensi
k.     Kematian / hypotesis portal
G.    ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HEPATITIS
Pengkajian
A.     Identitas
A.1 Identitas pasien
a.    Nama
b.   Jenis kelamin
c.    Umur
d.   Status perkawinan
e.    Pekerjaan
f.     Agama
g.    Pendidikan terakhir
h.    Alamat.
A.2 Identitas penanggungjawab
a.    Nama
b.   Jenis kelamin
c.    Umur
d.   Status perkawinan
e.    Pekerjaan
f.     Agama
g.    Pendidikan terakhir
h.    Alamat.
B.     Riwayat Kesehatan lalu
C.     Riwayat kesehatan sekarang
D.    Riwayat kesehatan keluarga
E.     Riwayat pengobatan
F.      Data sosial ekonomi
G.    Aktifitas sehari-hari
H.    Pemeriksaan Fisik
a.       Keadaan umum
b.      Tanda-tanda Vital : suhu tubuh, tekanan darah, nadi, pernafasan.
I.       Pemeriksaan Fisik
1.      Aktivitas istirahat: kelelahan
2.      Sirkulasi: brakikardia, ikterik pada sklera, kulit, membran mukosa.
3.      Eliminasi: urine gelap, diare/konstipasi (fases warna tanah liat).
4.      Makanan/cairan : hilang nafsu makan, penurunan berat badan, mual, muntah
5.      Nyeri        : kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran atas, mialgia, sakit kepala dan gatal.
6.      Pernafasan : tidak minat merokok  (perokok)
7.      Keamanan : adanya tranfusi darah/ produk darah, demam, eritema tak beraturan, ekserbasi jerawat, pembesaran nodus servikal posterior.
8.      Seksualitas : perilaku peningkatan resiko terpajan (contoh homoseksual aktif/seksual pada wanita)
9.      Penyuluhan/pembelajaran : adanya prosedur bedah dengan anestesia haloten, riwayat dketahui/mungkin terpajan pada virus, bakteri atau toksin.
J.      Data Penunjang
1.      Tes fungsi hati         : abnormal (4-10 x dari normal)
2.      AST SGOT ALT SGPT     : awalnya meningkat, dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun
3.      Alkali fosfatase                   : agak meningkat (kecuali ada kolestasis berat)
4.      Faces                                 : warna tanah liat, steatoria (penurunan fungsi hati)
5.      Albumin serum                    : menurun
6.      Gula darah                          : hiperglikemia/hipoglikemia (gangguan fungsi hati)
7.      Anti-HAV Igm                   : positif pada tipe A
8.      HbsAg                               : dapat positif (tipe B)atau negatif (tipe A)
9.      Masa protrombim               : mungkin memanjang (disfungsi hati)
10.  Bilirubin serum                    : diatas 2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml, prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler)
11.  Tes ekresi BSP                   : kadar darah meningkat
12.  Biopsi hati                          : menunjukkan diagnosis dan luasnya nekrosis.
13.  Skan hati                            : membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkim
14.  Urinalisa                             : peninggian kadar bilirubin; protein/hematuria dapat terjadi.

Diagnosa Keperawatan
1.      Intoleran aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
3.      Resiko terjadinya kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan output yang berlebihan.
4.      Harga diri rendah situasional  berhubungan denga perasaan negatif terhadap tubuh.
5.      Resiko terjadinya infeksi berhubungan dnegan pertahanan primer tidak adekuat.
6.      Resiko terjadinya integritas kulit/jaringan berhubungan dengan akumulasi gram empedu dalam jaringan.
7.      Kurang pengetahuan tentang perawatan penderita hepatitis berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi Keperawatan
1.      Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan kperawatan diharapkan klien mampu melakukan aktivitas kembali.
Kriteria hasil: menunjukkan teknik/perilaku yang memampukan kembali melakukan aktivitas. Melaporkan kemampuan meningkatkan toleransi aktifitas.
