Penyandang cacat adalah setiap orang
yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental yang dapat mengganggu atau
merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara layak.
Penyandang
cacat ada 3 jenis yaitu Penyandang Cacat Fisik, Penyandang Cacat Mental dan
Penyandang Cacat Fisik dan Mental. Dan pada masing-masing jenis itu diberikan DISABILITAS PADA PASIEN
Disabilitas
yaitu meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas dan pembatasan partisipasi.
Gangguan sendiri merupakan sebuah masalah pada fungsi tubuh atau strukturnya.
Pengertian dari disabilitas sendiri yaitu sebuah fenomena kompleks yang
mencerminkan interaksi antara ciri dari tubuh seseorang dan ciri dari
masyarakat tempat dia tinggal. klasifikasi sesuai dengan jenis tersebut. Pada
Penyandang Cacat Fisik ada beberapa klasifikasinya seperti tuna netra, tuna
rungu, tuna wicara, tuna daksa, tuna laras. Sedangkan untuk Cacat Mental seperti Tunagrahita , dan
untuk Cacat Fisik dan Mental biasa disebut dengan Tunaganda atau Cacat Ganda.
TUNA
NETRA
Tunanetra adalah suatu
kondisi seseorang yang mengalami gagguan atau hambatan dalam indra
penglihatannya. Berdasar tingkat gangguannya Tunanetra dibagi menjadi dua yaitu
buta total (total blind) dan yang masih memiliki sisa penglihatan ( Low
Visioan) . Tunanetra memiliki alat bantu khusus yaitu tongkat yang berwarna
putih dengan garis merah horizontal . Dengan memiliki kekurangan itu penyandang
tunanetra berusaha untuk memaksimalkan fungsi indra-indra yang lain seperti
indra peraba, penciuman , pendengaran agar para penyandang tunanetra ini
setidaknya bisa memiliki kemampuan yang sama dengan orang normal lainnya.
Komunikasi yang dilakukan harus mengoptimalkan fungsi
pendengaran dan sentuhan karena fungsi penglihatan sedapat mungkin harus digantikan
oleh informasi yang dapat ditransfer melalui indra yang lain.
Berikut adalah teknik-teknik yang diperhatikan selama
berkomunikasi dengan klien yang mengalami gangguan penglihatan:
1. Sedapat mungkin ambil posisi yang
dapat dilihat klien bila ia mengalami kebutaan parsial atau sampaikan secara
verbal keberadaan / kehadiran kita ketika berada didekatnya
- Identifikasi diri kita dengan menyebutkan nama (dan peran) kita
- Berbicara menggunakan nada suara normal karena kondisi klien tidak memungkinkanya menerima pesan verbal secara visual. Nada suara kita memegang peranan besar dan bermakna bagi klien
- Terangkan alasan kita menyentuh atau mengucapkan kata – kata sebelum melakukan sentuhan pada klien
- Informasikan kepada klien ketika kita akan meninggalkanya / memutus komunikasi
- Orientasikan klien dengan suara – suara yang terdengar disekitarnya
- Orientasikan klien pada lingkungannya bila klien dipindah ke lingkungan / ruangan yang baru.
Untuk membantu tunanetra
beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan
Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra
mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat
khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium).
Dalam
melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien dengan gangguan sensori
penglihatan, perawat dituntut untuk menjadi komunikator yang baik sehingga
terjalin hubungan terapeutik yang efektif antara perawat dan klien, untuk itu
syarat yang harus dimiliki oleh perawat dalam berkomunikasi dengan pasien
dengan gangguan sensori penglihatan adalah :
1. Adanya
kesiapan artinya
pesan atau informasi, cara penyampaian, dan saluarannya harus dipersiapkan
terlebih dahulu secara matang.
- Kesungguhan artinya apapun ujud dari pesan atau informasi tersebut tetap harus disampaikan secara sungguh-sungguh atau serius.
- Ketulusan artinya sebelum individu memberikan informasi atau pesan kepada indiviu lain pemberi informasi harus merasa yakin bahwa apa yang disampaikan itu merupakan sesuatu yang baik dan memang perlu serta berguna untuk sipasien.
- Kepercayaan diri artinya jika perawat mempunyai kepercayaan diri maka hal ini akan sangat berpengaruh pada cara penyampaiannya kepada pasien.
