Managemen Stoma pada
Kolostomi
Stoma berasal dari
bahasa yunani yang berarti ‘mulut’ atau ‘lubang’. Stoma dibuat lewat prosedur
pembedahan (ostomi) yang menghubungkan bagian berlumen ke permukaan kulit
dengan tujuan untuk dekompresi, diversi dan evakuasi.
Pembuatan dan managemen
stoma gastrointestinal pada anak-anak telah terus berkembang sejak berhasilnya
kolostomi yang pertama sekitar tahun 1800-an. Semakin baiknya teknik
pembedahan, pengetahuan yang lebih mendetail tentang konsekuensi fisiologi dan
psikologi stoma intestinal, dan kemajuan teknik perawatan stoma memberikan
kontribusi yang sangat penting dalam melakukan ostomi yang rasional oleh
ahli bedah anak secara khusus dan secara umum penerimaan di dunia medis dan
masyarakat. Tapi bagaimanapun merawat seorang anak dengan multipel stoma
abdominal bisa sangat mengintimidasi sekaligus menantang, khususnya ketika
anatominya begitu tidak jelas dan abnormalitas cairan dan elektrolit sangat
sulit untuk dikontrol.
Beberapa perbedaan
antara stoma pada orang dewasa daan anak-anak telah diketahui. Kebanyakan stoma
pada orang dewasa biasanya di buat pada ileum distal atau kolon untuk
penanganan inflamatory bowel disease, keganasan dan trauma; stoma yang
lebih proksimal jarang dibuat. Berbeda dengan stoma pada bayi dan anak-anak
yang bisa dibuat di mana saja sepanjang traktus gastrointestinalis karena
begitu bervariasinya masalah kongenital dan didapat yang mengharuskan dibuatnya
stoma. Juga efek dari sebuah stoma pada tumbuh kembang fisik dan emosional merupakan
pertimbangan yang harus dipikirkan pada anak.
Walaupun telah ada
kemajuan besar dalam formasi stoma dan managemennya, komplikasi awal dan
setelahnya pada umumnya bisa terjadi. Untungnya kebanyakan stoma pediatrik
hanya untuk sementara, dan dengan begitu komplikasi yang diakibatkannya dapat
dihilangkan begitu stoma ditutup. Pengetahuan tentang konstruksi dan fisiologi
enterostomal sangat penting untuk penanganan yang optimal pada anak-anak ini.
ETIOLOGI
Pada beberapa penyakit,
dibutuhkan sebuah stoma atau tabung/slang pada usus. Stoma yang dibuat pada
usus halus untuk pasien dengan perforasi intestinal atau iskemia di mana sebuah
anastomosis dipertimbangkan tidak aman. Ileostomi proksimal sering dibuat untuk
melindungi anastomosis distal setelah pembedahan proktokolektomi pada penyakit familial
polyposis atau kolitis ulseratif. Demikian pula kolostomi dugunakan sebelum
dan sesudah dilakukan “pull-through” untuk atresia ani atau Hirschprung
disease, walaupun banyak ahli bedah sekarang melakukan ”pull-through”
tanpa colostomi baik sebelum maupun sesudahnya. Selang sekostomi atau
appendikosekostomi Malone digunakan untuk irigasi usus antegrade pada anak-anak
dengan konstipasi dan dan beberapa kondisi medis lainnya. Anak-anak dengan luka
bakar yang luas di daerah perineum sering kali membutuhkan kolostomi agar luka
bisa sembuh dengan kemungkinan infeksi yang diperkecil.
Pasien-pasien dengan keadaan berikut ini membutuhkan stoma:
Ø
Neonatus
-
necrotizing enrterocolitis
-
Hirschprung disease
-
Meconeum ileus
-
Imperforate anus
-
Complex hindgut anomalies
-
Intestinal malrotation
-
Intestinal volvulus
-
Intestinal atresia, stenosis, and webs
-
Esophageal atresia with or without tracheoesophageal fistula
-
Trauma
Ø
Anak-anak dan dewasa
-
Trauma
-
Inflamatory bowel disease
-
Intestinal malrotation
-
Intestinal volvulus
-
Gardner syndrome and other intestinal polyposis syndrome
-
Typhlitis
-
Intestinal pseudo-obstruction
PATOFISIOLOGI
Gambaran
patofisiologinya tergantung pada proses penyakit yang mengindikasikan dibuatnya
sebuah stoma.