Rencana tindakan:
a.       Tindakan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung sesuai keperluan.
Rasionalisasi: meningkatkan istirahat dan ketenanngan serta menyediakan energi untuk kesembuhan.
b.      Ubah posisi dengan sering.
Rasionalisasi: meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan.
c.       Lakukan tugas dengan cepat dan sesuai toleransi
Rasionalisasi: memungkinkan periode tambahan istirahat tanpa gangguan.
d.      Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi; antu klien melakukan latihan rentang gerak sendi pasif/aktif.
Rasionalisasi: tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan, ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat.
e.       Dorong penggunaan teknik manajemen stres (relaksasi progresif, visualisasi, bimbingan imajinasi) dan berikan aktivitas hiburan (nonton tv, radio, membaca).
Rasionalisasi: meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kemali perhatian.
f.        Kolaborasi dengan pemberian antidot atau bantu dalam prosedur sesuai indikasi tergantung pada pemajanan.
Rasionalisasi: membuang agen penyebab pada hepatitis toksis dapat membatasi derajat kerusakan jaringan.
g.       Kolaborasi dengan pemberian obat sesuai indikasi
Rasionalisasi: membantu dalam memanajemen kebutuhan tidur
h.       Awasi kadar enzim hati
Rasionalisasi: membantu menekankan kadar aktifitas tepat, sebagai eningkatan prematur potensial resiko berulang.
2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil : menunjukkan perilaku pola hidup untuk meningkatkan / mempertahankan berat badan yang sesuai. Menunjukkan peningkatan berat badan, mencapai tujuan dengan nilai leboratorium ormal dan bebas tanda malnutrisi.
Rencana tindakan:
a.       Observasi tanda-tanda vital
Rasionalisasi : untuk mengetahui keadaan umum klien.
b.      Awasi pemasukkan diet/jumlah kalori. Berikan sedikit dengan frkuensi sering dan tawarkan makan pagi paling besar
Rasional: makan banyak sulit untuk mengatur bila pasien anoreksia. Anoreksia juga paling buruk selama siang hari, membuat masukan makanan yang paling sulit sore hari.
c.       Berikan perawatan mulut sebelum makan.
Rasional: meghilangkan rasa tak enak dapat meningkatkan nafsu makan.
d.      Anjurkan makan pada posisi duduk tegak
Rasional: menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan.
e.       Dorong pemasukan sari jeruk, minuman karbonat dan permen berat sepanjang hari.
Rasional: bahan ini merupakan bahan ekstra kalori yang dapat lebih mudah dicerna/toleran bila makanan lain tidak.
f.        Konsul pada ahli diet, dukungan tim nutrisi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan pasien, dengan masukan lemak dan protein sesuai toleransi.
Rasional: berguna untuk program diet untuk memenuhi kebutuhan individu. Metabolisme lemak bervariasi tergantung pada produksi dan pengeluaran empedu dan perlunya pembatasan masuknya lemak bila terjadi diare.

g.       Awasi glukosa darah
Rasional: hiper/hipoglikemia dapat terjadi, memerlukan perubahan diet/pemberian insulin.
h.       Beriakn obat sesuai indikasi
1.      Antiemetik, (contohnya metalopromide). rasionalnya : diberikan setengan jam sebelum makan, dapat menurunkan mual dan meningkatkan toleransi pada makanan.
2.      Antasida (milanta, titralac). Rasional: kerja pada asam gaster dapat menurunkan iritasi.
3.      Vitamin (B complex, C, tambahan diet lain sesuai indikasi). Rasional: memperbaiki kekurangan dan membantu proses penyembuhan.
4.      Terapi steroid (prednison). Rasionalnya : steroid dikontraindikasikan karena meningkatkan resiko berulang/terjadinya hepatitis kronis pada pasien denga hepatitis virus
i.         Berikan tambahan makanan/nutrisi dukungan total bila dibutuhkan.