- Ketenangan artinya sebaik apapun dan sejelek apapun yang akan disampaikan, perawat harus bersifat tenang, tidak emosi maupun memancing emosi pasien, karena dengan adanya ketenangan maka iinformasi akan lebih jelas baik dan lancar.
- Keramahan artinya bahwa keramahan ini merupakan kunci sukses dari kegiatan komunikasi, karena dengan keramahan yang tulus tanpa dibuat-buat akan menimbulkan perasaan tenang, senang dan aman bagi penerima.
- Kesederhanaan artinya di dalam penyampaian informasi, sebaiknya dibuat sederhana baik bahasa, pengungkapan dan penyampaiannya. Meskipun informasi itu panjang dan rumit akan tetapi kalau diberikan secara sederhana, berurutan dan jelas maka akan memberikan kejelasan informasi dengan baik.
Agar
komunikasi dengan pasien dengan gangguan sensori penglihatan dapat berjalan
lancar dan mencapai sasarannya, maka perlu juga diperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Dalam berkomunikasi pertimbangkan
isi dan nada suara
- Periksa lingkungan fisik
- Perlu adanya ide yang jelas sebelum berkomunikasi
- Komunikasikan pesan secara singkat
- Komunikasikan hal-hal yang berharga saja.
- Dalam merencanakan komunikas, berknsultasilah dengan pihk lain agar memperoleh dukungan.
Tiap klien tidak sama oleh karena itu diperlukan penerapan
tehnik berkomunikasi yang berbeda pula, diantaranya adalah :
1. Mendengarkan dengan penuh perhatian
Berusaha mendengarkan klien menyampaikan pesan non-verbal
bahwa perawat perhatian terhadap kebutuhan dan masalah klien. Mendengarkan
dengan penuh perhatian merupakan upaya untuk mengerti seluruh pesan verbal dan
non-verbal yang sedang dikomunikasikan. Ketrampilan mendengarkan sepenuh
perhatian adalah dengan:
· Pandang klien ketika sedang bicara
· Pertahankan kontak mata yang
memancarkan keinginan untuk mendengarkan
· Sikap tubuh yang menunjukkan
perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan
· Hindarkan gerakan yang tidak perlu
· Anggukan kepala jika klien
membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik
· Condongkan tubuh ke arah lawan
bicara.
2. Menunjukkan penerimaan
Menerima tidak berarti menyetujui. Menerima berarti bersedia
untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau tidak setuju.
Berikut ini menunjukkan sikap perawat yang menerima :
· Mendengarkan tanpa memutuskan
pembicaraan
· Memberikan umpan balik verbal yang
menapakkan pengertian
· Memastikan bahwa isyarat non-verbal
cocok dengan komunikasi verbal
· Menghindarkan untuk berdebat,
mengekspresikan keraguan, atau mencoba untuk mengubah pikiran klien.
3. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan
Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi
yang spesifik mengenai klien. Paling baik jika pertanyaan dikaitkan dengan
topik yang dibicarakan dan gunakan kata-kata dalam konteks sosial budaya klien.
Selama pengkajian ajukan pertanyaan secara berurutan.
4. Mengulang ucapan klien dengan
menggunakan kata-kata sendiri.
Dengan mengulang kembali ucapan klien, perawat memberikan
umpan balik sehingga klien mengetahui bahwa pesannya dimengerti dan
mengharapkan komunikasi berlanjut.
5. Klarifikasi
Apabila terjadi kesalah pahaman, perawat perlu menghentikan
pembicaraan untuk mengklarifikasi dengan menyamakan pengertian, karena
informasi sangat penting dalam memberikan pelayanan keperawatan. Agar pesan
dapat sampai dengan benar, perawat perlu memberikan contoh yang konkrit dan
mudah dimengerti klien.
6. Memfokuskan
Metode ini dilakukan dengan tujuan membatasi bahan
pembicaraan sehingga lebih spesifik dan dimengerti. Perawat tidak seharusnya
memutus pembicaraan klien ketika menyampaikan masalah yang penting, kecuali
jika pembicaraan berlanjut tanpa informasi yang baru.
7. Menawarkan informasi
Tambahan informasi ini memungkinkan penghayatan yang lebih
baik bagi klien terhadap keadaanya. Memberikan tambahan informasi merupakan
pendidikan kesehatan bagi klien. Selain ini akan menambah rasa percaya klien
terhadap perawat. Apabila ada informasi yang ditutupi oleh dokter, perawat
perlu mengklarifikasi alasannya. Perawat tidak boleh memberikan nasehat kepada
klien ketika memberikan informasi, tetapi memfasilitasi klien untuk membuat
keputusan.