KLINIS
Gambaran klinis tergantung pada diagnosis yang spesifik dan pada umur pasien.
INDIKASI
Stoma di gunakan pada kondisi di mana dibutuhkan diversi, dekompresi atau
akses ke lumen usus.
TEKNIK
Skenario klinik dan
anatomi yang relevan dapat mempengaruhi teknik yang digunakan untuk
membuat stoma dan lokasi stoma.
Beberapa tipe stoma
intestinal telah dikenal. Dalam hal ini skenario klinik sanngat sering
menentukan segmen usus mana yang dipilih, tipe stoma yang harus dibuat, dan
lokasi eksternalnya. Pada anak-anak, kebanyakan dibuat end atau loop
ostomy, walaupun sangat mungkin untuk beberapa variasi yang lain untuk
konstruksi ini. Roux-en-Y construction dapat juga dilakukan untuk
selang stoma seperti feeding jejunostomy.
Untuk end stoma,
usus dipotong, dan ujung proksimal dikeluarkan lewat dinding abdomen. Bagian
distal yang nonfungsional dapat dikeluarkan ujungnya lewat lubang di dinding
abdomen yang sama (double barrel stoma), dapat juga lewat lubang yang
berbeda (mucous fistula), atau bagian ini bisa ditutup dan ditinggalkan
dalam rongga peritoneum (prosedur Hartman). Segmen distal yang ditinggalkan di
dalam rongga peritoneum ini kebanyakan oleh para ahli bedah dijahitkan ke
dinding abdomen mendekati end ostoma atau menjahitnya dengan benang nonabsorbable
untuk memfasilitasi identifikasi bila stoma akan ditutup.
Loop stoma dibuat dengan
mematangkan satu segmen usus di atas sebuah tabung tanpa memotongnya secra
komplit. Loop stoma membuat dekompresi yang sangat baik dan
menguntungkan karena prosedur pembedahan yang lebih sederhana di mana pada
kebanyakan kasus tidak memerlukan laparatomi terpisah. Walaupun demikian, loop
stoma tidak secara komplit mengalirkan isi lumen karena isi di proksimal
dapat menglir masuk ke distal. Jadi loop stoma dibuat dengan resiko
menimbulkan problem dengan feces dibagian distalnya.
Sebuah stoma dekompresi dibuat pada pasien dengan kondisi yang tidak stabil
dengan membuka batas antimesenterik tanpa memobilisasi seluruh loop usus.
Stoma dapat juga dibuat
dalam asosiasi dengan sebuah anastomosis untuk proksimal atau di distal untuk
irigasi (Bishop Koop dan Santuli stoma). Stoma-stoma ini secara inisial
didesain untuk menangani bayi dengan meconium ileus namun juga telah
diadaptassi untuk banyak kegunaan lainnya. Pada anak-anak dengan necrotizing
enterocolitis, multiple intestinal atresia, atau midgut volvulus di
mana anastomosis yang multipel bisa tidak aman dan diinginkan preservasi
panjang intestinal, satu atau lebih segmen usus yang diskontinu bisa
dieksternalisasikan.
Pada umumnya stoma
mudah dirawat bila tidak meradang bersama kulit di sekitarnya. Mengeluarkan
sebagian usus yang kemudian dijahitkan ke kulit (teknik Brooke) menghasilkan
suatu jaringan yang disebut spigot conformation yang menahan perangkat
stoma dan mencegah serositis. Eversi tidak selalu memungkinkan pada neonatus (karena
pasokan darahnya masih belum adekuat) dan pada situasi-situasi di mana usus
mengalami edema. Pada kasus-kasus ini usus ditinggalkan dan menonjol ke luar
kulit tanpa eversi, dan stoma dengan sendirinya menjadi matang sesudah segera
mukosa bertumbuh secepatnya menutupi permukaan serosa yang terekspos.
LOKASI STOMA
Stoma intestinal dapat
dibuat di leher, dada, atau abdomen. Abdomen merupakan tempat yang sangat
sering sejauh ini. Enterostomi daapt dibuat pada dinding abdomen melalui
laparatomi atau pada tempat berbeda yang lain. Secara teori kerugian pembuatan
stoma melalui prosedur laparatomi yang luas adalah infeksi luka operasi,
dehisensi, dan eviserasi.