Rasional: mungkin perlu utnuk memenuhi kebutuhan kalori bila tanda kekurangan terjadi/gejala gejala memanjang.
3.      Resiko terjadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan output berlebihan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan intake dan output cairan seimbang.
Kriteria hasil: tanda-tanda vital stabil, turgor kulit baik, pengisian kapiler nadi perifer kuat, dan hubungan urine individu sesuai.
Tindakan keparawat :
1.      Awasi masukan dan haluan, bandingkan dengan berat badan harian. Catat kehilangan melalui usus, contoh muntah dan diare.
Rasional: memberikan informasi tentang kebutuhan penggantian/efek terapi.
2.      Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
Rasional: indikator volume sirkulasi/perfusi
3.      Periksa asites atau embetukan adema. Ukur lingkar abdomen sesuai indikasi.
Rasional: menurunkan kemungkinan pendarahan ke dalam jaringan
4.      Biarkan pasien menggunakan lap katun/spon dan pembersih mulut untuk sikat gigi.
Rasional: menghindari trauma dan pendarahan gusi
5.      Observasi tanda pendarahan, contoh hematuria/melena, ekimosis.
Rasional: kadar protrombin menurun dan waktu koagulasi memanjang bila absorbsi vitamin K terganggu pada traktus GI dan sintesis protrombin menurun karena mempengaruhi hati.
6.      Awasi nilai laboratorium, contoh: Hb/Ht,Nat,Albumin, dan waktu pembekuan.
Rasional: menunjukkkan hidrasi dan mengidentifikasi reyensi natrium/ kadar protein yang dapat menimbulkan pembentukan edema.
7.      Erikan cairan IV (biasanya glukosa) elektrolit
Rasional : memberikan terapi cairan dan pengganti elektrolit.
4.      Harga diri rendah situasional berhubungan dengan perasaan negatif terhadap tubuh.
Tujuan                    : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi depresi, perilaku merusak diri.
Kriteria hasil           : klien mampu mengidentifikasi perasaaan dan metode untuk koping terhadap presepsi diri negatif
Rencana tindakan :
a.       Kontrak dengan pasien mengenai waktu untuk mendengar. Dorong diskusi perasaan/masalah.
Rasional : penyediaan waktu meningkatkan hubungan saling percaya
b.      Hindari membuat penilaian moral tentang hidup (penggunaan alkohol/praktek seksual).
Rasional : pasien merasa marah/kesal dan menyalahkan diri, penilaian dari orang lain akan merusak harga diri lebih lanjut.
c.       Diskusikan harapan penyembuhan
Rasional : periode penyembuhan mungkin lama (lebih dari 6 bulan)
d.      Kaji efek penyakit pada faktor ekonomi pasien/orang terdekat.
Rasional : masalah finansial dapat terjadi karena kehilangan peran fungsi pasien pada keluarga/penyembuhan lama.
e.       Tawarkan aktivitas senggang bedasarkan tingkat energi
Rasional : memampukan pasien untuk menggunakan waktu dan energi pada cara konstruktif yang meningkatkan harga diri dan meminimalkan cemas dan depresi.
5.      Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.
Tujuan                    : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil           : menunjukkan teknik, melakukan perubahan pola hidup untuk menghindari infeksi/transmisi ke orang lain.
Rencana tindakan :
a.       Lakukan teknik isolasi untuk infeksi enterik dan pernafasan
Rasional : mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain.
b.      Awasi / batasi pengunjung sesuai indikasi
Rasional : pasien terpajan terhadap proses infeksi, potensial, resiko komplikasi sekunder.
c.       Jelaskan prosedur isolasi pada pasien / orang terdekat
Rasional : pemahaman alasan untuk perlindungan diri mereka sendiri dan orang lain dapat mengurangi rasa isolasi dan stigma.
d.      Berikan informasi tentang adanya gama globulin, ISG, HBIG, vaksin hepatitis B melalui Departemen Kesehatan atau dokter keluarga.