8. Diam
Diam memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk
mengorganisir pikirannya. Penggunaan metode diam memrlukan ketrampilan dan
ketetapan waktu, jika tidak maka akan menimbulkan perasaan tidak enak. Diam
memungkinkan klien untuk berkomunikasi terhadap dirinya sendiri, mengorganisir
pikirannya, dan memproses informasi. Diam terutama berguna pada saat klien
harus mengambil keputusan .
9. Meringkas
Meringkas adalah pengulangan ide utama yang telah
dikomunikasikan secara singkat. Metode ini bermanfaat untuk membantu topik yang
telah dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan berikutnya. Meringkas pembicaraan
membantu perawat mengulang aspek penting dalam interaksinya, sehingga dapat
melanjutkan pembicaraan dengan topik yang berkaitan.
10.
Memberikan penghargaan
Memberi
salam pada klien dengan menyebut namanya, menunjukkan kesadaran tentang
perubahan yang terjadi menghargai klien sebagai manusia seutuhnya yang
mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu.
11.
Menawarkan diri
Klien mungkin belum siap untuk berkomunikasi secara verbal
dengan orang lain atau klien tidak mampu untuk membuat dirinya dimengerti.
Seringkali perawat hanya menawarkan kehadirannya, rasa tertarik, tehnik
komunikasi ini harus dilakukan tanpa pamrih.
12.
Menganjurkan klien unutk menguraikan persepsinya
Apabila perawat ingin mengerti klien, maka ia harus melihat
segala sesungguhnya dari perspektif klien. Klien harus merasa bebas untuk
menguraikan persepsinya kepada perawat. Ketika menceritakan pengalamannya,
perawat harus waspada akan timbulnya gejala ansietas.
TUNA
RUNGU DAN TUNA WICARA
Tunawicara
merupakan gangguan verbal pada seseorang sehinga mengalami kesulitan dalam
bekomunkasi melalui suara. Sedangkan Tunarungu adalah suatu feomena kehilangan
kemampua pendengaran yang mengakibtakan seseorang tidak dapat menangkap
berbagai rangsangan pendengaran. Tunawicara sering dikaitkan juga dengan
tunarungu karena penyandang tunarungu akan kesulitan dalam berkomunikasi. Van
Uden (1971) menyatakan bahwa penyandang tuna rungu bukan saja tuna rungu
tetapi juga tuna bahasa. Sedangkan Leigh (1994) mengemukakan bahwa
terhadap anak tuna rungu, orang akan langsung berpikir tentang ketidakmampuan
mereka dalam berkomunikasi secara lisan (berbicara), padahal masalah utamanya
bukan pada ketidakmampuan dalam berbicara melainkan pada akibat dari keadaan
ketunarunguan tersebut terhadap perkembangan bahasa.
Orang yang mengalami
kerusakan pendengaran baik yang tuna rungu maupun sulit mendengar kepekaan
terhadap bunyi akan hilang sama sekali atau berkurang. Tak peduli seberapa
parah pendengaran yang hilang, setiap orang yang mempunyai masalah dengan
pendengaran akan menghadapi hambatan dalam berkomunikasi sehingga dapat
mengganggu upaya pengajaran pasien. Hilangnya kemampuan untuk mendengar
menimbulkan masalah komunikasi yang sangat nyata karena orang tuli atau kurang
mendengar mungkin juga tidak mampu berbicara atau memiliki kemampuan verbal
yang terbatas dan seringkali miskin kosa kata.
Mereka yang tuna rungu
memiliki ketrampilan dan kebutuhan yang berbeda-beda tergantung pada jenis
ketuliannya dan berapa lama mereka kehilangan indra pendengarannya itu. Bagi
mereka yang menderita tuna rungu sejak lahir, belajar suatu bahasa mungkin
tidak ada gunanya bagi mereka. Sehingga
mereka tidak bisa berbicara dengan jelas
untuk dapat dipahami orang lain. Kemungkinan besar model komunikasi
mereka adalah dengan bahasa isyarat atau membaca gerak bibir. Jika ketulian
terjadi setelah seseorang menguasai suatu bahasa, bicara orang tersebut masih
dapat cukup dipahami, dia pun cukup mampu untuk membaca,menulis, dan membaca
gerak bibir.
Tuna rungu dan penderita kerusakan
pendengaran, seperti juga orang normal. Akan membutuhkan perawatan kesehatan
dan informasi tentang pendidikan kesehatan. Meskipun sebagai perawat pendidik
akan menemukan banyak perbedaan ada satu hal yang sama, mereka
selalu mengandalkan indra yang lain untuk mendapatkan informasi, terutama indra
penglihatan. Ada beberapa cara untuk berkomunikasi dengan tuna rungu salah satu dari hal-hal pertama yang
dilakukan adalah meminta klien untuk mengidentifikasi cara berkomunikasi yang
ia sukai. Bahasa isyarat,informasi tertulis, dan alat peraga merupakan beberapa
contoh.
Berikut
ini beberapa model komunikasi yang disarankan sebagai jalan untuk mengurangi
hambatan dalam berkomunikasi:
1. Bahasa
isyaratà bagi
kebanyakan tuna rungu, bahasa isyarat seringkali menjadi bentuk komunikasi yang
lebih disukai. Jika anda tidak menguasai
ASL, anda perlu meminta bantuan seseorang penerjemah profesional.
2. Membaca
bibirÃ
namun hanya sedikit pengidap tunarungu
saja yang bisa membaca bibir.
3. Materi
tulisÃ
informasi tertulis barangkali merupakan cara berkomunikasi yang paling
diandalkan
4. Verbalasi
oleh klienÃ
kadang-kadang pasien tuna rungu lebih memilih untuk berkomunikasi dengan cara
berbicara, terutama jika anda sudah mempunyai hubungan baik dengan mereka dan
sudah saling percaya. Seringkali nada dan infleksi suara mereka akan berbeda
dari cara berbicara kebanyakan orang sehingga anda harus menyediakan waktu
untuk mendengarkan dengan cermat. Dengarkan tanpa menginterupsi sampai anda
terbiasa dengan intonasi suara dan irama wicara mereka yang khas. Jika masih
sulit memahami, coba tuliskan apa yang anda dengar , dengan demikian anda
mungkin terbantu dalam menangkap inti dari pesan.
5. Memperkeras
bunyiÃ
bagi pasien yang kehilangan pendengaran tetapi tidak tuli total alat bantu
dengar bisa bermanfaat.cara lain untuk memperkeras bunyi adalah dengan
menangkupkan tangan di dekat telinga klien atau menggunakan stetoskop terbalik,
maksudnya stetoskop dipasang di telinga pasien kemudian anda berbicara di
corong instrumen itu.
Jika
seseorang tidak bisa berbicara/bisu dan
bisa mendengar, kemungkinan besar mereka dapat memahami dengan baik apa
yang dikatakan oleh perawat. Mereka bisa
merspon dan menulis dengan baik. Namun jika seseorang yang mengidap tuna wicara
maupun tuna rungu perawat dapat melakukan komunikasi seperti yang ada di atas.
TUNA
DAKSA
Pengertian
Tuna Daksa adalah bahasa kasar Indo nya adalah cacat, dan
bahasa halus adalah Tuna Daksa (alias cacat tubuh). Definisi Tuna Daksa
Menurut situs resmi Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, Tuna Daksa berasal
dari kata “Tuna“ yang berarti rugi,
kurang dan “daksa“
berarti tubuh.
Ciri-ciri anak tuna daksa :
1. Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh
2. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna,tidak lentur/tidak terkendali)
3. Terdapat bagian angggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebihh kecil dari biasanya
4. Terdapat cacat pada alat gerak
5. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam
6. Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal
7. Hiperaktif/tidak dapat tenang
1. Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh
2. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna,tidak lentur/tidak terkendali)
3. Terdapat bagian angggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebihh kecil dari biasanya
4. Terdapat cacat pada alat gerak
5. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam
6. Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal
7. Hiperaktif/tidak dapat tenang
Tuna
daksa sering disebut juga cacat tubuh, cacat fisik dan cacat ortopedi. Tuna
daksa berasal dari kata “tuna” yang berarti rugi atau kurang dan “daksa” yang
berarti tubuh. Tunadaksa adalah anak yang tidak memilki tubuh dengan sempurna.
Sedangkan istilah cacat tubuh dan cacat fisik dimaksudkan untuk menyebut anak
cacat pada anggota tubuhnya, bukan cacat inderanya. Selanjutnya cacat ortopedi
terjemahan dari bahasa Inggris “orthopedically handicapped”. Ortopedic
mempunyai arti hubungan dengan otot, tulang dan persendian. Dengan demikian
cacat ortopedi kelainannya terletak pada aspek otot, tulang dan persendian atau
dapat juga merupakan akibat adanya kelainan yang terletak pada pusat pengatur
sistem otot, tulang dan persendian.
Pada dasarnya kelainan pada klien
tunadaksa dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu:
a. Kelainan
pada sistem serebal (cerebral system)
b. Kelainan
pada sistem otot dan rangka (musculoskeletal
system)
Penyandang tunadaksa
mayoritas memiliki kecacatan fisik sehingga mengalami gangguan pada: koordinasi
gerak, persepsi dan kognisi disamping adanya kerusakan syaraf tertentu.
Sehingga, dalam memberikan layanan memerlukan modifikasi dan adaptasi yang
diklasifikasikan dalam tiga kategori umum, yaitu kerusakan syaraf, kerusakan
tulang, dan anak dengan gangguan kesehatan lainnya.
Kerusakan syaraf
disebabkan karena pertumbuhan sel syaraf yang kurang atau adanya luka pada
sistem saraf pusat. Kelainan syaraf utama menyebabkan adanya celebral palsy,
epilepsi, spina bifida, dan kerusakan otak lainnya.
Cerebral palsy,
merupakan kelainan diakibatkan adanya kesulitan gerak berasal dari disfungsi
otak. Ada juga kelainan gerak atau palsy yang diakibatkan bukan karena
disfungsi otak, tetapi disebabkan poliomyelitis disebut dengan spinal palsy,
atau organ palsy diakibatkan oleh distrophy muscular (kerusakan otot). Karena
adanya disfungsi otak, maka penyandang cerebral palsy menyebabkan mempunyai
kesulitan dalam bahasa, bicara, menulis, emosi, belajar, dan gangguan-gangguan
psikologis.
Cerebral palsy
diklasifikasikan sebagai kelainan yang berbeda dengan kelainan neuromuscular,
maka cerebral palsy meliputi kelainan: spastic, athetoid, ataxsia, tremor dan rigid.
Pada kasus-kasus yang
ringan anak spastic bisa mengembangkan keseimbangan tangannya untuk sedikit
mengendalikan gaya berjalan yang kikuk. Pada kasus-kasus sedang, anak spastic
dapat memegang lengan untuk diarahkan ke tubuhnya, membengkokkan sikunya dengan
membengkokkan tangannya, dengan kaki yang diputar secara hati-hati pada lutut,
dan menghasilkan jalan gaya gunting. Sedangkan pada kasus-kasus berat mereka
memilki pengendalian yang lemah pada tubuhnya dan tidak mampu duduk, berdiri,
atau berjalan tanpa alat penguat, tongkat penompang, alat bantu jalan, dan
sebagainya.
Ciri utama penderita
ataxsia, gerakkannya kurang kuat, berjalan dengan langkah yang panjang dan
mudah jatuh karena sering kehilangan perasaan keseimbangan, terkadang mata
tidak terkoordinasi serta gerakan mata tertegun-tegun (nystagmus). Pada tremor dan rigid umumnya mempunyai gangguan pada
keseimbangan tubuh, disebabkan karena adanya kelainan pada postural dan akibat
hambatan otot yang berlawanan.
Ketidakmampuan fisik.
Apabila kehilangan kemampuan motorik dan sensorik terjadi selama masa
kanak-kanak, diagnosis segera dapat terlihat. Tantangannya terletak pada
membantu anak dan orang tua melewati periode syok dan berduka serta melalui
fase penerimaan dan integrasi kembali. Lakukan rehabilitasi dini (mis.
menggunakan prostetik eksernitas, belajar membaca brailler, belajar membaca
bibit). Menyadari bahwa rehabilitasi fisik biasanya menuntut penyesuaian
psikologis.
Jika penyebab
ketidakmampuan adalah kecelakaan, hindari menyimpulkan bahwa orang tua atau
anak bertanggung jawab atas cedera
tersebut, tetapi berikan kesempatan kepada mereka untuk mengungkapkan perasaan
bersalahnya. Dorong orang tua atau anak untuk mengungkapkan perasaannya.
Terkadang orang tua
mengomunikasikan kekhawatiran karena anak tidak dapat mengungkapkan ansietas
mereka. Jika anak tidak dapat atau tidak akan bicara, mereka dapat menunjukan
perasaan mereka. Mereka dapat diberi mainan untuk mengungkapkan ancaman dan
emosi yang penuh stres. Perawat mungkin menemukan bahwa respon anak terbaik
adalah dengan menggambar atau bercerita. Boneka tangan dapat juga digunakan.
Dengan menunjukan pada orang tua tentang cara menggunakan teknik ini, perawat
juga membantu mereka mempelajari cara-cara berkomunikasi dengan anak mereka.
Untuk anak yang lebih muda dengan cacat serius yang ekstrem dan/atau maladapsi
persisten, evaluasi dan terapi psikiatrik mungkin diperlukan.
Salah satu intervensi
terpenting adalah mengurangi perasaan anak yang merasa berbeda dan menormalkan
kehidupan anak sebisa mungkin. Perawat harus membantu keluarga untuk mengkaji
rutinitas harian anak sebagai petunjuk praktik-praktik yang normal. Pedoman
untuk meningkatkan normalisasi terdiri dari lima tahapan, yaitu: persiapan,
partisipasi, berbagi, kontrol dan penghargaan.
a. Persiapan.
Mempersiapkan anak lebih jauh untuk menghadapi perubahan-perubahan yang dapat
terjadi akibat ketidakmampuan.
b. Partisipasi.
Libatkan anak dalam berbagai keputusan sebanyak mungkin, terutama hal-hal yang
berhubungan dengan regimen perawatan anak.
c. Berbagi.
Biarkan anggota keluarga dan teman sebayanya mengambil bagian dalam regimen
perawatan kapanpun jika memungkinkan.
d. Kontrol.
Identifikasi beberapa area tempat anak dapat memiliki kontrol sehingga perasaan
tidak yakin, pasif, dan tidak berdaya akan berkurang.
e. Penghargaan.
Terapkan peraturan keluarga yang sama pada anak yang menderita penyakit kronis
atau ketidakmampuan seperti anak yang sehat.
Membiarkan anak
mengungkapkan kemarahan, isolasi, takut akan penolakan, perasaan kesedihan, dan
kesepian. Mereka membutuhkan penguatan positif atas setiap kepatuhan dan setiap
bukti perbaikan. Apa pun yang dapat meningkatkan daya tarik dan berperan dalam
memberikan citra diri yang positif dilakukan, seperti tata rias untuk
menyembunyikan luka, pakaian yang menyembunyikan prostetik, rambut palsu untuk
menutupi deformitas.
Tuna grahita ialah
istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual
di bawah rata-rata. Istilah lain untuk tuna grahita ialah sebutan untuk anak dengan
hendaya atau penurunan kemampuan atau berkurangnya kemampuan dalam segi
kekuatan, nilai, kualitas, dan kuantitas.
Pengertian lain
mengenai tuna grahita ialah cacat ganda. Seseorang yang mempunyai kelainan
mental, atau tingkah laku akibat kecerdasan yang terganggu. Istilah cacat ganda
yang digunakan karena adanya cacat mental yang dibarengi dengan cacat fisik. Misalnya
cacat intelegensi yang mereka alami disertai dengan keterbelakangan penglihatan
(cacat mata). Ada juga yang disertai dengan gangguan pendengaran.
TUNA
GRAHITA
Tunagrahita adalah keadaaan
keterbelakangan mental, keadaan ini dikenal juga retardasi mental (mental
retardation).Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah,
sebagai berikut:
1. Lemah pikiran (Feeble
Minded)
2. Terbelakang mental (Mentally
Retarded)
3. Bodoh atau dungu (Idiot)
4. Pandir (Imbecile)
5. Tolol (Moron)
6. Oligofrenia (Oligophrenia)
7. Mampu Didik (Educable)
8. Mampu Latih (Trainable)
9. Ketergantungan penuh (Totally
Dependent) atau butuh rawat
10. Mental Subnormal
11. Defisit Mental
12. Defisit Kognitif
13. Cacat Mental
14. Defisiensi Mental
15. Gangguan Intelektual.
Peran
perawat pada tuna grahita dan tuna ganda umumnya sama, yaitu dengan melakukan
komunikasi terapeutik dan juga dengan pendekatan personal pada pasien-pasien
tersebut. Dengan memberikan rasa nyaman pada setiap pasien akan tercapai
sehingga pasien tidak pernah merasa bahwa dia tidak diperdulikan oleh orang
lain.
TUNA GANDA
Tuna ganda adalah
anak yang memiliki kombinasi kelainan (baik dua jenis kelainan atau lebih) yang
menyebabkan adanya masalah pendidikan yang serius, sehingga dia tidak hanya dapat
diatasi dengan suatu program pendidikan khusus untuk satu kelainan saja.
Melainkan harus didekati dengan variasi program pendidikan sesuai kelainan yang
dimiliki
tuna ganda biasanya menunjukkan fenomena-fenomena perilaku di antaranya:
tuna ganda biasanya menunjukkan fenomena-fenomena perilaku di antaranya:
- Kurangnya komunikasi atau samasekali tidak dapat berkomunikasi.
- Perkembangan motorik dan fisiknya terlambat.
- Seringkali menunjukkan perilaku yang aneh dan tidak bertujuan
- Kurang dalam keterampilan menolong diri sendiri
- Jarang berperilaku dan berinteraksi yang sifatnya konstruktif
- Kecenderungan lupa akan keterampilan yang sudah dikuasai
- Memiliki masalah dalam menggeneralisasikan keterampilan dari suatu situasi kesituasi lainnya.
Klasifikasi tunaganda:
- Kelainan utamanya tuna grahita.
Gabungan dapat
berwujud CP,tunarungu,tunalaras, dan tunanetra.
- Kelainan utamanya tunarungu
Gabungannya dapat
tunagrahita atau tunanetra. Gabungan dengan tunanetra inilah yang dipandang
paling berat cara menanganinya.
- Kelainan utamanya tunanetra
Gabungannya dapat
berwujud tunalaras, tunarungu, dan kelainan yang lain.
- Kelainan utamanya tunadaksa
Gabungannyadapatberwujudtunagrahita,
tunanetra, tunarungu, gayaemosi, dankelainan lain.
- Kelainanutamanyatunalaras
Gabungannya dapat
berwujud autism dan pendengaran
- Kombinasi kelainan lain.
Penyebab tunaganda
Penyebab anak tunaganda disebabkan oleh faktor yang variatif, yang dapat terjadi pada saat sebelum kelainan, saat kelahiran, dan atau setelah kelahiran.
Penyebab anak tunaganda disebabkan oleh faktor yang variatif, yang dapat terjadi pada saat sebelum kelainan, saat kelahiran, dan atau setelah kelahiran.
- Faktor prenatal
Ketidak normalan
kromosom komplikasi-komplikasi pada anak dalam kandungan ketidakcocokan Rh
infeksi pada ibu,kekurangan gizi ibu yang sedang, serta terlalu banyak mengkonsumsi
alcohol dan obat.
- Faktor natal
Kelahiran
premature kekurangan oksigen pada saat kelahiran luka pada otak kelahiran
- Faktor postnatal
Kepala megalami
kecelakaan kendaraan, jatuh, dan mendapat pukulan atau siksaan.
- Nutrisi yang salah
Anak tidak dirawat
dengan baik, keracunan makanan atau penyakit tertentu yang sama, sehingga dapat
berpengaruh terhadap otak.
Ciri khas :
a.
Memiliki ketunaan lebih dari satu jenis. Misal: tuna netra
dan tuna grahita, tuna netra dan tuna rungu-wicara, tuna netra dan tuna daksa
dan tuna grahita dll.
b.
Ketidakmampuan anak akan semakin parah atau semakin banyak
bila tidak cepat mandapatkan batuan. Hal ini disebabkan kegandaannya yang tidak
cepat mendapatkan batuan.
c.
Sulit untuk mengadakan evaluasi karena keragaman
kegandannya.
d.
Membutuhkan instruksi atau pemberitahuan yang sangat
terperinci.
e.
Tidak menyamaratakan pendidikan tuna ganda yang satu dengan
yang lain walau mempunyai kegandaan yang sama.
Tuna
ganda adalah
a)
Seseorang dengan 2 hambatan masing-masing memerlukan layanan
pendidikan khusus.
b)
Seseorang dengan hambatan-hambatan ganda memerlukan layanan
teknologi.
c)
Seseorang dengan hambatan-hambatan ganda memerlukan
modifikasi metode secara khusus.
1 komentar:
Itu sumbernya dari mana ya, terimakasih
Posting Komentar