Bila secra klinis bisa
dilakukan, posisi primer juga posis alternatifnya sudah harus ditetapkan dan
ditandai sebelum pembedahan. Lokasi ideal stoma abdomen pada anak-anak yang
lebih besar dan remaja sama dengan pada orang dewasa. Stoma dibuat agak jauh
dari tempat insisi, memlewati bagian tengah muskulus rektus, dan jauh dari
lpatan kulit (lipat paha dan flank), prominensia tulang (arcus costa,
spina iliaca) dan imbilicus.
Lokasi stoma pada bayi
dan neonatus mengikuti prinsip yang sama jika memungkinkan; walaupun harus
dipikirkan ukuran dinding abdomen yang kecil pada bayi dan mesenterium yang
pendek dari bagian usus yang dipilih untuk membuat stoma sering membatasi.
Untuk stoma temporer pada bayi, usus bisa dibawa ke luar langsung atau melalui
umbilikus. Hal ini akan memudahkan untuk meletakkan perangkat stoma dan secara
kosmetik akan meninggalkan skar yang tidak terlalu kentara ketika stoma
ditutup.
KONTRAINDIKASI
Tidak ada spesifik
kontra indikasi untuk menggunakan intestinal stoma yang dikenal selain kontra
indikasi pembedahan secara umum.
LABORATORIUM
Investigasi laboratorium tergantung pada indikasi pembuatan stoma.
RADIOLOGI
Gambaran radiologi dibuat sebagai bagian dari evaluasi spesifik terhadap
proses penyakit dan dapat dilakukan dengan membuat
-
X-Foto polos abdomen
-
Contrast enema examination
-
CT-scanning
-
USG
PROSEDUR DIAGNOSIS
Biopsi intestinal; pada
beberapa kasus di mana kolostomi atau ileostomi dilakukan untuk mengatasi
obstruksi intestinal yang tak jelas etiologinya, biopsi mukosa bisa sangat
membantu untuk menyingkirkan kemungkinan Hirschprung disease.
PENANGANAN
Sebuah stoma dibuat
untuk menangani beberapa penyakit bedah di mana tidak ada lagi alternatif
pengobatan lain yang bisa dilakukan.
Pembedahan yang
dilakukan tergantung pada penyakit spesifik tang ditangani. Perlukaan pada pada
rektum dan sfinkter susah diperbaiki dalam kondisi biasa. Perlukaan kecil
mungkin bisa sembuh secara primer, tetapi pada yang lebih besar harus dilakukan
laparatomi eksplorasi untuk menyingkirkan kemungkinan perlukaan di abdomen dan
dalam hal ini kolostomi diperlukan, kemudian dilakukan debrideman.
Sfinkter ani bisa direkonstruksi berikutnya.
Stoma dapat dibuat baik
pada kondisi darurat maupun elektif. Dokter, terapis enterostomal maupun
perawat harus menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang ostomi ini. Persiapan
demikian bisa mengurangi kecemasan dan membuat perawatan postoperasi nantinya
lebih mudah. Bila semuanya berjalan baik, usus sudah harus dipersiapkan secara
mekanis dan antibiotik profilaksis; namun bisa diabaikan pada kondisi darurat.
KOMPLIKASI
-
Iritasi kulit (kimiawi, mekanis, alergi)
-
Obstruksi intestinal (adhesi/perlekatan, volvulus, internal hernia
-
Infeksi
-
Prolapsus
-
Retraksi
-
Striktura
-
Fistula
-
Ulserasi
-
Leakage (kebocoran)
-
Perdarahan
-
Hernia parastomal
-
Cairan dan electrolite imbalance
-
Trauma psikologis
PERAWATAN
-
Kaji lokasi dan tipe kolostomi yang dibentuk. Lokassi stoma dadal indikator
letak lokasi pemtongan usus dan prediktor tipe drainasi fekal.
-
Kaji tampilanstoma dan kondisi kulit disekitarnya dengan rutin. Pengkajian
stoma dan kondisi kulit penting di awal periode post operasi, kalau-kalau
terjadi komplikasi untuk segera ditangani.
-
Posisi kantong penampung drain di ats stoma. Biasanya drainase dapat berisi
lebih banyak mukus dan cairan serosanguineous dari pada material fekal.
Mulainya usus berfungsi, fekal akan menjadi normal. Konsistensi drainase tergantung
pada stoma di bagian lokasi usus.
-
Kolostomi desending atu sigmoid dapat ditangani dengan mengunakan kantong
drainable atai irigasi. Pola eliminasi normal dari kolostomi sigmoid hampir
sama dengan pola eliminasi normal pasien sebelum operasi. Banyak pasien akan
buang air besar tiap hari dan tidak teru-menerus menggunakan kantong atau
sistem drainase. Untuk lebih aman gunakan kantong transparan.
-
Bila perlu, berikan kantong ostomi untuk pasien double-barrel atau
kolostomi loop, irigasi stoma di bagian proksimal. Pengkajian digital/
dengan jari pada usus langsung dari stoma dapat menolong membedakan yang mana
stoma proksimal. Kadang-kadang dapat diirigasi hanya untuk membersihkan
terutama reanastomosa.
-
Pengosongan kantong drainable atau penggantian kantong kolostomi bila
diperlukan atau telah penuh 1/3 bagian kantong. Bila kantong kepenuhan,
beratnya dapat merusak kantong dan perekat dan menyebabkan kebocoran.
-
Pasien dengan kolostomi asending atau transverse tidak dilakukan irigasi. Hanya
sebagian kolon berfungsi, dan drainase fekal umumnya cair dan terus-menerus.
-
Berikan perawatan stoma dan kulit pada pasien. Perawatan kulit dan stoma yang
baik pada pasien penting untuk mempertahankan integritas kulit dan fungsi untuk
pertahanan terhadap infeksi.
-
Gunakan bahan-bahan dempul, seperti perekat stoma (stomadhesive) atau “
karaya paste” dan “wafer” (bubuk obat) yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan
kantong ostomi. Ini kadang-kadang penting bagi pasien dengan kolostomi loop.
Tantangan bagi pasien dengan kolostomi loop tranverse adalah untuk menjaga
keamanan kantong stoma di atas jembatan plastik.
-
Sebuah lubang pada kantong ostomi akan menyalurkan flatus keluar. Lubang ini
dapat di tutup dengan band aid dan dibuka hanya bila pasien mandi untuk
kontrol bau. Kantong ostomi dapt menggembung ke luar, merusak integritas kulit,
bila gas terkumpul terlalu banyak.
Jenis – jenis kolostomi
Kolostomi dibuat berdasarkan indikasi dan tujuan tertentu, sehingga
jenisnya ada beberapa macam tergantung dari kebutuhan pasien. Kolostomi dapat
dibuat secara permanen maupun sementara.
* Kolostomi Permanen
Pembuatan kolostomi permanen biasanya dilakukan apabila pasien
sudah tidak memungkinkan untuk defekasi secara normal karena adanya keganasan,
perlengketan, atau pengangkatan kolon sigmoid atau rectum sehingga tidak
memungkinkan feses melalui anus. Kolostomi permanen biasanya berupa kolostomi
single barrel ( dengan satu ujung lubang)
* Kolostomi temporer/ sementara
Pembuatan kolostomi biasanya untuk tujuan dekompresi kolon atau
untuk mengalirkan feses sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti
semula dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini mempunyai dua ujung
lubang yang dikeluarkan melalui abdomen yang disebut kolostomi double barrel.
Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut STOMA. Pada minggu pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan sehingga stoma tampak membesar.
Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan abdomen berupa mukosa kemerahan yang disebut STOMA. Pada minggu pertama post kolostomi biasanya masih terjadi pembengkakan sehingga stoma tampak membesar.
STOMA SITTING
Tindakan
menentukan lokasi penempatan stoma
KOMPLIKASI
COLOSTOMY
Komplikasi
yang sering terjadi pada pasien dengan colostomy adalah sebagai berikut :
a. Penempatan letak stoma yang tidak tepat
a. Penempatan letak stoma yang tidak tepat
Dimana
disini mengakibatkan pemakaian stoma bag menjadi sulit akan cenderung menjadi
bocor sehingga merusak kulit, ini akan menghalangi aktivitas sehari-hari.
b.
Nekrosis dan retraksi stoma
Vaskularisasi
yang tidak memadai pada stoma akan segera mengakibatkan iskemia atau nekrosis
segera setelah operasi, perkembangan nekrosis harus segera dievaluasi dan
ditentukan perluasannya. Bila nekrosis hanya terjadi pada bagian permukaan
serosa tidak perlu dilakukan tindakan segera, mungkin jaringan yang nekrotik
akan mengelupas atau perlu debridement. Bila nekrosis meluas hingga dibawah
fasia maka perlu segera dilakukan laparatomy untuk mencegah terjadinya
peritonitis.
Mobilisasi
yang tidak memadai dari mesentrium atau fiksasi yang jelek dari stoma ke kulit
atau fasia mengakibatkan retraksi dari stoma, biasanya pada masa awal periode
operasi. Retraksi dibawah fasia memerlukan tindakan segera untuk mencegah
peritonitis. Retraksi diatas fasia tidak memerlukan tindakan intervensi segera.
Ini biasanya akibat pemasangan stoma bag / appliance yang jelek.
c.
Kerusakan kulit
Pengotoran
cairan produk stoma dikulit sekitar stoma mengakibatkan kulit maserasi dan
rusak. Hal ini lebih sering terjadi pada ileostomi dimana produk stomanya cair
dan mengandung zat proteolitik dari enzim pancreas, hal ini bisa pula terjadi
pada colostomy di proksimal dari pleksura lienalis atau pada kolostomi yang
diare. Biasanya terjadi oleh karena pemasangan stoma bag / appliance yang jelek
sehingga bocor. Kerusakan kulit mungkin juga terjadi oleh karena folikulitis
peristomal, dermatitis kontak / alergi. Produk ileostomi yang tinggi, penyakit
crohn’s yang kambuh, obstruksi parsial usus halus, sepsis intra abdominal
stenosis soma dan gastro enteritis juga berperan terhadap kejadian kerusakan
kulit.
Ekskoriasi
kulit harus ditangani dengan pemasangan stoma bag / appliance yang baik untuk
mencegah kerusakan kulit lebih lanjut. Dianjurkan untuk konsultasi pada stomal
terapis khususnya pada kerusakan kulit yang berat. Bila konstruksi stoma yang
tidak baik dan perawatan enterostomal yang intensif tidak membaik maka
diperlukan tindakan pembedahan untuk merekonstruksi stoma tersebut. Perhatian
harus diberikan pada ileostomi dengan produk tinggi dengan menggunakan
obat-obat anti diare, manipulasi dengan diet serta penggantian cairan dan
elektrolit.
d.
Striktura stoma
Walaupun
striktura stoma merupakan komplikasi yang terjadi kemudian, ini biasanya
terjadi karena perkembangan serositis segera setelah periode operasi. Paling
sering disebabkan oleh nekrosis dan retraksi yang mengakibatkan lepasnya
jahitan mukokutaneus sehingga serosa menjadi terpapar dan akibatnya terjadi
serositis. Dilatasi stoma biasanya tidak efektif, diperlukan tindakan eksisi
kulit dan skar dan menjahit ulang mukosa intestinal ke kulit untuk membuat
lubang stoma yang memadai.
e.
Prolap stoma
Biasanya
terjadi pada saat konstruksi stoma usus dalam keadaan dilatasi atau edema.
Lubang stoma dibuat terlalu besar dan setelah itu usus mengecil menjadi normal
kembali ukurannya. Bila kasusnya colostomy yang temporer maka diperlukan
tindakan definitif menyambung usus. Bilamana stomanya permanen maka konversi
loop colostomy ke end colostomy dengan mucous fistule pada tempat yang baru
sangat membantu. Tetapi pada prolaps kolostomi yang berlebihan perlu
didiskusikan reseksi pada bagian yang berlebihan tersebut dan merekonstruksi
stomanya.
f.
Hernia para stomal
Hernia
parastomal merupakan problem paling sering yang memerlukan tindakan koreksi
pembedahan berkenaan dengan konstruksi kolostomi. Komplikasi ini terjadi
mungkin karena pembuatan lubang stoma yang terlalu besar atau peletakkan stoma
diluar muskulus rektus. Indikasi tindakan koreksinya adalah adanya gejala
obstruksi, nyeri para stomal, kesulitan perawatan stoma atau pemasangan stoma
bag / appliance. Relokasi stoma dan penutupan defek hernia adalah tindakan yang
paling efektif.
2 komentar:
:h
:h
Posting Komentar