Rasional : efektif dalam mencegah hepatitis virus pada orang yang terpajan, atau tergantung tipe hepatitis dan periode intubasi
6.      Resiko adanya kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan akumulasi garam empedu dalam jaringan.
Tujuan                    : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi kerusakan intergitas kulit/ jaringan.
Kriteria hasil           : menunjukkan jaringan / kulit utuh, bebas ekskoriasi. Melaporkan tak ada / penurunkan pruiritas / lecet.
Rencana tindakan :
a.       Gunakan air mandi dingin, hindari sabun alkali. Berikan minyak kalamin sesuai indikasi.
Rasional : mencegah kulit kering berlebihan. Memberikan penghilang gatal.
b.      Anjurkan menggunakan buku-buku jari untuk menggaruk bila tidak terkontrol.
Rasional : menurunkan potensial cedera kulit.
c.       Berikan massage pada waktu tidur.
Rasioanl : bermanfaat dalam meningkatkan tidur dengan menurunkan iritasi kulit.
d.      Hindari komentar tentang penilaian pasien.
Rasional : meminimalkan stress psikologis sehubungan dengan perubahan kulit.
7.      Kurang pengetahuan tentang perawatan penderita hepatitis berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan                    : setelah diberikan pendidikan kesehatan diharapkan klien memahami tentang perawatan dan kebutuhan pengobatan pasien hepatitis.
Kriteria hasil           : menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan. Melakukan perilaku dan berpartisipasi pada pengobatan.
Rencana tindakan :
a.       Kaji tingkat pemahaman proses penyakit, harapan, kemungkinan, pilihan pengobatan.
Rasional : mengidentifikasi area kekurangan dan pengetahuan / salah informasi dan memberikan kesempatan untuk memberikan informasi tambahan sesuia keperluan.
b.      Berikan informasi khusus tentang pencegahan / penularan penyakit.
Rasional : kebutuhan / rekomendasi akan bervariasi karena tipe hepatitis (agen penyebab) dan situasi individu.
c.       Identifikasi cara untuk mempertahankan fungsi usus biasanya.
Rasional : perubahan pada pemasukan makanan / cairan dapat mengakibatkan konstipasi.
d.      Diskusikan efek samping bahaya minum obat yang dijual bebas.
Rasional : beberapa obat merupakan toksik untuk hati, dan menyebabkan efek kumulatif toksik / hepatitis kronis.
e.       Kaji ulang perlunya menghindari alkohol swlama 6-12 bulan minimal atau lebih lama sesuai toleransi individu.
Rasional : meningkatkan iritasi hepatik dan mempengaruhi pemulihan.













DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Hepatitis. Diakses pada 10 November 2014, dari: http://who.int/topics/hepatitis/en/
Anonim. Penyakit Hepatits. Diakses pada 8 November 2014, dari: http://penyakithepatitis.org/jenis-jenis-virus-hepatitis/
Anonim. Hepatitis A, Hepatitis B, Hepatitis C, Hepatitis D, Hepatitis E, Hepatitis G. Diakses pada 8 November 2014, dari: http://obat-hepatitis.com/hepatitis-a-hepatitis-b-hepatitis-c-hepatitis-d-hepatitis-e-hepatitis-g/
Anonim. Komplikasi Sirosis hati. Diakses pada 9 November 2014, dari: http://sirosishati.com/komplikasi-sirosis-hati/
Behrman, Kligman & Arvin. (1996). Ilmu kesehatan Anak. Jakarta: EGC.
Bet, C.L. dan Sowden, L.A. (2004). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC.
Davey, P. (2006). At a Glance Medicine. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Horn dan James, (editor) Green, Chris W. (2005). Hepatitis Virus dan HIV. -: Spiritia
Ongky. (2013). Hepatitis. Diakses pada 8 November 2014, dari: http://ongky-materiaskep.blogspot.com/2013/03/hepatitis.html

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar